Filsafat Pendidikan Dalam Kajian Psikologis
--None--
Rabu, 27/01/2016, 07:50:02 WIB

Ilustrasi

Teori-teori psikologis merupakan pandangan-pandangan dunia yang komprehensif yang berfungsi sebagai basis bagi guru dalam pendekatan praktek pengajaran. Orientasi-orientasi pengajaran pada pokoknya berhubungan dengan pemahaman kondisi-kondisi yang diasosiasikan dengan pengajaran. Orientasi psikologi yang mempengaruhi filsafat pendidikan, diantaranya ada tiga hal yaitu psikologi humanistik, behaviouristik, dan konstruktivistik.

Psikologi Humanistik

Humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950, sebagai reaksi terhadap behaviourisme dan psikoanalisis. Aliran ini secara eksplisit memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan teori psikologis.

Psikologi Humanistik menekankan kebebasan personal, pilihan, kepekaan dan tanggung jawab personal, psikologi humanistik memfokuskan pada prestasi, motivasi, perasaan tindakan dan kebutuhan. Tujuan pendidikan dalam kajian psikologi humanistik ini, adalah aktualisasi diri individual.

Belajar menurut pandangan humanisme merupakan fungsi dari keseluruhan pribadi manusia, yang melibatkan faktor intelektual dan emosional, motivasi belajar harus datang dari dalam diri anak itu sendiri. Proses belajar mengajar menekankan pentingnya hubungan interpersonal, menerima siswa sebagai seorang pribadi yang memiliki kemampuan, dan peran guru sebagai partisipan dalam proses belajar bersama.

Psikologi humanistik dapat dimengerti dari tiga ciri utama, yaitu: 1. Psikologi humanistik menawarkan satu nilai yang baru sebagai pendekatan untuk memahami sifat dan keadaan manusia. 2. Psikologi humanistik menawarkan pengetahuan yang luas akan kaedah penyelidikan dalam bidang tingkah laku manusia. 3. Psikologi humanistik menawarkan metode yang lebih luas akan kaedah-kaedah yang lebih efektif dalam pelaksanaan psikoterapi.

Psikologi Behavioristik

Behavioristik didasarkan pada prinsip bahwa perilaku manusia yang diingikan merupakan produk desain, dan bukan kebetulan. Kalaupun seakan-akan kita bebas, perilaku kita bener-bener ditentukan oleh tekanan-tekanan lingkungan yang membentuk perilaku kita.

Psikologi behaviorisme memaknai psikologi sebagai studi tentang perilaku dan sistem ini telah mendapat dukungan kuat dalam perkembangannya di abad 20 Amerika Serikat. Dalam pandangannya, perilaku yang dapat diamati dan dikuantifikasi memiliki maknanya sendiri, bukan hanya berfungsi sebagai perwujudan peristiwa-peristiwa mental yang mendasarinya.

John B. Watson (1878-1958) adalah perintis psikologi behavioristik yang utama dan B. F. Skinner (1904-1990) adalah promotor terkenalnya. Watson terlebih dahulu mengklaim bahwa perilaku manusia terdiri dari stimulisasi spesifik yang muncul dalam respon-respon tertentu. Sebagian, ia mendasarkan bahwa pada konsepsi barunya terhadap pembelajaran pada pengalaman klasik yang dilaksanakan oleh psikolog Rusia Ivan Pavlov (1984-1936).

Dalam teori ini guru hanyalah perlu mengetahui bahwa semua pembelajaran adalah pengkondisian dan mengikuti empat langkah berikut:Mengidentifikasi perilaku yang diharapkan dalam bentuk yang konkrit. b. Membangun suatu prosedur untuk mencatat perilaku-perilaku spesifik dan menghitung frekuensi perilakunya. c. Untuk masing-masing pertilaku, identifikasi suatu pemerkuat (reinforcer) yang cepat. d. Pastikan bahwa para siswa menerima reinforcer sesegera mungkin setelah menunjukan suatu perilaku yang diharapkan.

Metode pokoknya adalah pengajaran individual, dimana para siswa melakukan proses dalam langkah mereka sendiri melalui modul-modul yang telah ia himpun. Modul-modul mencakup lima bidang utama yaitu membaca, menulis, matematika, sains urnum, dan ejaan. Namun modul itu tidak siap pakai sampai tahun berikutnya.

Psikologi Konstruktifistik

Psikologi konstruktifistik memfokuskan pada proses-proses pembelajaran bukannya pada perilaku belajar. Sejak pertengahan tahun 1980-an, para peneliti telah berusaha untuk mengidentifikasi bagaimana para siswa mengkonstruksi/membentuk pemahaman mereka terhadap bahan yang mereka pelajari. Kaum konstruktivis memfokuskan pada proses-proses dan strategi-strategi mental yang digunakan para siswa untuk belajar.

Konstruktivisme mengetahui bahwa pembelajaran adalah suatu proses pembentukan makna yang aktif, dimana para siswa bukanlah pasif informasi. Pada kenyataanya para siswa terus-menerus terlibat dalam upaya memahami aktivitas di sekeliling mereka. Jadi, guru hams memahami pemahaman siswa, dan menyadari bahwa pembelajaran siswa dipengaruhi oleh pengetahuan awal pengalaman, sikap dan interaksi sosial

(Nur Fauziyah Utami adalah mahasiswa Universitas Muammadiyah Crebon, Kelas: SD-A.2 Nim: 150641054)