Zubaedah, Diobatkan Jadi Warga Kehormatan Jalawastu
-Laporan Takwo Heriyanto
Selasa, 01/03/2016, 09:43:32 WIB

Bupati Brebes (kanan) memakaikan jubah kepada Jubaedah sebagai tanda pemberian warga kehormatan Kampung Jalawastu (Foto: Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Anggota DPRD Brebes, Jawa Tengah, Zubaedah SAg dinobatkan sebagai warga kehormatan Kampung Jalawastu. Sebenarnya penobatan tersebut dilakukan tahun lalu, tetapi sempat tertunda akibat dia tidak hadir pada upacara adat Ngasa saat itu.

Jubaedah dinobatkan sebagai warga kehormatan, karena secara nyata telah menjadi tokoh penggagas kelestarian tradisi Ngasa, Kampung Jalawastu, Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Brebes. Pemberian tanda warga kehormatan ditandai dengan pemakaian pakaian adat oleh Bupati Brebes kepada Zubaedah.

Sebelumnya, Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE, Maestro Budaya Pantura, Drs Atmo Tan Sidik, Perencana Akses Infrastruktur, Ir Titi Yuliati dan Kasubbid Kebudayaan Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Wijanarto MHum juga dinobatkan jadi warga kehormatan.

Menurut Pemangku Adat Kampung Jalawastu, Dastam memandang perlu pemberian gelar warga kehormatan kepada mereka yang ikut nguri-nguri kebudayaan Asli Brebes yang adiluhung.

“Mereka telah berjasa memunculkan tradisi Ngasa kampung Jalawastu hingga mengorbit go Nasional,” kata Dastam usai upacara Adat Ngasa, Selasa 01 Maret 2016.

Upacara adat Ngasa, lanjut Dastam, merupakan salah satu kebiasaan turun menurun sejak ratusan tahun silam. Upacara ini sebagai bentuk sedekah kepada Tuhan atas segala nikmat.

"Ngasa adalah perwujudan syukur kami. Karena kami ada di gunung maka sedekahnya berupa sedekah gunung. Kalau yang di utara (Brebes utara) adalah sedekah laut karena hidupnya di wilayah laut," katanya.

Ia menerangkan, upacara adat ini digelar setiap Selasa Kliwon pada Mangsa Kesanga. Gelaran Ngasa ini diadakan dalam kurun satu tahun sekali. Dengan lokasinya di pelataran dukuh yang oleh masyarakat setempat disebut Pesarean Gedong.

Kegiatan ini amat unik karena perjamuan makanan pakai jagung dengan lauk umbian serta alas makannya bukan piring kaca. Jadi alas makan yang dipakai adalah piring berbahan seng. "Tidak pakai lauk bernyawa. Karena pantangan kami," pungkasnya.

Zubaedah, antara lain berjasa telah memberikan aspirasi dewan berupa infrastruktur jembatan yang kini dinamakan jembatan Zubaedah. Dengan telah dibangunnya jembatan tersebut, warga kampung Jalawastu tidak lagi menyeberang sungai untuk sampai ke Desa Ciseureuh maupun ke Kecamatan Ketanggungan.

Jubaedah berpendapat, kampung Jalawastu membawa kebanggaan tersendiri bagi dirinya, karena kebudayaan yang ada sulit sekali ditemukan di Indonesia. Terutama adanya kebersamaan dan kearifan local yang sulit ditemui di kota.

Kepada pemerintah, dia mendesak agar akses jalan bisa lebih diperlebar agar kampung Jalawastu bisa dilewati kendaraan roda empat ketika berpapasan. “Sementara jalannya udah bagus, tapi akan lebih bagus lagi kalau ada pengeprasan sehingga lebar bisa bersimpangan,” usul Zubaedah.

Dia juga memuji kebudayaan ada di Jalawastu bisa menyehatkan mental anak-anak. Karena walau bagaimanapun juga, anak-anak harus dipupuk lebih dini akan artinya kebersamaan, gotong royong, bertanggung jawab dan berserah diri pada Yang Maha Kuasa,” ungkapnya.