![]() |
|
|
Pendidikan dan filsafat tidak terpisahkan karena akhir dari pendidikan adalah akhir dari filsafat, yaitu kearifan (wisdom). Dan alat dari filsafat adalah alat dari pendidikan, yaitu pencarian (inquiry) yang akan mengantar seseorang pada kearifan.
Berfilsafat tentang pendidikan menuntut suatu pemahaman yang tidak hanya tentang pendidikan, tetapi juga tentang filsafat itu sendiri. Filsafat pendidikan tidak lebih dan tidak kurang dari suatu disiplin unik sebagaimana halnya filsafat sains atau sains yang disebut mikrobiologi.
Filsafat secara ringkas berkenaan dengan pertanyaan tentang analisis konsep dan dasar-dasar pengetahuan, kepercayaan, tindakan, dan kegiatan. Jadi dalam filsafat terkandung pengertian, yaitu analisis konsep dan pendalaman makna atau dasar dari pengetahuan dan sejenisnya. Dengan menganalisis suatu konsep, hakikat makna suatu kata dieksplorasi baik secara tekstual maupun juga secara kontekstual dalam penggunaannya.
Filsafat Pendidikan: Terdapat tiga persoalan umum yang disebut filsafat.
1.Metafisika (Metaphysics): Istilah lebih generik adalah ontology yang berkenaan dengan hakikat realitas, sedangkan metafisika berkenaan dengan hakikat eksistensi.
Metafisika bisa diartikan sebagai the theory of reality. Suatu upaya filosofis untuk memahami karakteristik mendasar atau esensial dari alam semesta. Metafisikawan berusaha menjelaskan rangkuman dan intisari. Mereka yang beraliran kuantitatif (yakni hakikat sebagai rangkuman realitas atau as the sum of reality) terbagi kedalam tiga posisi pandang: monisme, dualisme, dan pluralisme.
Sedangkan yang beraliran kualitatif (yakni hakikat sebagai intisari dari realitas atau as the substance of reality) terbagi kedalam 4 posisi pandang: idealisme, bahwa hakikat realitas bersifat mental atau spiritual, realisme bahwa hakikat realitas bersifat material atau fisis. Dua aliran tersebut termasuk kategori monisme.Thomisme yang mengkombinasikan dua corak aliran monisme sebelumnya. Pragmatisme yang menolak untuk mengkuantifikasi atau mengkualifikasikan realitas.
2.Aksiologi (Axiology): Aksiologi disebut sebagai the theory of value atau teori nilai. Bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk, benar dan salah, serta tentang cara dan tujuan. Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku etis.
3.Epistemologi (Epistemology): Epistemologi adalah bidang tugas filsafat yang mencakup identifikasi dan pengujian kriteria pengetahuan dan kebenaran. Beberapa pandangan tentang konsep pendidikan:
a.Pendidikan sebagai manifestasi (education as manifestation). Bahwa pendidikan adalah suatu proses untuk menjadikan manifes (tampak aktual) apa-apa yang bersifat laten (tersembunyi) pada diri setiap anak.
b.Pendidikan sebagai akuisisi (education as acquisition): Pendidikan digambarkan sebagai upaya untuk mengembangkan kemampuan seseorang dalam memperoleh dan menyerap informasi dari lingkungannya.
c.Pendidikan sebagai transaksi (education as transaction): Pendidikan adalah proses memberi dan menerima (give and take) antara manusia dengan lingkungannya. Filsafat dan pendidikan saling memberi dan menerima.
Sumber Daya Manusia
Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam rangka menjadi khalifah dimuka bumi, hal ini banyak dicantumkan dalam al-Qur’an dengan maksud agar manusia dengan kekuatan yang dimilikinya mampu membangun dan memakmurkan bumi serta melestarikannya. Untuk mencapai derajat khalifah di buka bumi ini diperlukan proses yang panjang, dalam Islam upaya tersebut ditandai dengan pendidikan yang dimulai sejak buaian sampai ke liang lahat.
Menurut Hadawi Nawawi 1994 Sumber daya manusia (SDM) adalah daya yang bersumber dari manusia, yang berbentuk tenaga atau kekuatan (energi atau power). Sumber daya manusia mempunyai dua ciri, yaitu : (1) Ciri-ciri pribadi berupa pengetahuan, perasaan dan keterampilan (2) Ciri-ciri interpersonal yaitu hubungan antar manusia dengan lingkungannya.
