![]() |
|
|
Memotivasi anak untuk belajar berbeda-beda menurut usianya. Di jenjang SD, usia ini dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kelas rendah (kelas 1-3 SD) dan kelas atas (kelas 4-6 SD). Berikut ini beberapa TIPS / Teknik yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar anak, antara lain: A. Kelas 1-3 Sekolah Dasar.
Bercerita: Sebelum tidur sekitar 5-10 menit usahakan mendongeng atau bercerita tentang cerita-cerita ringan yang anak sukai, dan sesekali kita bercerita karangan sendiri mengenai Putri Raja yang malas belajar dan sebagainya. Tentu itu sangat menarik bagi anak dan jangan lupa sampaikan pesan moral yang dapat dipetik dari cerita tadi. Dapat pula menyampaikan pelajaran sejarah kebudayaan Islam misalnya, sambil tiduran di kasur dan sebagainya.
Memuji: Sebagai orang tua jangan pelit memberi pujian kepada anak, berapapun hasil usaha yang telah dilakukan anak. Misalnya, ketika anak mendapat nilai bagus sains, maka katakanlah, “Kamu pintar dalam pelajaran Sains, ya Nak.” Atau ketika tampil menari dalam Pentas Seni, maka katakan, “Alhamdulillah, anak mama pintar dan bagus menarinya, Mama bangga padamu.”
Ketika kita memuji kepandaian atau kebaikan anak secara spesifik, maka akan tumbuh rasa optimis, otomatis motivasi diri akan tertanam dengan mudah. Jadi, sebuah pujian yang spesifik akan menjadi obat mujarab untuk menumbuhkan motivasi belajar dalam diri anak.
Belajar sambil bermain: Pada prinsipnya hampir sama dengan cara belajar anak TK. Namun, untuk anak SD alihkan ke cara bermain yang lebih konstruktif. “Mama punya uang Rp 5.000,00 dibelikan 1 Es Cream harganya Rp 3.000,00. Jadi, uang Mama tinggal berapa ya?”. Suasana belajar pun tak perlu harus serius. Jadi tak selalu harus belajar di belakang meja, bisa juga sambil tiduran di lantai, di mall, di alam terbuka, dalam mobil, dan sebagainya.
Manfaatkan PR: Sampai saat ini Pekerjaan Rumah (PR) untuk murid kelas rendah masih menjadi pro-kontra. Selama tidak berlebihan, sebenarnya PR banyak memberi manfaat. Salah satunya untuk mengulang sedikit pelajaran yang sudah didapat anak di sekolah. Masalah timbul kalau anak sering dijejali PR dan inilah yang sering menjadi beban bagi anak.
Jadilah model yang baik: Ini berarti orang tua jangan sampai terlihat santai saat anak sedang belajar. “Misalnya, ketika sedang mengerjakan PR anak melihat Mamanya menonton televisi dan ayahnya tidur. Bisa-bisa anak merasa diperlakukan tidak adil. ‘Ih, ayah, kok, bisa tidur sedangkan aku harus belajar?" Akan lebih baik bila saat anak belajar, orang tua juga tampak “belajar”, seperti menemani anak sambil membaca koran atau buku. Dengan begitu anak akan mendapat panutan.
Tetapkan jam belajar: Misalnya, dari jam 6 sampai 8 disepakati sebagai jadwal belajar anak. Namun, jadwal harus dibuat dengan mempertimbangkan jam sekolahnya. Berilah ia waktu untuk berisitirahat sebelum waktu belajar. Saat waktunya belajar, anak harus diberi pengertian bahwa rentang waktu itu harus diisi hanya untuk kegiatan belajar. Artinya ia tidak nonton teve, tidak mendengarkan radio, atau tidak bermain playstation.
Tetapkan target: Dan yang terakhir yaitu buatlah target (nilai) yang akan dicapai. Ketika anak-anak sadar akan target tersebut, maka orang tua akan mudah dalam membimbing atau mengarahkan mereka dalam membuat rencana belajar agar target bisa tercapai. Misalnya, target minimum nilai rata-rata rapor Affany adalah 8,5 sedangkan Azzah 8,0. Atau bisa juga target nilai pelajaran tertentu dan sebagainya.
B.Kelas 4-6 Sekolah Dasar: Anak-anak SD kelas atas sebenarnya sudah diharapkan memiliki self learning regulation ataukesadaran untuk belajar sendiri. Jika pada anak kelas 1-3 SD, orang tua masih sangat terlibat dalam proses belajar anak, maka pada anak kelas 4-6 SD orang tua hanya jadi pendamping saja. Mereka sudah harus tahu apa yang mesti dikerjakan.
