![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Kisruh di tubuh DPC PDI Perjuangan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, masih berlanjut dan memanas. Kubu Imam Santoso bersikeras bahwa usulan agar kepemimpinan Indra Kusuma sebagai Ketua DPC PDIP Kabupaten Brebes dievaluasi, dan Idza Priyanti - Narjo (Idjo) diusung sebagai pasangan calon bupati dan wakil bupati pada Pilkada 2017 direspon oleh DPP.
"Usulan itu resmi dan aspirasi dari PAC, jadi tidak benar kalau itu dikatakan ilegal," kata Imam Santoso di Bumiayu, Jumat 20 Mei 2016.
Menurutnya, aspirasi itu resmi melalui surat dan telah disampaikan pada Ketua DPP PDIP, Prakosa saat menggelar temu kader di Bumiayu beberapa waktu lalu. Surat itu resmi dan ditandatangani oleh ketua 17 PAC yang datang.
"Surat itu sudah diserahkan dan kami berharap DPP mempertimbangkan," ujar Imam.
Dikatakan, 17 PAC mendukung pasangan Idjo selain elektabilitas sangat baik juga akan meringankan kerja para kader untuk memenangkan Pilkada 2017 nanti. Usulan itu juga bukan berarti untuk mendikte DPP tapi sebagai bentuk aspirasi dari PAC di Kabupaten Brebes.
"Bukan untuk mendikte tapi aspirasi dari PAC-PAC untuk mendukung Idjo," tegas Imam.
Imam Santoso yang menjabat sebagai wakil ketua DPC bidang Informasi dan Komunkasi (Infokom) juga mempertanyakan, belum turunnya Surat Keputusan (SK) dari DPP pada Indra Kusuma sebagai ketua DPC untuk periode sekarang.
"Itu berarti ada masalah, boleh dicek SK sebagai Ketua DPC dari DPP belum turun," tandas Imam.
Sebelumnya diberitakan, Indra Kusuma telah membantah tuduhan para kader yang mengatasnamakan pengurus PAC. Tuduhan terhadap dirinya yang dianggap tidak pantas lagi memimpin DPC, dinilai sangat tidak berdasar.
"Saya sebenarnya sangat menyayangkan dengan adanya berbagai tuduhan yang dilakukan oleh para kader dengan mengatasnamakan pengurus dari tingkatan PAC. Kita tahu bahwa Pilkada Brebes sudah cukup dekat, kalau ini dibiarkan saja, bisa-bisa partai kita bisa tergoyahkan," ujar Indra Kusuma.
Dikatakan, tuduhan yang diarahkan pada dirinya sangat tidak bertanggung jawab. Apalagi dengan mengundang para kader yang mengatasnamakan PAC-PAC, bahkan melibatkan media massa.
"Jelas, itu sudah keluar dari jalur kepartaian. Dia menyebut saya otoriter adalah pernyataan yang seolah-olah fitnah. Jadi, itu tidak benar sama sekali," tegas Indra.