Bupati Bujuk Sahuri untuk Berobat
-Laporan Zaenal Muttaqin
Rabu, 22/03/2017, 06:03:53 WIB

Sahuri hanya bisa tergeletak di kamarnya akibat sakit yang dideritanya (Foto: zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) -Bupati Brebes Jawa Tengah, Hj Idza Priyanti SE menyemangati, Sahuri (46), warga Dukuh Keputihan, Desa Adisana, Kecamatan Bumiayu, untuk mau berobat. Sahuri yang kondisinya sangat memperihatinkan akibat penyakitnya tersebut nampak mengiyakan ajakan orang nomor satu di Kabupaten Brebes tersebut.

"Tadi saya melihat langsung kondisinya dan sepertinya masih ada semangat untuk berobat," katanya usai meninjau kondisi Sahuri, Selasa 21 Maret 2017.

Pada kesempatan itu, Bupati sempat memberikan sejumlah bantuan keuangan untuk meringankan keluarganya yang selalu merawat Sahuri. Bupati juga meminta kepada keluarganya untuk dapat membujuk Sahuri dan menguatkan mentalnya untuk mau berobat ke Rumah Sakit. Bupati juga menyampaikan agar tidak memikirkan masalah biaya, karena Pemkab akan membantunya yang penting bersedia untuk berobat.

"Bagaimanapun penyakit harus diobati dan Sahuri harus mau dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pemeriksaan penyakitnya dan dilakukan pengobatan," kata Idza yang menengok Sahuri dengan didampingi Staf Ahli Bidang Kesra, Dra Laely Mulyani MPd dan Kabag Penanggulangan Kemiskinan, Ratnawati SSos.

Perlu diketahui, Sahuri menderita sakit sudah 20 tahun lamanya. Akibat penyakit yang dideritanya Sahuri tidak dapat beraktivitas lagi, bahkan empat bulan terakhir hanya tergeletak tak berdaya, karena tak mampu digerakkan anggota tubuhnya.

Sahuri tergeletak rumah orang tuanya, di ruang belakang dengan kamar yang cukup sempit. Kedua orang tuanya, yakni Muslim (67) dengan Hujemah (65), yang kondisinya sangat terbatas telah merawat Sahuri. Meski sudah sempat berumah tangga, namun saat ini hanya orang tuanya yang merawat Sahuri karena telah bercerai dengan istrinya.

"Sudah bercerai dengan istrinya yang sekarang sudah menikah lagi dan tinggal di Jakarta, jadi Sahuri kami yang merawat," ungkap Muslim.

Sebelum menderita sakit Sahuri dapat beraktifitas normal sebagaimana warga lainnya. Bahkan sempat merantau ke Jakarta untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Awalnya Sahuri mengeluh badannya terasa sakit, terutama pada bagian persendian. Sehingga dikira terkena penyakit rematik, tapi kondisinya semakin parah.

Beberapa kali pengobatan di Rumah Sakit sempat dilakukan sebagai upaya penyembuhan, namun tidak kunjung sembuh. Bahkan perkembangannya, tubuh Sahuri semakin kurus. Bagitu juga dengan bagian kedua kaki yang tidak bisa bergerak, akibat lutut kaku dengan posisi tertekuk.

"Sudah empat bulan ini kondisinya tambah parah, dia pasti berteriak kesakitan jika ada yang menyentuh tubuhnya. Karena itu pula, baju yang dipakai belum dilepas sejak empat bulan. Karena dia selalu kesakitan," tutur Muslim.

Melihat kondisi Sahuri tersebut, kedua orang tuanya yang hanya sebagai buruh tani ini, mengaku sangat bingung atas kondisi yang dialami anaknya tersebut. Selain tidak memiliki fasilitas kesehatan, seperti BPJS maupun Jamkesmas. Selain itu Sahuri juga selalu menolak jika akan dibawa untuk berobat dengan alasan sakit saat tubuhnya disentuh atau bergerak.

"Kami bingung mau apa lagi, sebetulnya keluarga dan Sahuri sendiri masih ingin kesembuhan. Tapi kondisinya seperti itu, sampai-sampai KTP saja dia tidak punya karena kondisi ini," keluh Muslim.

Akibat lama terbaring, bagian punggung Sahuri melepuh dan mengalami luka. Kondisi itu semakin memperparah penderitaan yang dialami Sahuri.

"Semula di atas tempat dipan kayu, tapi roboh karena sering digunakan untuk memandikannya. Sejak itu, dia memilih untuk berada dilantai," kata Muslim lagi.

Atas kondisi tersebut, sejumlah pegiat sosial Aliansi Masyarakat Peduli Bencana Indonesia (Ampibi) Bumiayu telah memberi dukungan kepada Sahuri dan keluarganya dengan melihat langsung kondisinya.

"Perlu ada perhatian semua pihak untuk dapat membantu, keluarga maupun pasien yang saat ini tidak tertangani secara medis," jelas Agung Widodo, Kordinator Ampibi.

Bentuk solidaritas juga dilakukan oleh warga Desa Adisana, dengan melakukan penggalangan dana secara swadaya untuk dapat meringankan keluarga Sahuri.

"Bagaimana pun juga mereka adalah warga kami, karenanya kita berupaya membantu sebagai bentuk kepedulian," kata Ayu Nia, warga Adisana.

Komarudin, selaku Kades Adisana, membenarkan kondisi yang dialami salah satu warganya tersebut. Namun demikian, pihaknya merasa kesulitan mengingat Sahuri sendiri menolak untuk dibawa ke Rumah Sakit dengan alasan sakit.

"Kita sudah coba membujuk bersama keluarga agar bisa mendapat penanganan medis, tapi dia menolak dengan alasan sakit jika harus beranjak dari tempat tidur," kata Kades.