![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Tidak banyak seorang ibu rumah tangga yang bisa meluangkan waktunya untuk memunculkan sebuah ide, atau gagasan yang dapat dijadikan sebuah karya hebat.
Namun, untuk ibu rumah tangga yang tinggal di RT:11, RW:01 Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah ini, layak diacungi jempol. Bagaimana tidak, wong ndeso yang memiliki nama lengkap Fatmah Sukmawati ini, ternyata mampu membuat sebuah cerita novel yang isinya membuat decak kagum banyak orang bagi yang membacanya.
Wanita kelahiran 16 Agustus 1970 yang memiliki nama beken Letha Amatry ini, mampu membuat cerita novel berjudul “The Hidden Love” dengan jumlah halaman 197 lembar. Yah, karyanya yang boleh dibilang tidak kalah bersaing dengan novelis handal itu, telah diluncurkan di Pendopo Kabupaten Brebes, Rabu 20 April 2016.
Bupati Brebes, Hj. Idza Priyanti SE yang secara resmi melaunching novel berjudul “The Hidden Love” ini, juga mengaku bangga sekaligus kagum dengan karya novel yang peluncurannya dihadiri banyak kalangan masyarakat.
“Saya bangga sekaligus kagum dengan karya novel berjudul “The Hidden Love” ini. Tentu ini menunjukan bahwa banyak perempuan hebat yang tak kalah dengan kaum laki-laki. Novel ini sangat menginspirasikan sekali,” ujar Bupati Idza Priyanti.
Bupati juga sangat mengaprasiasi karya sastra novel tersebut. Dia berharap karya sastra novel itu bisa memberi inspirasi bagi kaum perempuan lain di Kabupaten Brebes agar bisa bangkit dan semangat berkarya.
“Tidak musti menjadi penulis, tapi perempuan Brebes juga bisa maju sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan masing-masing. Seperti yang menjadi semangat Hari RA Kartini, wanita pahlawan nasional yang terkenal dengan emansipasinya terhadap kaum perempuan ini,” tuturnya.
"Saya belajar nulis otodidak, kebetulan sudah hobby menulis sejak SMA. Novel ini saya buat dari Januari 2014 sampai April 2015 di waktu luang saya jaga warung kelontong di rumah," kata Letha Amary, usai memberikan sambutan setelah Bupati Brebes.
Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Brebes, Wijanarto mengatakan, dunia rumah tangga tak pernah kehabisan ide bagi suatu penulisan. “Termasuk novel ini,” ucapnya.
Menurutnya, latar belakang sang penulis sebagai ibu rumah tangga serta dunia yang tak asing membuat tulisan itu adalah dunia keseharian dengan pernak-perniknya yang renyah untuk dibaca.
“Bahasa yang bersahaja membuat pembaca tak kesulitan mengikuti alur cerita. Selamat telah lahir novelis perempuan di Brebes,” kata Wijanarto yang memberikan komentar di akhir novel yang sudah dibukukan ini.
Sementara penikmat novel, Rizky Margenatha juga turut memberikan tanggapan atas sebuah karya novel tersebut. “Setahu saya menulis novel itu tidak mudah, butuh eksplorasi ide dan pengendapan yang cukup lama. Ketekunan harus diimbangi dengan semangat menulis yang menggebu.
Tidak banyak orang mampu melewati proses panjang itu. Letha Amatry telah menjawabnya, meski seorang ibu rumah tangga yang penuh kesibukan,ia tetap mampu menghasilkan sebuah novel yang bagus. Novelnya bersahaja, penuturanya sederhana. Letha Amatry tidak meninggalkan bahasa ibu, terbukti didalam novel ini banyak sekali menggunakan bahasa lokalan Brebes,” ungkapnya.
Tak ketinggalan, penyair sekaligus penimkat sastra Cyrus Sabry, juga ikut memberikan warna yang berbada atas novel tersebut. Dia menyebutkan, suasana ironi-melankoliannya cukup kuat. Novelis sangat cerdas dalam mengangkat hal kecil yang remeh-remeh menjadi problem kemanusiaan (perasaan) yang rawan dan acap luput dalam kehidupan sehari-hari, namun musykil dihindari. Novel ini menjadi bacaan yang sayang jika dilewatkan,” katanya.