Filsafat Pendidikan
--None--
Sabtu, 30/01/2016, 01:27:23 WIB

Ilustrasi

Secara Etimologis Filsafat dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Yunani philosophia. Yang terdiri dari kata philen = mencintai, philis = cinta dan sophia = kebijaksanaan. Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Jadi kata majemuk “philosophia” berarti “daya upaya pemikiran dan renungan manusia untuk mencari kebenaran atau kebijaksanaan”.

Menurut Prof. Dr. Muhammad Yamin, bahwa pengertian Yunani “philosophos” itu mula-mula muncul untuk menandingi kata “sophos” yang berarti “Si tahu”, atau “Si pandai” yang merasa dirinya telah memiliki kebenaran dalam genggamannya. Sedangkan philo-sophos dalam segala kerendahan hati hanya mencari dan mencintai yang masih terus bergerak dalam perjalanan, bagaikan musafir setia berjalan terus menuju ke arah kebenaran sejati.

Adapun makna kedua dari pengertian filsafat adalah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan kalbunya secara sungguh-sungguh, yakni secara sistematis, fundamental, universal, integral, dan radikal untuk mencari dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, kebenaran, dan kearifan).

Dari pengertian ini, orang dapat memahami bahwa tujuan filsafat, pada mulanya adalah mulia. Yakni, memuat orang cinta kebijaksanaan, dan seterusnya menjadi bijaksana.

Filsafat merupakan hasil pemikiran yang didasarkan pada rasio (akal), dan karena rasio (akal) adalah anugerah Allah, maka capaiannya kadang-kadang bisa benar. Tetapi, karena ia bukan wahyu, maka akal pun bisa keliru. sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu lain, produk filsafat tidak semuanya baik, tetapi ada yang buruk. Sisi buruknya bisa sangat berbahaya. Sebab filsafat berbicara tentang berbagai persoalan penting, antara lain tentang manusia, agama, dan Tuhan.

Pendidikan dalam arti luas berarti suatu proses untuk mengembangkan semua aspek kepribadian manusia yang mencakup pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilannya. Pendidikan pada hakikatnya akan mencakup kegiatan mendidikan, mengajar, dan melatih yang di dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional mencakup kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan. Pendidikan menyangkut hati nurani, nilai-nilai, perasaan, pengetahuan.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam melaksanakan proses pendidikan, antara lain: 1.Adanya hubungan edukatif yang baik antara guru dan peserta didik, 2.Adanya metode pendidikan yang sesuai, 3.Adanya sarana dan perlengkapan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, dan 4.Adanya suasana yang mendukung pembelajaran.

Setiap filsafat pendidikan bertujuan mengemukakan sebuah sistem konsep keseluruhan ihwal pendidikan yang terbaik menurut pandangan atau aliran tertentu. Setiap cabang ilmu pendidikan bertujuan menggambarkan apa adanya keadaan empirik sebuah aspek yang menjadi ihwal pendidikan secara sistematis dan cermat argumentatif.

Oleh karena itu, fungsi pendidikan adalah mempersiapkan setiap individu untuk dapat hidup sempurna, melalui pendidikan intelektual, moral, dan jasmani dengan cara menguasai ilmu tentang hidup. Pertanyaan tentang cara mengajar yang benar harus dipertimbangkan berdasarkan penilaian dari pendidik-pendidik yang sangat cakap dan terkemuka.

Studi tentang metode dalam mengajar merupakan studi tentang cara yang terbaik dalam melakukan apa yang harus dilakukan dengan cara tertentu. Penggunaan metode dalam mengajar harus dilihat bahwa mata pelajaran yang diajarkan terwujud dalam pengalaman siswa.

Untuk memahami pendidikan dengan baik diperlukan banyak ilmu bantu yang harus dikuasai. Ilmu-ilmu bantu tersebut adalah ilmu-ilmu tentang manusia, tidak hanya terbatas pada ilmu psikologi. Ilmu-ilmu bantu tersebut mencakup pula cabang-cabang ilmu seperti biologi manusia, fisiologi manusia, sosiologi, antropologi, dan sebagainya. Sehubungan dengan hal ini, Brubacher menyarankan bahwa setiap orang yang bekerja secara profesional dalam bidang pendidikan harus menguasai aspek-aspek sosiologis, psikologis, historis, dan filosofis dari profesi pendidikan.

