![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) - Wahid Zenanda (19), warga Jalan Tentara Pelajar Nomor 5, Kelurahan Slerok RT 05/05, Kecamatana Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah, mengalami obesitas (kelebihan berat badan) mencapai 180 kilogram (Kg). Orang tuanya hanya pegawai rendahan di PT KAI, untuk itu butuh bantuan pemerintah dan uluran tangan para dermawan untuk penyembuhan Wahid.
Ibunda Wahid, Winani (45) menuturkan, saat dilahirkan berat badan normal seperti layaknya bayi pada umumnya yakni 3,25 kilogram. Namun, empat tahun kemudian, mulai nampak ada keanehan terutama saat makan, makannya banyak dan berat badannya terus bertambah.
"Saat lahir beratnya hanya 3,25 Kg. Empat tahun kemudian anak saya sakit dan didiagnosa mengalami gejala autis. Lantas Wahid disekolahkan di sekolah khusus autis di Kota Tegal. Kalau makan sehari bisa habis telur 3 kg, nasi 3 kg, dan mi instan 20 bungkus," terangnya.
Akibat mengalami obesitas, aktivitas Wahid hanya terbaring dan duduk di depan televisi karena tidak mampu berjalan. Jika dirinya ingin mandi terpaksa berjalan dengan cara merangkak. Dan kalau lapar dia marah-marah dengan cara memukul-mukul apa saja, termasuk jendela rumah atau pintu.
“Kalau minta sesuatu, marah-marah, benda apa saja yang dekat dengannya dipukul-pukul, karena Wahid sejak kecil tidak bias berbicara layaknya anak normal,” imbuhnya.
Melihat kondisi anak pertamanya dari 5 bersaudara, ibunya pernah mencoba memeriksakan kesehatan anaknya hingga ke Bandung. Namun lantaran ketiadaan biaya membuat dirinya terpaksa membawa pulang .
"Penah saya bawa berobat ke Bandung tapi biayanya mahal sehari Rp 1,3 juta, sedangkan memakai BPJS tidak bisa karena penderita autis tidak masuk dalam BPJS. Saya berharap ada bantuan agar anak saya bisa diobati dan sembuh. Syukur-syukur saya bisa bertemu dengan Kak Seto," pungkasnya.