Said: NU Punya Cara Jitu Menjaga Kondusifitas Negara
TK-Takwo Heriyanto
Senin, 17/05/2010, 10:45:00 WIB

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. DR. KH Said Aqil Siradj (paling kanan) saat hadir di Khaul ke-23 KH Asyamsuriyah di Desa Jagalempeni, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes. (FT: Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Zaman Jahiliyah atau kebodohan terjadi karena pemimpin dan rakyatnya tidak memiliki ilmu. Di dunia ini hanya orang yang berilmu saja yang benar. Islam mengharuskan manusia berilmu. Dengan ilmu, kita diatas garis yang benar. Karena itu, agar umat Islam tak bosan-bosannya mencari ilmu sepanjang hayatnya

Sedangjan untuk menjaga ketentraman, perlu dilestarikan budaya membaca sholawat, tahlil, managib, barzanji. NU mempunyai cara jitu untuk menjaga kondusifitas berbangsa dan bernegara, yakni dengan membudayakan tahlil, barzanji dan sholawatan.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. DR. KH Said Aqil Siradj saat menyampaikan tausiyah pada Khaul ke-23 KH Asyamsuriyah di Desa Jagalempeni, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Minggu 16 Mei 2010.

Menurutnya, dengan ilmu saja tidak cukup, perlu dukungan keimanan yang kuat. Orang yang berilmu saja tapi tidak beriman akan berbuat keangkaramurkaan di muka bumi. “Orang yang bodoh, kalau ‘ngapusi’ tanah paling hanya semeter dua meter. Tapi kalau yang berilmu, tapi tidak beriman, ‘ngapusinya’ sampai berhektar-hektar,” ujarnya.

Dijelaskannya, setelah berilmu dan beriman, orang Islam harus memiliki hati yang halus. Hal itu menurutnya akan tercipta budaya saling asah-asih dan asuh. "Bukan gontok-gontokan,” tandasnya.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua PBNU As’ad Said Ali, Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Drs. KH Nurul Yaqin, Suriyah PCNU Brebes KH Said Ali Basalamah dan Wakil Bupati Brebes H. Agung Widiyantoro SH MSi.