![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Tanah bergerak dan retak-retak melanda Desa Plompong, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Retakan dan pergerakan tanah sepanjang sekitar tiga kilometer itu, terjadi sejak Februari 2016 dan mengakibatkan kerusakan pada jembatan penghubung dan juga pemukiman warga.
Kepala Desa Plompong, Fatoni mengatakan, retakan dan pergerakan tanah nampak jelas di beberapa titik di dekat Daerah Aliran Sungai (DAS) Keruh. Yakni, mulai di jembatan Plompong, Dukuh Kedungbenter, Dukuh Krajan, Dukuh Karangmangu, area pertanian hingga Dukuh Gunungsumping.
"Panjang retakan mencapai sekitar tiga kilometer, retakan dan pergerakan tanah itu telah merusak jembatan, jalan dan beberapa rumah warga juga mengalami retak-retak," katanya kepada PanturaNews.Com, Senin 21 Maret 2016.
Kerusakan nampak terjadi pada jembatan Plompong, terutama di bagian oprit dan lantai landasan yang terbuat dari kontruksi plat baja. Sementara di Dukuh Kedungbenter dengan jumlah sebanyak 14 bangunan sebagian juga ada yang mengalami retak-retak. Juga di Dukuh Karangmangu dengan jumlah bangunan 40 rumah dan satu unit gedung sekolah juga terancam kerusakan.
"Di Dukuh Karangmangu, bangunan sekolah sudah mengalami retak-retak akibat pergerakan tanah," ujar Fatoni.
Akibat pergerakan tanah juga merusak saluran irigasi Jeruk dan saluran irigasi Kedondong. Akibatnya, lebih dari 150 hektar lahan pertanian yang menggunakan dua saluran irigasi itu kini tidak dapat diolah untuk menanam padi.
"Dua irigasi rusak sejak lama, akibat pergerakan tanah tersebut," ungkap Fatoni.
Dikatakan, retakan dan pergerakan tanah dipicu oleh adanya pergerakan DAS Sungai Keruh. Pergerakan tanah terus terjadi terutama jika terjadi hujan lebat. Kondisi itu pihaknya telah melaporkan ke Pemerintah Brebes melalui Kantor Kecamatan Sirampog.
"Kami sudah melapor ke Pemkab Brebes, peninjauan oleh petugas dari Kecamatan, Polsek dan Koramil juga telah dilakukan," tutur Fatoni.
Pada ujung jalan utama menuju Desa Plompong juga telah dipasang papan peringatan larangan bagi kendaraan roda empat untuk melewati jembatan dan jalan menuju Plompong, karena sangat membahayakan keselamatan. Meski begitu beberapa kendaraan roda empat ada yang memaksakan untuk lewat, karena untuk memutar ke jalur lain jaraknya sangat jauh.
"Kondisi jembatan dan jalan sangat berbahaya bagi kendaraan roda empat, sehingga dipasang papan peringatan," kata Fatoni.