Revolusi Mental di Upacara Adat Ngasa Jalawastu
-Laporan Takwo Heriyanto
Selasa, 01/03/2016, 09:48:56 WIB

Bupati Brebes (kiri) dan , Sri Hartini (kanan) menggunting pita dimulainya upacara adat ngasa di Dukuh Jalawastu (Foto: Takwo Heryanto)

PanturaNews (Brebes) - Upacara adat ngasa setiap Selasa Kliwon yang dipertahankan oleh komunitas adat Dukuh Jalawastu, Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mengandung nilai-nilai revolusi mental. Karena di dalamnya terdapat kejujuran, saling bergotong-royong dan taat beribadah. serta tetap kukuh sebagai penjaga lingkungan.

“Nilai-nilai kesahajaan, rasa syukur, gotong royong, taat beribadah dan menjadi penjaga lingkungan, merupakan contoh kongrit revolusi mental yang tergambar dalam upacara adat ngasa,” ujar Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Sri Hartini saat mengikuti upacara adat ngasa di Dukuh Jalawastu, Desa Ciseureuh, Ketanggungan Brebes, Selasa 01 Maret 2016.

Kebudayaan yang dibangun masyarakat Jalawastu, lanjutnya, menjadi ruh bagi pembangunan bangsa. Juga perilaku anak-anak jalawastu yang tetap mempertahankan permainan tradisional, menjadikan mereka memiliki jiwa yang kokoh, termasuk mengakui kekalahan dan kemenangan ketika bertanding.

“Ada dua hal yang sesungguhnya kita sulit menemukan diera digital ini, yakni kebersamaan dan kesederhanaan. Padahal keduanya bisa menyelamatkan masyarakat dari generasi ke generasi,” ujar Hartini.

Betapa kita terkejut, sambungnya, saat ini, masyarakat kita telah dininabobokan dengan perkembangan teknologi informasi seperti gutget, tetapi sesungguhnya telah memberangus kebudyaan kita yang adiluhung.

Oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata Hartini, komunitas adat ini mendapat bantuan revitalisasi masyarakat adat sebesar Rp 480 juta. Bantuan itu diberikan pada tahun 2015 dan telah diwujudkan pemberdayaannya untuk pengembangan balai budaya, pemagaran situs Gedong Pesarean, pembangunan saung singgah, dan gapura kampung budaya Jalawastu.

Bangunan tersebut diresmikan oleh Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti dengan menggunting pita yang melintang di pintu masuk dan penandatangan prasasti.

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Brebes, Amin Budi Raharja menjelaskan, Dukuh Jalawastu telah sejajar dengan masyarakat adat lainnya yang telah dikenal lebih dahulu di Indonesia, seperti kaum Samin, masyarakat tengger Banyumas dan lain-lain.

Jalawastu mampu mencerminkan kesadaran masyarakat akan keberagaman budaya dan tradisi di Kabupaten Brebes. Betapapun kampung adat merupakan living culture yang berperan dalam pembentukan identitas sosial.

Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti SE menegaskan, kampung Jalawastu menjadi Desa Wisata dengan pemenuhan berbagai fasilitas pendukungnya. Nantinya warga akan diikutkan berbagai pelatihan dan pemenuhan kelembagaan. Sehingga dengan adanya pembinaan dan pengembangan, akan mampu bersaing dengan kampung budaya yang lain.

“Kita perlu menyiapkan akomodasi seperti home stay, atraksi (ngasa, air terjun, petilasan) dan amunitas atau daya dukung seperti jalan, kuliner khas dan lain yang harus dikemas dengan baik,” tandas Idza.

Jalawastu merupakan komunitas masyarakat di lereng Gunung Kumbang dan Gunung Sagara yang melestarikan tradisi Sunda-Jawa. Pedukuhan tersebut, telah terpelihara ratusan tahun lamanya dengan memegang teguh upacara adat budaya Ngasa yang digelar setiap Selasa Kliwon mangsa kasanga setiap tahunnya.

Sebagaimana terlihat pada Selasa 1 Maret 2016, sejak pukul 05.00 WIB, bada subuh, puluhan ibu-ibu menggendong cepon dengan tangan kanannya menjinjing rantang seng, menyusuri bebukitan Gunung Kumbang Brebes. Mereka bergegas menuju Dukuh Jalawastu, Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes dimana akan digelar upacara adat Ngasa.

Dengan wajah berseri, mereka melewati Jembatan Zubaedah bergegas menuju Pesarean Gedong. Sesampainya di sana, beberapa lelaki menggelar tikar. Dan ibu-ibu itupun menaruh makanan di atas tikar secara berjajar.

Lelaki tua yang disebut juru kunci Pesarean Gedong Makmur, beserta tetua lainnya dengan berpakaian putih-putih menyusul dibelakang rombongan ibu-ibu pembawa makanan.

Menurut penuturan Pemangku adat setempat, Dastam, masyarakat Jalawastu pantang makan nasi beras dan lauk daging atau ikan. Yang tersedia adalah jagung yang ditumbuk halus sebagai makanan pokoknya dengan lauk lalapan dedaunan, umbi-umbian, pete, terong, sambal dan dedaunan lainnya.

Begitupun dengan piring dan sendok yang digunakan, tidak menggunakan alat yang terbuat dari bahan kaca. Piring, sendok, cepon dan rantang yang digunakan mereka terbuat dari seng atau dedaunan.

Upacara adat Ngasa ini telah dilaksanakan oleh warga secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Upacara ini sebagai simbol tanda terimakasih kepada Tuhan yang maha kuasa atas segala nikmat yang telah dikaruniakan.

“Seperti di daerah pantai ada sedekah laut, di tengah-tengah ada sedekah bumi. Kami yang disini boleh dikata sebagai sedekah gunung,” ujar Dastam.

Upacara adat ini digelar setiap Selasa Kliwon pada Mangsa Kesanga. Gelaran Ngasa ini diadakan dalam kurun satu tahun sekali. Kali pertama, Ngasa digelar sejak masa pemerintahan Bupati Brebes IX Raden Arya Candra Negara.

Ngasa berarti perwujudan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang dianggap sebagai pencipta alam. Batara sendiri mempunyai ajudan yang dinamakan Burian Panutus. semasa hidupnya tidak makan nasi dan lauk pauk yang bernyawa.

“Semua itu, sebagai kebaktian kepada Batara,” imbuh Dastam.

Namun seiring perkembangan jaman dan masuknya agama Islam di wilayah itu, warga memasukan ajaran-ajaran Islam dalam upacara ngasta. “Hingga sekarang, masih ada 102 rumah dari 111 kepala keluarga yang dahulu masih bertahan,” kata Dastam.

Dari pantauan, kini telah berdiri dua buah mushola berukuran lebih kurang 4 X 6 meter persegi. Tidak terlihat ada pengeras suara, mushola tersebut terbuat dari lempengan kayu namun terlihat kokoh.

Yang unik di Dukuh Jalawastu, seluruh rumah yang dibangun semua berdinding kayu dan beratap seng. Rumahnya tidak boleh menggunakan atap genting dan tidak bersemen atau keramik. Selain itu berpantang menanam bawang merah meski Brebes merupakan komoditas utama penghasil bawang merah. Juga tidak boleh menanam kedelai serta memelihara kerbau, domba dan angsa.

“Bila yang melanggar maka ada bencana yang menimpa pula,” ungkapnya.