Pendidikan upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar Pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.

Filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Filsafat pendidikan bukanlah filsafat umum (murni), tetapi filsafat khusus (terapan). Filsafat umum mempunyai objek, antara lain: 1.Hakikat kenyataan segala sesuatu (metafisika), 2.Hakikat mengetahui kenyataan (epistemologi), 3.Hakikat menyusun kesimpulan pengetahuan tentang kenyataan (logika), dan 4.Hakikat menilai kenyataan (aksiologi).

Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, nilai dan Praktik pendidikan atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan.

Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta didik. Proses pendidikan adalah proses perkembangan yang bertujuan. Tujuan proses perkembangan itu secara almiah adalah kedewasaan, sebab potensi manusia yang paling alamiah adalah bertumbuh menuju tingkat kedewasaan, kematangan.

Jadi Hubungan antar filsafat dengan pendidikan adalah, filsafat menelaah suatu realitas dengan luas dan menyeluruh, sesuai dengan karateristik filsafat yang radikal, sistematis, dan menyeluruh. Konsep tentang dunia dan tujuan hidup manusia yang merupakan hasil dari studi filsafat, akan menjadi landasan dalam menyusun tujuan pendidikan. Nantinya membangun sistem pendidikan dan praktek pendidikan akan dilaksanakan berorientasi kepada tujuan pendidikan ini. Filsafat pendidikan tidak hanya terbatas pada fakta faktual, tetapi filsafat pendidikan harus sampai pada penyelasaian tuntas tentang baik dan buruk, tentang persyaratan hidup sempurna, tentang bentuk kehidupan individual maupun kehidupan sosial yang baik dan sempurna. Ini berarti pendidikan adalah pelaksanaan dari ide-ide filsafat. Dengan kata lain filsafat memberikan asas kepastian bagi nilai peranan pendidikan, lembaga pendidikan dan aktivitas penyelengaraan pendidikan.

Beberapa aliran filsafat pendidikan yang berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, misalnya, idealisme, realisme, pragmatisme, humanisme, behaviorisme, dan konstruktivisme. Idealisme berpandangan bahwa pengetahuan itu sudah ada dalam jiwa kita. Untuk membawanya pada tingkat kesadaran perlu adanya proses introspeksi. Tujuan pendidikan aliran ini membentuk karakter manusia. Aliran realisme berpandangan bahwa hakikat realitas adalah fisik dan ruh, bersifat dualistis. Tujuan pendidikannya membentuk individu yang mampu menyesuaikan diri dalam masyarakat dan memiliki rasa tanggung jawab kepada masyarakat. Pragmatisme merupakan kreasi filsafat dari Amerika, dipengaruhi oleh empirisme, utilitarianisme, dan positivisme. Esensi ajarannya, hidup bukan untuk mencari kebenaran melainkan untuk menemukan arti atau kegunaan. Tujuan pendidikannya menggunakan pengalaman sebagai alat untuk menyelesaikan hal-hal baru dalam kehidupan priabdi dan masyarakat. Humanisme berpandangan bahwa pendidikan harus ditekankan pada kebutuhan anak (child centered).

Tujuannya untuk aktualisasi diri, perkembangan efektif, dan pembentukan moral. Paham behaviorisme memandang perubahan perilaku setelah seseorang memperoleh stimulus dari luar merupakan hal yang sangat penting. Oleh sebab itu, pendidikan behaviorisme menekankan pada proses mengubah atau memodifikasi perilaku. Tujuannya untuk menyiapkan pribadi-pribadi yang sesuai dengan kemampuannya, mempunyai rasa tanggung jawab dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan diperoleh melalui proses aktif individu mengkonstruksi arti dari suatu teks, pengalaman fisik, dialog, dan lain-lain melalui asimilasi pengalaman baru dengan pengertian yang telah dimiliki seseorang. Tujuan pendidikannya menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan persoalan hidupnya.

(Feggy Nur Diana Sari adalah mahasiswa Universitas Muhamaadiyah Cirebon, Prodi-klas: PGSD - SD15-A3 NIM: 150641126)