![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Debat publik bagi pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil Bupati (wabup) Brebes yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Brebes, di Gedung Korpri Brebes, Rabu 18 Januari 2017 siang, berlangsung seru.
Sebagaimana diketahui, debat publik Pilkada Brebes tersebut hanya diikuti oleh 2 paslon bupati dan wabup. Yakni paslon Suswono-Ahmad Muttaqim nomor urut 1 dan paslon Idza Priyanti-Narjo nomor urut 2.
Debat publik yang sebelumnya penyampaian sambutan dari Ketua KPU Kabupaten Brebes, Muamar Riza Pahlevi itu, diawali dengan penyampaian visi dan misi oleh dua paslon bupati dan wabup Brebes. Baru kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan maupun jawaban atas tanggapan yang disampaikan oleh dua paslon itu.
Adapun selama berlangsungnya debat publik yang berjalan hingga satu jam setengah itu, kedua paslon saling serang dan sindir. Bahkan, masing-masing pendukung dari dua paslon juga turut larut dalam suasana yang berlangsung meriah itu.
Dalam kesempatan itu, cabup Suswono yang berpasangan dengan Ahmad Muttaqim menyampaikan, bahwa selama kepemimpinan Idza Priyanti-Narjo dinilai belum berhasil.
Pernyataan Mantan Menteri Pertanian era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu, sejatinya selalu menjadi andalan dalam setiap momen kegiatan kampanye. Bahkan, pada saat masa pendaftaran, terkait alasan pencalonannya juga mengatakan, yakni bahwa Indek Pembangunan Manusia (IPM) Brebes terendah se-Jateng.
Menurutnya, di masa kepemimpinan Idza Priyanti-Narjo tidak mengalami perubahan. “Untuk itu, Kabupaten Brebes harus berganti Pemimpin agar berubah menjadi lebih baik,” katanya.
Ahmad Muttaqim sendiri menyampaikan, masih banyak infrastruktur, seperti jalan-jalan yang rusak, juga saluran irigasi pertanian. Hal itu berdampak kepada kerugian masyarakat, khusunya petani karena Brebes mayoritas penduknya bermata pencaharian petani.
Menanggapi serangan Suswono, Idza Priyanti dengan tegas mengakui bahwa IPM Kabupaten Brebes memang masih terndah di Jateng. Namun demikian, lanjut Idza, untuk bisa menaikan IPM tidak bisa instan begitu saja.
“Harus ada proses kelanjutan untuk bisa menaikan IPM. Tapi, meskipun IPM Kabupaten Brebes masih terendah, pembangunan dan kesejahteraan masyarakat sudah dirasakan,” tutur Idza.
Dia mencontohkan, seperti diperbaikinya jalan kabupaten dengan betonisasi senilai Rp 579 milyar pada tahun anggaran 2016. Kemudian, pembangunan RSUD Brebes sebesar Rp 60 milyar. Bahkan, direncanakan pada 2017 ini akan dianggarkan kembali senilai Rp 50 milyar. Termasuk adanya pemberian beasiswa bagi siswa-siswi tidak mampu sebesar Rp 18 milyar.
Sementara Narjo dalam kesempatan itu, juga turut menyerang atas pertanyaan maupun tanggapan yang sebelumnya ditentukan oleh moderator/pembawa acara.
Serangan itu, ditujukan kepada Suswono yang nota bene adalah mantan Menteri Pertanian. Narjo menyebutkan, sebagai orang petani pihaknya merasakan betul dengan kesejahteraan petani selama kepemimpinanya bersama Idza Priyanti.
“Harga bawang saat zamannya Pak Suswono sangat turun drastis, yaitu sampai Rp 3000/Kg. Tapi, begitu kami buat aturan menganai larangan impor bawang masuk ke Kabupaten Brebes. Yakni dengan dibantu dan koordinasi yang baik oleh Pemerintahan Presiden Jokowi, sekarang petani bisa merasakan kesejahteraannya, karena harganya yang stabil, bahkan cenderung tinggi.
Ini bukti bahwa saya yang juga sebagai seorang petani sangat merasakan kesejahteraannya. Mari kita lanjutkan dukung “IJO”, Idza Priyanti-Narjo, coblos nomor 2,” tandasnya.
Kendati acara tersebut berlangsung seru dan saling serang, namun debat publik bagi paslon bupati dan wabup Brebes ini berjalan lancar dan aman.
Sementara, dewan pakar Debat Pilkada Brebes 017 asal Universitas Gadjah Mada, Prof Muh Aris Marfai yang menyaksikannya, mengatakan saling serang antara pasangan calon merupakan hal lumrah.
"Saya pikir itu merupakan hal wajar dalam debat. Kedua pasangan ingin menunjukan keunggulannya. Itulah demokrasi dan saya rasa kedua pasang calon sudah sangat bagus penampilannya dalam debat tadi,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Plt Bupati Brebes Budi Wibowo. Menurutnya, saling serang dan sindir dalam debat publik Pilkada, merupakan hal yang wajar dan sering terjadi di daerah-daerah lain. Namun demikian, pihaknya berharap kepada masyarakat untuk tetap menjaga kondusivitas Kabupaten Brebes.
“Itu adalah bagian dari upaya pihak penyelanggara Pilkada agar masyarakat bisa menilai dan memilih pemimpin yang dianggap baik untuk Kabupaten Brebes lima tahun kedepan,” paparnya.