![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) – Mangrove merupakan sumber daya alam yang dapat dipulihkan (renewable resources atau flow resources), yang mempunyai manfaat ganda yakni ekonomis dan ekologis.
Yakni untuk kayu bakar, arang, kayu konstruksi dan hasil bukan kayu. Serta berfungsi sebagai pelindungan baik lingkungan ekosistem daratan maupun lautan, sebagai habitat berbagai jenis fauna. Serta sebagai proteksi dari abrasi atau erosi, gelombang atau angin kencang.
Hal itu terungkap saat program studi perikanan (PSP) Fakultas Perikanan Universitas Pancasakti (FP UPS) Tegal mengadakan kegiatan Pengenalan Mangrove dan Pelatihan Pembibitan Mangrove bagi mahasiswa dan Pramuka Satuan Karya (Saka) Bahari Kwartir Cabang Kota Tegal, di Bumi Perkemahan Kota Tegal, Minggu 13 Juni 2010.
Menurutnya, Ketua tim pengabdian kepada masyarakat prodi PSP FP UPS Ir Sri Mulyani MSi bahwa luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 75% dari total mangrove di Asia Tenggara, atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia. Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalah memiliki keragaman jenis yang tertinggi di dunia. Sedangkan penyebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayah pesisir Sumatera, Kalimantan dan Papua.
Kini luas penyebaran mangrove terus mengalami penurunan dari 4,25 juta hektar pada tahun 1982 menjadi sekitar 3,24 juta hektar pada tahun 1987, dan tersisa seluas 2,50 juta hektar pada tahun 1993.
Keadaan ini diperparah dengan adanya fenomena alam yaitu Global Warming dimana salah satu akibatnya adalah kenaikan paras muka laut. Pantai utara Jawa merupakan daerah paling kritis terkena dampak kenaikan paras muka laut akibat perubahan iklim. Daerah kritis ini terbentang dari Pantai Dadap di Tangerang, Kali Baru di Jakarta Utara, Kabupaten Subang dan Indramayu di Jawa Barat, hingga Brebes, Tegal Pekalongan, Semarang dan Demak, Jawa Tengah.
Disebutkan, ekosistem hutan mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman jenis yang tertinggi di dunia, seluruhnya tercatat 89 jenis. Beberapa jenis pohon yang banyak dijumpai di wilayah pesisir Indonesia adalah Bakau (Rhizophora. spp.), Api-api (Avicennia spp.), Pedada (Sonneratia spp.), Tanjang (Bruguiera spp.), Nyirih (Xylocarpus spp.), Tenger (Ceriops spp) dan, Buta-buta (Exoecaria spp.).
Di Kota Tegal sendiri, kerusakan lingkungan akibat abrasi mengakibatkan beberapa wilayah pesisir di Kota Tegal mengalami kerusakan. Sehingga upaya mitigasi bencana secara sistematis untuk mengantisipasi kerentanan wilayah tersebut di atas perlu dilakukan. Salah satu upaya adalah dengan melakukan penanaman pohon mangrove.
“Melalui kegiatan Pengenalan Mangrove dan Pelatihan Pembibitan Mangrove, generasi muda diharapkan dapat memberikan penyadaran akan arti pentingnya hutan mangrove,” pungkasnya.