Pengrajin Jajanan Tradisional Desa Jipang Butuh Modal
ZM-Zaenal Muttaqin
Jumat, 11/06/2010, 18:36:00 WIB

Pengrajin jajan tradisonal Desa Jipang, Bantarkawung, menunjukkan jajanan tradisonal hasil produksinya (FT: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Bantarkawung) - Puluhan pengrajin jajanan tradisional di Desa Jipang, Kecamatan Bantartkawung, Brebes, mengaku kekurangan modal. Sehingga mereka kesulitan untuk mengembangkan usahanya.

Salah satu pengrajin jajanan, Amelia (42) menuturkan, di Desa Jipang ada sekitar 20 pengrajin jajanan tradisional seperti tenteng jahe, tenteng kacang, tenteng mijen, angling, minda atau keripik tales dan lain-lainnya. Jajanan tersebut cukup laku di pasaran, baik di desa Jipang sendiri maupun di luar daerah, seperti Bumiayu dan lainnya. "Jajanan dari Jipang selalu laku keras di pasaran desa dan juga Bumiayu," ujarnya kepada PanturaNews, Jumat 11 Juni 2010 sore.

Dikatakan, sekalipun jajanan itu laku, pengrajin belum bisa mengembangkan usahanya lebih besar lagi. Kecuali hanya menjadi usaha rumahan yang dikerjakan oleh keluarga. "Ya dibuat sendiri dipasarkan sendiri," tutur Amelia.

Usaha jajanan itu sebenarnya bisa dikembangkan, tetapi umumnya pengrajin terbentur oleh masalah permodalan. Untuk bahan baku mudah didapat di desa, tapi untuk bahan tambahan seperti gula dan lainnya harus beli ke Bumiayu, yang agak jauh dan butuh transportasi.

"Kalau beli di warung desa harganya lebih tinggi sehingga keuntungan tipis. Tapi kalau beli ke Bumiayu harus banyak dan butuh modal besar," terang Amelia.

Sampai saat ini belum ada pihak yang menawari pinjaman modal bagi pengrajin jajanan, padahal itu sangat dibutuhkan. Para pengrajin sendiri sepertinya enggan meminjam modal ke Bank. "Inginnya ada yang pinjami modal, kalau ke Bank itu repot dan harus pakai agunan lagi," ucap Amelia.

Sementara itu, salah satu tokoh muda Desa Jipang, Estu Susilo mengatakan, sekalipun di desanya banyak pengrajin jajanan tapi masih bersifat usaha rumahan atau home industri yang belum terkoordinir dalam satu wadah atau kelompok. "Kalau ada kelompok pengrajin, sebenarnya bisa lebih dikembangkan," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Jipang, Ahmad Riyadi SAg ketika dihubungi mengakui di desanya banyak warga yang menjadi pengrajin jajanan tradisional. Adanya kesulitan permodalan tersebut juga diakui. Untuk mengembangkan potensi usaha jajanan itu, beberapa waktu lalu digelar pameran jajanan tradisional selama satu minggu. "Tahun kemarin kami menggelar pameran atau pasar malam jajanan yang produksi Desa Jipang," katanya.

Kegiatan pameran dimaksudkan untuk pengembangan usaha pembuatan jajan tradisional, sekaligus mengundang pihak-pihak yang mungkin bisa membantu untuk memberikan bantuan permodalan. "Kalau ada pasar malam nantinya banyak yang tahu di Jipang ada produksi jajanan tradisional yang enak dan laku dipasaran," tandas Riyadi.