Dua Tahun LSM Abang Tidar: Maju, Siapa Takut?
joh-Laporan SL Gaharu & Johari
Rabu, 12/10/2016, 03:47:54 WIB

Undangan yang hadir saat mengikuti dialog interaktif pada acara dua tahun LSM Abang Tidar (Foto: Gaharu)

PanturaNews (Tegal) - Masyarakat Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dan sekitarnya menaruh harapan agar daerahnya menjadi bersih. Ini bukan dalam arti bersih dari sampah, namun bersih dari segala praktek tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme.

Hal itu dikatakan Ketua Umum LSM Anak Bangsa Tiga Daerah (Abang Tidar), Eri Sudjono saat membuka Dialog Interaktif dengan tema “Menuju Tegal Bersih, sekaligus merayakan HUT ke 2 LSM Abang Tidar di Hotel Pesonna Jalan Gajah Mada Kota Tegal, Rabu 12 Oktober 2016 pukul 10.00 hingga 14.00 WIB.

Dialog Interaktif menghadirkan pembicara Bupati Tegal, Enthus Susmono dan Ketua Umum GNPK RI Pusat, HM Basri Budi Utomo. Moderator Yana Mulyana dan pembawa acara Denhaz Yusak. Acara dihadiri sekitar 100 orang yang diundang dari Forkopinda, Ketua-ketua Parpol, Aktivis pergerakan, Ormas, Tokoh Masyarakat dan Tokon Lintas Agama. Walikota Tegal diwakili Kepala Kesbanglinmas, Suripto.

“Di usianya yang ke dua tahun, Abang Tidar akan menjadi lebih baik lagi, karena akan bekerja berdasarkan rel dan aturan perundangan yang berlaku. Kami ini LSM sebagai control social, jadi jangan dianggap sebagai musuh. Jadikan kami sebagai mitra, agar Tegal menjadi lebih baik lagi, dan kami punya prinsip; Maju, Siapa Takut?,” ucap Eri Sudjono.

Ditambahkan Eri Sudjono, LSM Abang Tidar yang  berdiri pada 08 Oktober 2014 dengan SK Menkumham. Abang Tidar meliputi wilayah kerja Kota/Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Pemalang.

Sementara dalam sambutanya, Wakil Walikota Tegal, Drs. H.M Nursholeh, M.MP.d mengucapkan selamat kepada LSM Abang Tidar yang berusia dua tahun. Menurutnya, usia dua tahun boleh diibaratkan sebagai bayi. Namun usia dua tahun LSM Abang Tidar, layaknya sebagai anak macan.

“Jangan dipandang usianya, tapi lihatnya kerjanya dalam mengkritisi permasalahan yang ada di Tegal,” ujar Nursholeh.

Wakil Walikota Tegal hadir bukan atas nama Forkopinda. Menurut dia, secara de fakto dia adalah Forkopinda. Tapi secara de jure dia bukan Forkopinda. “Ya karena tidak ada SK-nya,” ujar Nursholeh yang akrab disapa Kang Nur dengan nada canda, dan yang hadirpun tertawa.

“Bila kita menganggap semua LSM itu teman, maka semua LSM akan bias bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian, maka lembaga eksekutif, legeslatif dan yudikatif dan semua elemen masyarakat akan berjalan dengan beriringan, untuk menata kehidupan yang  lebih baik dan benar sebagaimana diatur oleh Undang-Undang,” katanya.

Usai sambutan Wakil Walikota, acara dilanjutkan dengan dialog interaktif. Penbicara pertama yang tampil adalah Bupati Tegal, Enthus Susmono dan dilanjutkan Ketua Umum GNPK RI Pusat, HM Basri Budi Utomo.

Disampaikan Enthus Susmono, kalau kita mau memberantas korupsi seharusnya dicari akibatnya, tapi penyebabnya itu kenapa kepala daerah korupsi. Dalam setiap pilkada, seorang calon sudah tidak percaya diri, takut tidak dipilih, akhirnya membagikan uang yang tidak didasari dengan iklas.

“Tapi kalau didasari iklas, bahwa dia mengeluarkan uang banyak hanya karena ingin dipanggil bupati, atau dipanggil walikota, tidak akan terjadi korupsi karena tidak mencari agar modalnya ketika nyalon akan kembali,” tuturnya.

Dengan panjang lebar Enthus Susmono memaparkan perihal korupsi, dan berharap LSM bekerja dalam mengkritisi permasalahan sesuai dengan aturan. Tentu saja sepanjang uraianya, diselingi guyonanya yang khas dan membuat yang hadir tertawa.

“Saya sangat dekat dengan LSM, karena LSM saya anggap sebagai mitra, sebagai teman,” ujarnya.

Pembicara selanjutnya adalah Ketua Umum GNPK RI Pusat, HM Basri Budi Utomo. Dalam paparanya, dia menjabarkan cara kerja pegiat anti korupsi. Dikatakan, untuk melakukan perjuangan, para pegiat anti korupsi jangan mengharapkan pujian. Pegiat anti korupsi berjuang dengan iklas.

“Kita berhadapan dengan orang-orang pintar, punya akses dan jaringan yang luas. Jadi kalau kita lawan dengan bodoh, pergerakan kita akan sia-sia. Untuk melawan orang-orang ini, kita perlu strategi, dan masing-masing aktivis jangan saling curiga,” tuturnya.

Acara berakhir pada pukul 13:00 WIB, dan dilanjutkan dengan makan siang dan hiburan. Antar ketua dan anggota LSM pun, saling tukar pikir dan memberi masukan tentang kasus-kasus yang terjadi di Kota/Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Pemalang.