Masuk RS, Penderita Obesitas Malah Meninggal
JOHA-Laporan Johari
Senin, 26/09/2016, 08:08:13 WIB

Wahid ditunggui ibunya sebelum dibawa ke rumah sakit. Penderita obesitas ini akhirnya meninggal (Foto: Dok/Johari)

PanturaNews (Tegal) - Wahid Zenanda (19), anak pasangan Winarni (45) dan Zaeni (47) warga Jalan Tentara Pelajar Nomor 5 RT 04 RW 1 Kelurahan Slerok, Kota Tegal, Jawa Tengah, penderita obesitas akhirnya meninggal dunia di RSUD Kardinah, Senin 26 September 2016 sekitar pukul 05.30 WIB.

Wahid sudah ditangani tim medis selama 3 hari, karena obesitas itu ia mengalami pembesaran pada jantung, sehingga terjadi penyumbatan pada pernapasan atau Obstruktif Slip Amno.

Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Kardinah, dr Agus Dwi S MM didampingi tim dokter yang menangani Wahid, dr Arbi Lizarda SpJp dan dr Nurmilawati SpPd, untuk penanganan kasus obesitas ini menjadi prioritas utama.

Pihak rumah sakit sudah melakukan penanganan secara maksimal dengan melakukan pengembalian fungsi organ vital. Karena obesitas itu mendorong pembesaran pada jantung, sehingga menyebabkan obstruktf slim amno atau gangguan gejala napas secara berlebihan.

“Akibat obesitas itu menyebabkan pembengkakan pada jantung, sehingga kesulitan untuk bernapas,” kata dr Agus.

Menurut Dr Agus, Wihid dibawa ke RSUD Kardinah termasuk terlambat. Pasalnya dari informasi gejala obesitas sudah lama, namun baru sekarang dibawa ke RSUD Kardinah. “Mestinya begitu tahu ada kelainan pada anak, langsung dibawa ke kesini, sehingga bisa ditangani sedini mungkin,” pungkasnya.

Winarni orang tua Wahid Zaenanda, telah mengikhlaskan kepergian anak pertamanya itu. Menurutnya, sebelum Wahid meninggal sekitar pukul 11 malam, Wahid minta infusnya dilepas. Lantas Wahid minta makan dan minta dilapin mulutnya.

Sekitar pukul 02.00 WIB, Wahid minta agar ibunya tidur dibawahnya. Sekitar pukul 04.30 WIB, Winanrni terbangun dan mengelus-elus dada anaknya itu, ternyata sudah tidak bernapas lagi. 

“Sebelumnya Wahid sudah bisa ketawa-ketawa, saya melihatnya seneng mudah-mudahan Wahid bisa sembuh. Sekitar pukul 02.00 WIB saya disuruh tidur di bawah bangsal. Namun sekitar pukul 04.30 WIB saat saya bangun dan mengelus-elus dadanya ternyata sudah tidak bergerak, saya pikir Wahid sedang tidur, ketika digoyang-goyang diam saja, lantas saya menangis,” tutur Winarni.

Untuk menaikan peti jenazah ke mobil ambulans, terpaksa digotong oleh 13 orang, selain itu karena peti jenazahnya ukuran zumbo, yakni 2 x 1,20 meter, terpaksa harus pesan terlebih dahulu.

“Kalau ukuran biasa atau normal paling 170 cm x 80 cm stoknya ada, tapi karena ini ukurannya luar biasa terpaksa dibuat secara mendadak,” kata petugas kamar mayat RSUD Kardinah.

Diketahui, Wahid mulai “Doyan” makan sejak dinyatakan autis pada usia 3 tahun, sehingga berat badanya terus bertambah sampai mencapai 180 Kg dalam usia 19 tahun. Apalagi dalam sehari ia bias mengahbiskan 3 Kg beras, 3 Kg telor dan 20 dus mie instan. Akibatnya ia mengalmi obesitas atau kelebihan berat badan. Wahid dimakakan di TPU Cleret.