Sementara Emil Salim menyatakan bahwa yang dimaksud dengan SDM adalah kekuatan daya pikir atau daya cipta manusia yang tersimpan dan tidak dapat diketahui dengan pasti kapasitasnya. Beliau juga menambahkan bahwa SDM dapat diartikan sebagai nilai dari perilaku seseorang dalam mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa. Dengan demikian kualitas SDM ditentukan oleh sikap mental manusia (Djaafar, 2001 : 2).
Dalam Islam sosok manusia terdiri dua potensi yang harus dibangun, yaitu lahiriah sebagai tubuh itu sendiri dan ruhaniyah sebagai pengendali tubuh. Pembangunan manusia dalam Islam tentunya harus memperhatikan kedua potensi ini. Jika dilihat dari tujuan pembangunan manusia Indonesia yaitu menjadikan manusia seutuhnya, maka tujuan tersebut harus memperhatikan kedua potensi yang ada pada manusia.
Namun upaya kearah penyeimbangan pembangunan kedua potensi tersebut selama 32 tahun masa orde baru hanya dalam bentuk konsep saja tanpa upaya aplikasi yang sebenarnya. Bahwa pendidikan Islam memandang tinggi masalah SDM ini khususnya yang berkaitan dengan akhlak (sikap, pribadi, etika dan moral).
Kualitas SDM menyangkut banyak aspek, yaitu aspek sikap mental, perilaku, aspek kemampuan, aspek intelegensi, aspek agama, aspek hukum, aspek kesehatan dan sebagainya (Djaafar, 2001 : 2). Kesemua aspek ini merupakan dua potensi yang masing-masing dimiliki oleh tiap individu, yaitu jasmaniah dan ruhaniah.
Tidak dapat dipungkiri bahwa aspek jasmaniah selalu ditentukan oleh ruhaniah yang bertindak sebagai pendorong dari dalam diri manusia. Untuk mencapai SDM berkualitas, usaha yang paling utama sebenarnya adalah memperbaiki potensi dari dalam manusia itu sendiri. Dalam hal ini pendidikan Islam memiliki peran utama untuk mewujudkannya.
Abdul Rachman Shaleh (2000 : 203) menyatakan bahwa untuk menghadapi tuntutan pembangunan pada era globalisasi diisyaratkan dan diperlukan kesiapan dan lahirnya masyarakat modern Indonesia. Aspek yang spektakuler dalam masyarakat modern adalah penggantian teknik produksi dari cara tradisional ke cara modern yang ditampung dalam pengertian revolusi industri. Secara umum dapat dikatakan bahwa modernisasi masyarakat adalah penerapan pengetahuan ilmiah yang ada kepada semua aktivitas dan semua aspek hidup masyarakat. Peningkatan kualitas manusia hanya dapat dilakukan dengan perbaikan pendidikan, menyatakan ada beberapa ciri masyarakat atau manusia yang berkualitas, yaitu :
1.Beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, serta berakhlak mulia dan berkepribadian. 2.Berdisiplin,bekerja keras, tangguh dan bertanggung jawab. 3.Mandiri, cerdas dan terampil. 4.Sehat jasmani dan rohani. 5.Cinta tanah air, tebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial.
Masyarakat maju Indonesia menuntut kemajuan kualitas hasil pendidikan Islam. A. R. Saleh menyatakan bahwa modernisasi bagi bangsa Indonesia adalah penerapan ilmu pengetahuan dalam aktivitas pendidikan Islam secara sistematis dan berlanjut. Tujuan pendidikan nasional termasuk tujuan pendidikan agama adalah mendidik anak untuk menjadi anak manusia berkualitas dalam ukuran dunia dan akhirat. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama pada 2 jalur, yaitu lembaga pendidikan umum dan keagamaan.
Dalam menciptakan SDM yang bermutu sesuai tantangan globalisasi saat ini Pendidikan Islam memainkan peranan penting dalam pembinaan SDM khususnya kepribadian, sikap dan mental manusia berlandaskan agama selain potensi intelektualitasnya. Pendidikan Islam memiliki peran dan tingkat dasar dalam upaya peningkatan SDM, baik jasmaniah dan rohaniah.
(Sri Cahyati adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon, NIM: 150641168)