Namun begitu, orang tua tetap perlu menumbuhkan motivasi belajarnya agar tak kendur. Caranya, ingatlah bahwa salah satu ciri anak usia ini adalahpenggunaan logika yang sudah semakin mendalam. Orang tua perlu memberikan alasan-alasan yang masuk akal tentang pentingnya belajar. Berikut beberapa tipsnya:
1.Ajak membaca & Dorong Anak untuk mengungkapkan pendapatnya: Isi dunia anak dengan membaca dan berilah anak dorongan untuk dapat mengungkapkan pendapatnya, berbicara tentang perasaannya, serta membuat pilihan. Misalnya, anak memilih buku bacaan sendiri, bisa memilih kegiatan ekstrakurikuler sendiri, dapat meminta masukan pada keputusan keluarga dan menunjukkan bahwa kita sebagai orang tua menghargainya.
2.Tanyakan tentang apa yang anak pelajari di sekolah: Kita menanyakan pelajarannya bukan nilainya. Sekali-sekali mintalah pada anak agar ia mengajarkan apa yang diperoleh di sekolah kepada kita dengan bahasa dan kata-kata mereka sendiri. Hal ini bisa menguatkan ingatannya pada pelajaran tersebut.
3.Kaitkan dengan Hobinya: Kalau hobi anak adalah menonton acara kuis di TV, orang tua bisa memberi komentar. “Dia bisa dapat menang dan dapat hadiah mobil karena pintar. Wah, pasti dari kecil dia sudah senang belajar dan bisa mengatur waktu, deh!
4.Ajak untuk Membuat Jadwal: Pada usia ini biasanya anak mulai memiliki banyak kegiatan. Ada latihan tari, vokal, renang, jalan-jalan dengan teman, juga main games. Oleh karena itu, libatkan anak dalam pengaturan jadwal kegiatannya.
Jelaskan bahwa anak boleh memiliki kegiatan apa pun, tapi belajar merupakan prioritas utama. Dengan diberi pengertian seperti itu dan dibiarkan mengatur jadwal sendiri, ia tidak akan merasa terpaksa. Jangan lupa, keterpaksaan hanya akan mengendurkan motivasi anak dalam belajar.
5.Tetapkan Target: Sama dengan kelas rendah, untuk kelas atas juga perlu membuat target nilai atau target kegiatan apapun yang mereka lakukan. Sehingga orang tua lebih mudah mengarahkannya dan jangan emosi apabila target tidak tercapai tetapi evaluasi dan carilah cara penyelesaiannya.
6.Jadikan Peristiwa Sehari-hari menjadi Kesempatan Belajar: Belajar tidak harus di dalam kelas saja, atau di rumah saja, di manapun atau peristiwa yang terjadi di sekitar kita bisa dijadikan bahan belajar. Doronglah anak kita untuk mengeksplorasi dunia di sekelilingnya, mengajukan pertanyaan dan membuat hubungan-hubungan dengan pelajaran di sekolahnya/ penyelesain masalahnya.
7.Rencanakan Masa Depan: Karena murid-murid kelas atas, terutama kelas 5 dan 6 sudah akan memasuki sekolah lanjutan, orang tua perlu mengajak anak untuk mengadakan rencana masa depan. “Kamu mau masuk SMP mana? Kira-kira di situ UN-nya berapa, ya? Yuk kita mulai kejar dari sekarang supaya kamu bisa lolos ke sana!”
Berdasarkan penelitian, anak-anak yang berhasil ternyata memiliki pengaturan waktu yang baik, tertib mengikuti jadwal, dan disiplin dalam belajar. Itu semua bisa didapat bila anak sudah memiliki self learning regulation.
Namun ingat, selain memotivasi anak untuk belajar, orang tua juga perlu memberinya waktu bermain. Jangan sampai tujuh hari dalam seminggu diisi kegiatan belajar terus-menerus. Lebih baik gunakan hari libur sebagai playtime untuk menghindari kebosanan anak akan belajar.
Selain itu sekali-kali berilah anak hadiah apabila mereka memenuhi target nilai yang diperolehnya sehingga dapat meningkatkan motivasi dan semangat belajarnya.
Cara-cara di atas bukanlah sesuatu yang susah untuk diterapkan. Masalahnya, banyak orang tua tidak cukup konsisten dan sering tidak fokus karena berharap semuanya bisa dengan cara instan/cepat. Jadi jika kita ingin berhasil menumbuhkan motivasi belajar dalam diri anak, ingatlahdua hal: FOKUS dan KONSISTENSI.
(Wulan Novita adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Kelas: SD15/A3)