Semula Orang Tua Ingin Mustakim Bisa Sekolah
-Laporan Zaenal Muttaqin
Selasa, 13/09/2016, 03:37:41 WIB

Kedua orang tua Mustakim, korban tenggelam Sungai Pemali, nampak sedih (Foto: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Raut wajah sedih nampak melekat pada pasangan suami isteri, Rosihin (50) dan Wariah (49), warga Dukuh Salakgading RT 02 RW 03 Desa Manggis Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Suami isteri tergolong keluarga tidak mampu ini adalah orang tua dari Mustakim (18), salah satu korban tewas akibat tenggelam di Sungai Pemali, blok Kauman Kelurahan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

"Kami sekeluarga sangat kehilangan, Mustakim anak yang sangat kami sayangi," ujar Roasihin kepada PanturaNews.Com, Selasa 13 September 2016.

Mustakim merupakan salah satu anak yang diharapkan oleh kedua orang tuanya untuk dapat menempuh pendidikan yang layak. Selanjutnya dapat mengangkat derajat keluarga, atau setidaknya nasibnya akan menjadi lebih baik dari pada orang tuanya.

"Kami keluarga tidak mampu, tapi kami ingin anak-anak bisa bersekolah," ungkap Rosihin yang didampingi isterinya, Wariah.

Sambil menahan kesedihan, Rosihin yang sehari-hari bekerja serabutan ini menuturkan, Mustakim yang lahir bersama kembarannya, Mustofa, usai lulus Sekolah Dasar (SD) langsung dikirim ke Panti Asuhan Putra Muslimat Brebes. Keduanya bersekolah hingga SMK dengan sepenuhnya biaya ditanggung oleh Panti asuhan.

"Keduanya kami relakan tinggal di panti asuhan agar dapat sekolah, karena kami tidak mampu membiayai Rosihin.

Mustofa yang sudah lebih dulu di panti dapat menyelesaikan pendidikan hingga SMK dan kini sudah bekerja. Sementara Mustakim setelah enam tahun di panti asuhan, duduk di Kelas III SMK.

Rupanya takdir telah menentukan, Mustakim harus meningglkan keluarganya diambil oleh yang Maha Kuasa, setelah tenggelam di Sungai Pemali di hari raya Iddul Adha. Meski sangat berat, tapi keluarga merelakannya.

"Itu sudah kehendak yang Kuasa kami relakan, tentu menjadi hikmah bagi keluarga," kata Wariah.

Sebelum pergi untuk selamanya, Mustakim terakhir pulang ke rumah pada saat libur sekolah dua bulan lalu, atau tepatnya saat libur Lebaran Iddul Fitri. Sejak itu belum pernah pulang sampai akhirnya meninggal.

Selain Mustakim, masih tetangga dekat dan juga berasal dari Dukuh Salakgading, Muhammad Ubaidilah (16) juga menjadi korban tewas akibat tenggelam di Sungai Pemali. Ubaidilah ini sebelum di Panti Asuhan tinggal bersama kakeknya, Tawab (65) dan neneknya, Sanah (60).

Sebelumnya Ubaidilah sempat pulang menemui kakek dan neneknya pada Minggu 11 September 2016. Pada malam harinya kembali ke Panti Asuhan dan sehari setelahnya mendapat kabar meninggal dunia akibat tenggelam.

Ubaidilah sejak kecil sudah ditinggaloleh ibunya, Dakiroh yang meninggal dunia karena sakit. Sementara ayahnya, Darwoto (40) lebih banyak merantau di luar kota dan jarang pulang.

Seperti diketahui, sebelumnya tujuh anak Panti Asuhan Putra Muslimat Brebes, tenggelam di Sungai Pemali saat mencuci daging kurban. Dua anak selamat akibat peristiwa itu, sementara lima anak tenggelam dan tap dapat diselamatnya jiwa.