![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Brebes, Kamis (17/12), di pendopo setempat menggelar pertunjukan wayang golek dan wayang kulit, dengan cerita Dewaruci. Kedua pagelaran wayang itu dimainkan oleh dalang Sudarso dari Desa Banjarharjo dan Drs. Muntohar, guru SMA Negeri 1 Bulakamba, Kabupaten Brebes yang disaksikan ratusan pelajar SD-SMA.
Kepala Disparbudpora, Drs Kustoro mengatakan, tujuan diselenggarakannya pagelaran wayang dalam rangka mencari formula baru hinga mencapai titik temu dan menjadikan wayang sebagai hiburan yang laku jual, enak ditonton dan juga dinikmati oleh kawula muda.
Menurutnya, kondisi wayang dalam kancah hiburan masyarakat serta sebagai media entertainment penyelengaraan masih mahal. Sehingga pentas wayang jarang dijumpai. “Di samping itu generasi penerus enggan untuk mengenalnya dan ini sangat disayangkan,” ujar Kustoro.
Menanggapi hal tersebut, menurut pengamat seni dan budaya Pantura Brebes, Drs. Atmo Tan Sidik mengatakan hal itu merupakan ada imperialisasi secara berkelanjutan yang dalam konteknya bahwa seni tradisional pada era sekarang ini nyaris ditinggalkan.
Untuk itu, pemerintah harus mencoba untuk melestarikan seni tradisioanal. “Jangan sampai seni tradsional wayang ini nantinya seperti kasus reog dan batik yang diklaim oleh Malaysia,” ujar Atmo.
Lebih lanjut ujarnya, diharapkan wayang golek sebagai salah satu hasil daya cipta para leluhur yang sarat dengan nilai-nilai luhur, mampu untuk beraktualisasi dengan perkembangan modernisasi, tanpa kehilangan ruh filosofinya, sehingga dapat diterima dan menjadi kebanggaan generasi muda, sekaligus mampu memperkaya khasanah budaya bangsa.