![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Dengan kemauan yang tinggi pula, Ita Dianawati membuktikan bisa meraih kesuksesannya hingga saat ini melalui olahraga sepak takraw.
Terlahir dari keluarga yang sangat sederhana di Desa Grintng, Kecamatan Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah, 22 Januari 1993, Ita Dianawati kini bak kembang semerbak yang mengharumkan keluarga dan kampung kelahirannya. Dia adalah inspirasi perlawanan atas ketiadaan hingga menjadi membanggakan.
Anak pertama dari empat bersaudara ini, merasa bahwa dilahirkan dari keluarga yang kurang beruntung, tak lantas membuatnya habis begitu saja. Justru, keadaan ekonomi orangtua yang lemah membuat tekadnya menguat untuk memperbaiki ekonomi keluarga.
Kapidin ayah Ita, adalah pria yang tidak memiliki profesi yang tetap, kadang menjadi penjual keliling, kadang ngamen jika tidak ada panggilan kuli serabutan. Sementara ibunya, Sukyati memiliki keterbatasan penglihatan. Ita benar-benar menyayangi keluarganya hingga dia merasa bertanggung jawab membahagiakan mereka.
Sepak takraw seperti menjadi jalan Tuhan yang diberikan kepada Ita untuk bangkit. Dari prestasinya di cabang olahraga sepak takraw yang selama ini digelutinya, Ita kini menjadi andalan Jawa Tengah di ajang nasional. Kemampuannya dalam olahraga kaki ini memang lebih dari kata cukup baik.
Ita menggeluti sepak takraw sedari duduk bangku SD. Sejak bangku sekolah dasar, Ita pernah menyabet juara lari atletik tingkat Porseni. Dia kemudian secara intensif mengikuti latihan sepak takraw di SDN Grinting 02, hingga berprestasi di berbagai event tingkat kecamatan.
Bakat Ita pun semakin mengkilat setelah dipoles lebih serius oleh Pengcab Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Kabupaten Brebes. Sampai akhirnya di ajang, Popda, Por Dulongmas dan Poprov sepak takraw selalu ada Ita. Bahkan, kali terakhir Ita berhasil menyumbang medali perunggu di ajang PON di Jawa Barat tahun 2016 ini.
"Kalau untuk PON baru ikut dua kali ini, tapi dari MTs dan SMA ikut setiap kejuaran terus dan selalu juara," ujar Ita yang pernah mengunjungi sejumlah negara itu, Jumat 21 Oktober 2016.
Kesungguhan Ita, tidak saja terbayar dengan prestasinya yang mentereng dalam bidang olahraga. Ita juga berhasil menamatkan pendidikan S1 di Fak Ilmu Keolahragaan Universitas Semarang atas beasiswa prestasi olahraga dari Pemprov Jateng. Penyuka makanan bakso ini juga tengah merampungkan S2 pada kampus yang sama.
"Alhamdulillah saya juga sempat tidak percaya bisa sampai seperti ini. Saya hanya berusaha mencintai sepak takraw dan terus berlatih," kata Ita mengungkap tipsnya.
Ketua Perstuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Kabupaten Brebes, Wamadiharjo, mengaku bangga atas prestasi atlet di cabang olahraganya yang berhasil meraih prestasi gemilang tersebut.
"Bangga juga ya, punya atlet Brebes yang punya potensi yang luar biasa, hingga bisa sukses meraih prestasi yang gemilang, seperti di ajang PON Jabar beberapa waktu lalu," katanya.
Namun demikian, pihaknya berharap kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes agar bisa memberikan faisilitas atau sarana prasarana. Itu mengingat fasilitas atau sarana prasarana yang kita miliki sama sekali minim, bahkan belum cukup memadai.
"Beruntung atlet kita ini (Ita-red) bisa meraih prestasi gemilang berkat semangat dan kerja kerasnya dalam latihan rutin, meskipun harus menyewa lapangan. Padahal apa yang ia lakukan itu, juga demi mengharumkan nama Kabupaten Brebes juga," tutur Wamadiharjo yang juga anggota DPRD Brebes ini.
Pihaknya mengharapkan Pemkab Brebes bisa seperti Pemkab Jepara, yang bisa membangun gedung olahraga untuk atlet sepak takraw. "Disitu, atlet-atletnya bisa berlatih sekaligus menggalinya, sehingga tidak sedikit atlet-atlet sepak takraw disitu, yang berpotensi dan memiliki prestasi yang membanggakan daerahnya," tandasnya.