Pemukiman Korban Tanah Bergerak Memprihatinkan
-Laporan Zaenal Muttaqin
Rabu, 12/10/2016, 04:42:33 WIB

Beberapa rumah sederhana nampak berdiri di tempat relokasi korban bencana tanah bergerak (Foto: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Pemukiman korban bencana tanah bergerak Dukuh Lombangan, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sangat memperihatinkan.

Pemukiman di tempat relokasi sangat minim fasilitas. Jalan utama yang membentang di tengah pemukiman masih berupa tanah yang licin terutama saat turun hujan.

"Kondisinya ya seperti ini serba terbatas dan kurang fasilitas," ujar Sarban (60) warga korban tanah bergerak kepada wartawan di tempat relokasi, Rabu 12 Oktober 2016.

Di lokasi relokasi telah berdiri 35 bangunan rumah tinggal semi permanen dengan kontruksi kayu dan dinding asbes atau GRC. Sementara lantai rumah masih berupa tanah hanya beberapa yang telah diplester.

"Rumah-rumah masih lantai tanah, yang sduah diplester baru beberapa saja," ungkap Sarban.

Warga lainnya, Kendi Purwanto (44) menuturkan, di tempat relokasi belum ada jaringan air bersih. Hanya satu tempat untuk MCK umum sementara dan darurat. Rumah ibadah atau mushola juga belum ada di tempat tersebut.

"Listrik ini juga baru ada instalasinya, informasinya akan segera datang tiang untuk jaringan listriknya," kata Kendi.

Sebelumnya, atau pada Januari lalu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes telah memberikan bantuan relokasi kepada 87 Kepala Keluarga (KK) korban tanah bergerak di Dukuh Karanganyar dan Limbangan Desa Sridadi. Bantuan sebesar Rp 11 juta untuk tiap KK itu digunakan untuk pengadaan tanah untuk relokasi.

"Sebelumnya sudah ada bantuan dan digunakan untuk pengadaan tanah, tiap KK mendapat tanah seluas 7 x 12 meter persegi, sementara untuk membangun rumahnya warga menggunakan biaya sendiri," ungkap Kendi.

Kondisi ekonomi warga yang umumnya bermata pencaharian buruh tani itu sangat kurang, sementara mereka harus membangun rumah tinggalnya. Tidak sedikit diantara mereka terpaksa hutang pada pengusaha material dan menunggu adanya bantuan untuk melunasinya.

"Kami dapat informasi katanya masih ada bantuan sehingga banyak yang berani hutang material untuk membangun rumah tinggal," ucap Kendi.

Hampir tiap KK terpaksa hutang pada pengusaha material dengan besar hutang minimal Rp 5 juta dan ada yang lebih. Kondisi itu juga membuat warga lainnya belum pindah ke tempat relokasi, karena tidak ada kemampuan untuk biaya memindahkan rumahnya atau membangun rumah baru dan enggan untuk hutang pada pengusaha material.

Kepala Desa Sridadi, Nasugiyanto mengatakan, ada 87 KK yang menjadi korban bencana alam tanah bergerak di Dukuh Karanganyar dan Dukuh Limbangan. Sebanyak 21 KK di Dukung Karanganyar semuanya telah relokasi di lokasi yang aman. Sementara di Dukuh Limbangan ada 35 KK yang telah relokasi dan 31 KK belum relokasi karena keterbatasan biaya.

"Masih ada yang belum relokasi karena terkendala biaya untuk memindahkan rumah atau membangun di tempat relokasi," katanya.

Saat ini di juga sedang dibuat MCK umum di tiga titik tempat relokasi untuk warga. Jaringan listrik juga sedang dipasang dan material untuk pembangunan instalasi air bersih telah ada di lokasi yang dalam waktu dekat akan dipasang.

Pemerintah Desa sedang mengupayakan bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) yang rencananya akan memberikan bantuan untuk korban tanah bergerak. Informasi yang telah diterima bantuan dari Kemensos sebesar Rp 15 juta hingga Rp 20 juta untuk setiap KK.

"Kami sudah dapat informasi akan ada bantuan dari Kemensos, tapi entah kapan," tutur Nasugiyanto.

Desa Sridadi tepatnya di Dukuh Limbangan dan Karanganyar merupakan wilayah terparah yang terkena bencana tanah bergerak pada Maret 2015 lalu. Berdasarkan hasil penelitian BMG, 90 persen tanah di Desa itu berpotensi terkena tanah bergerak.

Saat ini alat pemantau tanah bergerak sudah terpasang di empat titik, semuanya dipasang di Desa Sridadi. Alat pemantau dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu juga dapat untuk memantau untuk wilayah lain yang terdekat.