Pak Jokowi, Abah Bukan Pencuri Kenapa Dipenjara
-Laporan Takwo Heriyanto
Selasa, 17/05/2016, 07:02:28 WIB

Syahzada Arsa dan Ajeng Silmi menunjukan surat yang akan dikirim ke Presiden Jokowi (Foto: Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Syahzada Arsa (12) dan Ajeng Silmi Sekar Kedaton (11), dua bocah yang masih duduk di bangku salah satu SD Negeri asal Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba dan SD Negeri di Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mencurahkan hatinya dengan tulisan tangannya yang akan dikirimkan langsung kepada Presiden RI, Joko Widodo.

Bukan tanpa alasan kedua bocah yang masih polos ini mengirimkan surat kepada orang nomor satu di Indoensia itu. Kedua bocah itu, terpaksa berkirim surat kepada mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu, meminta belas kasihan agar kedua orang tuanya, Makmur (34) dan Ginda Purnama (40), yang berprofesi sebagai nelayan dibebaskan dari tahanan Palembang, Sumatera Selatan karena dianggap melakukan tindak pidana.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Palembang, memutus bersalah kepada 13 nelayan asal Kabupaten Brebes. Pasalnya, ke 13 itu secara sah dan meyakinkan terbukti melawan hukum, melanggar pasal 85 UU no 45 tahun 2009 perubahan atas UU no 31 tahun 2004 tentang perikanan.

Yakni, melakukan penangkapan ikan yang mengganggu dan merusak keberlangsungan sumber daya ikan sesuai pasal 5 UU no 45 Tahun 2009 perubahan atas UU No 31 tahun 2004 tentang perikanan.

Setelah diputuskan oleh PN Palembang tingkat pertama, ke 13 nelayan itu langsung berupaya melakukan naik banding. Namun, upaya pengajuan banding telah ditolak oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan pada awal bulan Mei 2016 kemarin. Saat ini, mereka sedang mempersiapkan upaya selanjutnya, yakni kasasi ke Mahkamah Agung.

Berikut isi curahan hati yang ditulis tangan oleh Syahzada Arsa di lembaran kertas, yang kemudian dibacanya sambil berlinang air mata karena kesedihannya. Usai dibacanya surat itu, selanjutnya dibawa diantarkan familinya untuk dikirimkan langsung kepada Presiden RI, Jokowi melalui paket kilat di kantor Pos Brebes, Selasa 17 Mei 2016.

"Bapak Presiden Jokowi, abah saya namanya makmur kerja sebagai nelayan. Abah saya sekarang dipenjara dipalembang karena ditangkap polisi air saat sedang menangkap ikan dilaut???.

Kenapa abah saya ditangkap dan dipenjara??? Padahal abah hanya mencari ikan dilaut agar bisa dapat uang buat makan kami buat bayar sekolah saya dan adik saya naik TK (Taman Kanak-kanak-red)".

"Pak Jokowi surat ini benar-benar saya yang menulis sendiri. Tolong pak presiden membalas surat saya ini, karena saya hanya seorang anak nelayan yang bisa berharap agar ayah saya dibebaskan dan pulang ke rumah,". Demikian isi surat yang ditulis Syahzada Arsa kepada Presdien Jokowi.

Saat dikonfirmasi, diakui Arsa, surat tulisan tangan yang dibuat itu sudah dipersiapkanya sejak tiga hari lalu. Ia berharap presiden bisa memberikan jawaban surat itu. Apalagi, ia sering merasa kasihan melihat ibunnya Titin Sumiati (32) yang terus memikirkan ayahnya Makmur (34) yang sudah empat bulan belum pulang ke rumah.

"Saya sering melihat ibu menangis karena memikirkan abah yang dipenjara. Kata ibu ayah hanya mencari ikan di laut bukan mencuri, terus kenapa ditahan," ungkapnya.

"Saya pengin kumpul lagi sama abah biar bisa lebaran nanti bisa bersama-sama di rumah. Sekarang saya lagi ujian sekolah, tapi saya tidak bisa konsentrasi karena memikirkan ayah yang dipenjara disana," kata dia sembari mengusap air matanya dengan menggunakan telapak tangan kananya.

Sementara, isi surat hasil tulisan tangan yang dibuat Ajeng Silmi Sekar Kedaton untuk dikrimikan langsung kepada Presiden Jokowi adalah sebagai berikut:

"Pak Jokowi berapa bulan ini bapak tidak pulang ke rumah, padahal biasanya pulang satu bulan sekali dari laut dan kasih uang ke ibu saya dan adik untuk makan dan bayar sekolah. Sekarang sudah empat bulan tidak pulang dan tidak kirim uang sama sekali," kata Ajeng, panggilannya.

Saat membacakan surat kepada presiden itu, bocah berkerudung itu, juga tak kuasa menahan tetesan air mata yang terus bercucuran karena kesedihan dan rasa kangen kepada sang ayah. Selama sang ayah ditahan, Ajeng terus menanyakan kabar ayahnya kepada ibunya Murati (38).

"Saya terus tanya ke ibu, kemana sih bapak??, kata ibu bapak ditangkap polisi laut. Emang di laut ada polisi ya bu?? Kayak di jalan raya saja ada polisi. Terus ibu cerita, katanya bapak ditangkap polisi terus disidang. Sekarang dimasukkan ke penjara. Sih salahnya apa?, bapak kan cuman cari ikan di laut, kok ditangkap, kaya pencuri saja," tuturnya.

Selama ayahnya ditahan, ia tak jarang menangis di rumah sendiri di kamar. Bahkan ia juga sedih membayangkan ayahnya hidup di dalam penjara.

"Aku kadang nangis sendiri di kamar, bayangin bapak dipenjara, kayak yang ada di tivi pintunya dari besi, nggak bisa keluar-keluar. Jadi kasihan bapak, di sekolah pun banyak teman-teman yang bilang bapakku dipenjara. Saya malu sama teman-teman dan jadi sedih juga kalau di sekolah," ucapnya.