![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) - Hari Raya Imlek sebentar lagi, tepatnya tanggal 28 Januari 2017. Pernak-pernik Imlek pun sudah tampak di berbagai tempat keramaian atau tempat ibadah. Lantas apa saja yang khas ketika hari raya Imlek tiba?
Mungkin di benak kita langsung terucap Dodol Keranjang, salah satu kuliner khas yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua kalangan. Dodol Keranjang atau bisa disebut juga dengan Kue Keranjang, dibuat menggunakan beras ketan dan gula pasir yang dicetak ke dalam wadah yang berbentuk keranjang. Bahan utamanya adalah tepung ketan dan gula pasir, dengan komposisi 1:1.
Saat PanturaNews bertandang ke industri rumahan pembuatan Dodol Keranjang Sido Makmur di Jalan Belimbing Nomor 84, Keluarahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Jawa Tengah, industri rumahan (home industri) milik Mindayani Wirjono (76), tak tampak sebuah pabrik besar layaknya industri makanan pada umumnya. Hanya rumah biasa dengan puluhan pegawai terampil yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
“Yah ini usaha musiman, kalau tidak imlek ya nganggur,” ujar Mindayani.
Mindayani mengaku sudah 30 tahun mengelola usaha pembuatan dodol keranjang dan rencananya akan diturunkan kepada anak-anaknya. “Saya sudah 30 tahun membuka usaha dodol keranjang ini, pekerjaan ini hanya musiman satu tahun sekali menjelang Imlek, itupun hanya dikerjakan selama satu bulan saja menjelang Imlek,” kata Mindayani yang usianya sudah 76 tahun namun masih enerjik.
Dijelaskan cara membuatnya, mula-mula tepung ketan dikasih air dimasukan kedalam dandang besar yang diputar menggunakan mesin. Pelahan-lahan gula pasir yang sudah menjadi karamel dicampur dan diaduk sampai rata. Jika dibutuhkan rasa, tinggal menambahkan cairan perasa.
“Saya membuat lima rasa ada rasa pandan, cocoa, strawberry, vanila, dan original,” ujar Mindayani.
Selanjutnya, adonan yang sudah tercampur rata tersebut, dialirkan melalui pipa mirip dengan keran air yang keluar secara perlahan. Adonan yang keluar inilah kemudian dimasukan ke dalam cetakan bulat ukuran 250 gram. Setelah dicetak, adonan dibungkus menggunakan plastik kemudian didinginkan. Semua proses pembuatannya menggunakan mesin.
“Semua pekerja di sini hanya musiman itupun setahun sekali. Jika tidak bekerja, mereka kemabali yang petani, nelayan dan tukang becak, tetapi mereka sudah ahli dan mereka saya panggil ketika menjelang Imlek,” tuturnya.
Agar konsumen tidak bosan dengan dodol keranjang, Sido Makmur memiliki lima varian rasa yakni rasa original, pandan, vanili, kelapa, dan strawberry. Sedangkan bungkusnya dibuat menarik, satu kotak terdiri dari empat buah dodol kranjang dengan beragam rasa sesuai pilihan.
Dalam sehari, usaha rumahan ini bisa memperoduksi 2 kwintal dodol keranjang. Namun setiap tahun ada peningkatan 5-10 persen. Pesanan akan semakin banyak mendekati Hari Raya Imlek. Untuk pesanan minimal satu bulan sebelumnya, karena keterbatasan alat dan tenaga yang dimiliki.
“Pesanan selain dari dalam Kota Tegal juga dari Bandung, Purwokerto, Semarang bahkan Jakarta. Saya maunya membuat lebih banyak lagi, tapi tenaga terampilnya yang kurang, ini saja yang kerja orang-orang yang sudah biasa setiap tahun saya panggil,” terangnya.
Mindayani juga menceritakan asal-usul Dodol Keranjang, pada jaman perang di negera Tiongkok dulu prajurit diwajibkan membawa dodol keranjang untuk persiapan bahan makanan saat perang. Selain itu dodol keranjang yang kenyal atau lengket, rasanya manis dan bentuknya bulat punya pilosofi, yaitu untuk mengeratkan hubungan persaudaraan, banyak rezeki dan tidak berujung atau tidak ada ada akhir.
“Pilosofinya hubungan saudara tetap erat tidak cerai berai, banyak rezeki dan tidak ada akhirnya karena bentuknya bulat,” pungkasnya.