Harga Bawang Daun Anjlog, Petani Malas Merawat
-Laporan Zaenal Muttaqin
Kamis, 09/03/2017, 03:48:03 WIB

Petani Desa Dawuhan Sirampog sedang menimbang hasil panen tanaman bawang daun (Foto: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Petani bawang daun di lereng Gunung Slamet, khususnya di Desa Dawuhan, Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah keluhkan kerugian, menyusul harga hanya Rp 700 perkilogram di tingkat petani. Akibat anjlognya tersebut, petani mengaku malas merawat tanamannya.

Abdul Kholik (49), petani setempat menjelaskan, jatuhnya harga bawang daun sudah berjalan dua pekan ini. Bandar dari luar daerah rata-rata menghargai bawang Rp 700 perkilogram, padahal jauh sebelumnya harganya mencapai Rp 12.000 perkilogram.

“Harga tersebut ketika bawang daun masih di lahan atau belum dipanen,“ jelasnya.

Dengan merosotnya harga tersebut ia dan petani lainya merugi puluhan juta rupiah. Jangankan keuntungan, modal saja tidak kembali.

"Kini nasib petani bawang daun semakin terpuruk,“ tandasnya.

Para petani mengaku sangat terpukul dengan ambruknya harga bawang daun. Terlebih musim hujan ini, seringkali banyak hama dan untuk perawatan membutuhkan banyak biaya.

“Petani tidak tahu persis entah sampai kapan harga daun bawang stabil lagi,“ ujar Kepala Desa Dawuhan, Iwan Budi S.

Iwan menjelaskan, jumlah petani daun bawang di Desa Dawuhan hampir 70 persen dari seluruh petani yang ada di desanya. Mereka mengalami nasib sama dalam penjualan hasil pertaniannya.

“Petani bingung juga, bawang daun mau dipanen harga rendah, tidak dipanen daun bawang bisa busuk,“ ucapnya.

Olehkarena itu, ia berharap pemerintah supaya segera menstabilkan kembali harga bawang supaya petani bergairah. "Pada bulan ini petani bawang daun merugi,“ katanya.

Akibat merosotnya harga bawang daun juga berdampak pada semangat petani dalam bekerja merawat tanamannya. Karena harga jatuh dan rugi, petani malas untuk melakukan perawatantanaman bawang daunnya.

"Untuk merawat membutuhkan biaya, mulai dari pemupukan, pengobatan dan menyiangi lahan lainnya bayak yang tidak dilakukan petani, kawatir kerugiannya akan makin besar," pungkas Iwan.