![]() |
|
|
PanturaNews (Semarang) - Ki Dalang H Joko Hadiwijoyo yang kondang sebagai sebutan Ki Dalang Joko Edan dan pencipta lagu, serta penyanyi berkarakter suara khas yang dengan manis mendendangkan lagu-lagu Jawa campursari ciptaannya sendiri.
Puluhan album rekaman lagu-lagu campursari hasil ciptaannya, telah beredar mengisi khasanah musik di tanah air. Namun Desaku yang saduran lagu asing paling kerap dinyanyikan sendiri bersama Pegat Tresna, salah satu lagu ciptaannya yang sangat fenomenal.
Selain larut mencipta musik senam Jateng Gayeng untuk acara senam Jateng Gayeng 26 Agustus di Magelang, dalang beken yang edan dalam karya tampilan tontonan wayang kulit ini, dalam tahun 2016 sibuk melayani permintaan mayang atau manggung masyarakat umum maupun banyak instansi.
Jadwalnya pada pada bulan Agustus ini padat. Misalnya, pada 19 Agustus usai mayang untuk HUT Pemkab Magelang, berikutnya 20 Agustus mayang dalam acara sedekah bumi di dusun Karangtalun Mlilir, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.
“Setelah menghadiri Rabu legen Mas Anom Suroto pada 22 Agustus malam, 25 Agustus saya tampil di Kajen memeriahkan HUT Pemda Kabupateng Pekalongan, kemudian di beberapa daerah lainnya seperti di Grobogan pada 27 Agustus di Kedungjati dan 29 Agustusnya di Tegowanu,” ujar Ki H Joko Edan yang tengah mempertimbangkan tawaran tampil di Kanada, serta jejaknya sebagai dalang diikuti putranya Ki Nugroho Jati.
Ki H Joko Edan, dalang yang inovatif dan relevantif lakon-lakon cerita wayangnya ini memang menyukai tantangan eksperimen dalam inovasi seni music maupun seni tari. Dan dia selalu mengevaluasi dokumentasi karya seninya. Salah satunya adalah menginovasi komposisi gerak, kostum dan ritme bunyi tabuhan music kelompok seni tradisional Sorengan binaannya dari Lemah Ireng Kabupaten Semarang.
Menurut Ketua DPD PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu Penata Musik Republik Indonesia) Jateng ini, dalam mencipta musik senam Jateng Gayeng selalu membayang pula gerak, nada irama music, nafas dan tempo harmoni warna karakter kebersamaan alias gotongroyong, holopis kuntul baris.
Seperti dalam perjalanan membangun klimaks dan antiklimaks lakon wayang kulit yang terekspresikan pada kecrek, effect pakeliran dari gerak sabetan wayang kulit maupun tuturan warna-warni karakter tokoh wayang kulit yang dimainkannya sebagai sang dalang.
“Dalam dunia penciptaan, selaras adalah kata yang pas untuk memposisikan karya seni itu dicipta dengan baik oleh sang penciptanya yaitu seniman. Tak ubahnya para insani sebagai karya cipta Sang Maha Kuasa, akan eloklah bila selaras pikiran, hati, ucapan, dan tindakan atau langkahnya,” ungkap Ki H Joko Hadiwijoyo yang pada Kamis 25 Agustus 2016 malam akan tampil di Kajen, Kabupaten Pekalongan. (Bambang AS)