![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Angka Kematian Ibu (AKI) tidak dipungkiri masih tinggi. Tidak hanya di Kabupaten Brebes tetapi juga di Jawa Tengah. Meski demikian, pemerintah kabupaten (Pemkab) Brebes telah melakukan langkah-langkah strategis, guna menurunkan AKI di Kabupaten Brebes.
Hal ini sejalan dengan misi Kabupaten Brebes yang hendak meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya Ibu dan Anak. “AKI, menjadi problem nasional yang perlu ditangani secara lintas sektoral, bukan hanya tugas Dinas Kesehatan semata,” kata Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti SE, Selasa 26 April 2016.
Pasalnya, kata Idza, kematian Ibu merupakan hasil dari interaksi berbagai aspek. Baik aspek klinis, aspek sistem pelayanan kesehatan maupun factor-faktor non kesehatan yang mempengaruhi pemberian pelayanan klinis dan sistem pelayanan kesehatan.
Menurutnya, penurunan AKI diperlukan penanganannya juga harus melalui pendekatan hulu hilir. Di mana ditingkat hulu, kesadaran masyarakat dan pihak-pihak terkait perlu ditingkatkan dalam upaya promotif dan preventif. Sedangkan di tingkat hilir perlu ditingkatkan penanganan kuratif.
Dari tahun ke tahun, AKI di Jateng trennya naik termasuk di Brebes tapi bisa dilakukan penurunan tentunya dengan penanganan yang aksi yang sinergi. AKI di Kabupaten Brebes, tahun 2011 ada 34 kasus, tahun 2012 menjadi 51 kasus, pada tahun 2013 meningkat lagi menjadi 61 kasus kematian ibu, tahun 2014 mencapai 73 kasus.
“Tahun 2015 alhamdulillah bisa ditekan menjadi 52 kasus dan 2016 ini sampai bulan maret ada 23 kasus,” terang Idza.
Langkah kongkrit secara yuridis, Idza telah menerbitkan Peraturan Bupati nomor 026 tahun 2015 tertanggal 25 Mei 2015 tentang Pemberdayaan Masyarakat Dalam Penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi Melalui Maklumat Dukun Bayi.
“Dengan Perbup ini, kami berupaya memberikan perlindungan kepada ibu dan bayi untuk mendapatkan pelayanan persalinan yang aman sebagai penyelematan ibu dan bayi baru lahir,” paparnya.
Juga untuk meningkatkan persalinan oleh tenaga kesehatan dan perawatan bayi baru lahir melalui kemitraan bidan dengan dukun bayi. Setiap ibu bersalin dan bayi baru lahir memperoleh pelayanan dan pertolongan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan yang terstandar. Seluruh dukun bayi dilibatkan dalam suatu bentuk kemitraan yang menguntungkan antara bidan dan dukun bayi dalam bentuk maklumat dukun bayi.
“Disinilah peran aktif elemen masyarakat, stake holder tingkat kecamatan maupun desa dalam penyelamatan ibu dan bayi baru lahir,” tandas Idza.
Berbagai langkah intervensi ke masyarakat juga dilakukan oleh Dinas Kesehatan antara lain pemberian tablet tambah darah minimal 90 tab selama hamil, pemberian PMT ibu hamil dan KEK, membuka kelas ibu hamil dan kelompok pendukung ibu untuk meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku masyarakat, promosi tentang kesehatan ibu dan anak melalui radio, baliho, media elektronik, SMS Bunda, famplet, poster, moci bareng karo uwane tentang kesehatan Ibu dan Anak, karnaval dan lain.
Juga menggelar gebyar remaja dengan tema pencegahan anemia pada remaja putri dan wanita usia subur dan pemberian tablet tambah darah pada remaja putri. Penyuluhan kesehatan reproduksi remaja, penyuluhan dan konseling pada calon pengantin, pengukuran status gizi pada anak sekolah, ibu hamil, wanita usia subur, dan remaja putri secara berkala dan lomba kader dan penyuluh tentang KIA.
Ada juga interventi pelayanan kesehatan dasar, intervensi rujukan, intervensi kelembagaan dan managemen. “Jangan sampai, seorang ibu tidak tertolong, hanya karena tidak ada kepedulian kita. Ayo kerja, selamatkan ibu untuk meneruskan kehidupan dan pembangunan manusia,” pungkasnya.