Suripto: Komunisme Sekarang Lebih Berbahaya
-Laporan Zaenal Muttaqin
Minggu, 18/12/2016, 04:55:13 WIB

Pendiri dan ketua Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi), Suripto SH, saat menjadi pembicara dalam kegiatan Pengajian Rutin Majelis Silaturahmi Alumni PII Jawa Tengah, di hotel Salsa Dalila, Bumiayu (Foto: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Pendiri dan ketua Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi), Suripto SH mengingatkan, adanya ancaman bahaya Komunisme yang lebih besar dibanding dengan tahun 1948 dan tahun 1965 lalu.

"Ancaman Komunisme sekarang jauh lebih berbahaya dibanding dengan tahun 48 atau tahun 65 dahulu," katanya saat menjadi pembicara dalam kegiatan Pengajian Rutin Majelis Silaturahmi Alumni Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Tengah, di hotel Salsa Dalila, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Minggu 18 Desember 2016.

Menurut Suripto yang juga dikenal sebagai pengamat intelijen ini, ancaman komunisme yang dibawa oleh Cina itu harus diwaspadai kerena telah berubah baju. Komunisme sekarang tidak lagi ditampilkan sebagai ideologi tapi dibungkus dengan imperialisme ekonomi yang justru lebih berbahaya.

Imperialisme itu benar-benar ekonomi animal, bahkan binatang buas di bidang ekonomi. Benar-benar rakus menguasai sumber daya alam, seperti telah diketahui adanya pulau baru di dekat Teluk Jakarta.

"Karena itu apa yang disebut dengan poros Jakarta - Beijing itu harus kita waspadai dan kita tolak, jangan sampai berlangsung terus," ujar Suripto.

Dikatakan, diantara indikasi yang paling nyata adanya ancaman Komunisme ini, dibangkitkannya kembali budaya tradisional Cina yang dulunya sempat dilarang. Budaya seperti tarian Cina dan lainnya itu menjadi salah satu senjata untuk masuknya imperialisme komunis.

"Bahkan budaya leluhur Cina itu dianggap sebagai bagian dari budaya Indonesia," ungkap Suripto.

Ancaman imperialisme komunis dengan ekonomi yang buas itu bukan hanya berbahaya bagi Indonesia tapi juga bagi negara-negara lain. seperti di Amerika Latin kini juga telah banyak yang dikuasai Cina dengan besarnya devisa yang dimiliki hingga 3,5 trilyun dolar. Sementara di Indonesia investasinya banyak di bidang infrastruktur dan pengelolaan sumber daya alam.

"Itu ancaman imperialisme Cina saat ini yang tidak lagi berbaju ideologi komunis," tegas Suripto.

Suripto menyayangkan, sikap pemerintah yang justru memberi peluang, bahkan membiarkan banyaknya tenag kerja dari Cina yang masuk ke Indonesia. Tenaga kerja dari luar itu bisa masuk dengan dalih untuk mengamankan proyeknya dan programnya dapat selesai.

"Sepertinya dibiarkan bahkan diberi peluang bagi mereka dengan dalih untuk amankan proyek dan programnya," pungkas Suripto.