![]() |
|
|
Melihat bawang merah atau telor asin pasti ingat Brebes, sekalipun itu bukan orang Brebes. Begitu kuat brading bawang merah dan telor asin terhadap Brebes. Karena bawang merah Brebes berbeda aroma dan rasa, kata penikmat bawang merah. Brebes juga menjadi lumbung utama dalam memenuhi kebutuhan Nasional bawang, kurang lebih 30% supply bawang nasional dari Brebes, sehingga Brebes memiliki peran strategis dalam kebijakan nasional tentang bawang.
Orang-orang Brebes begitu mencintai dan tangguh dalam melakukan pekerjaan sebagai petani bawang merah. Pada saat menanam bawang, maka petani mampu mengalahkan kepentingan segalanya demi suksesnya penanaman bawang itu sendiri. Petani bawang bekerja tak kenal waktu, tenaga dan biaya. Mereka mempertaruhkan segalanaya demi bawang.
Berdasar pada ilmu kebiasaan dari para orang tuannya itu sebagai dasar mereka bertani. Sentuhan teknologi tepat guna jauh dari gambaran mereka, sentuhan ilmu kampus juga jauh dari teknik memelihara dan pengobatan mereka. Maka tidak heran jika dalam aplikasi obat-obatan pertanian, menjadi liar tanpa ada standar yang baku dalam menyelesaikan masalah hama bawang.
Satu penyakit bawang yang sama, bisa berbeda dengan satu dan yang lain. Mulai dari shampoo rambut, sabun mandi, telor ayam hingga formalin dan semen putih untuk bahan bangunan, ikut tandang (diguakan/ikut serta) untuk obat bawang. Itulah Formula Awagan (tanpa dasar ilmu) model petani bawang tanpa ada dasar ilmu kimia pasti, untuk menyelasaikan permasalahan hama bawang sehingga kita bisa bayangkan, bagaimana struktur kerusakan tanah pertanian di Brebes.
Apalagi managemen jauh dari pikiran petani, namun tekat dan keyakinan serta rasa syukur petani bawang perlu dicontoh untuk kita semua, karena petani bawang tetap merasa untung walaupun bawang yang mereka tanam tidak panen sekalipun. Tingkat pasrah dan ikhlas terhadap Allah, begitu tinggi. Mengapa Brebes diberikan keberkahan untuk rakyatnya, karena petaninya selalu bersyukur terhadap Allah.
Peran Pemerintah Daerah
Dalam melaksanakan keberlangsungan pertanian bawang merah, hadirnya pemerintah daerah di tengah-tengah petani masih belum maksimal. Karena petani bawang tidak mendapatkan pelayanan ekslusif dari para pejabat daerah. Ketika bawang murah, kekruangan suplay air, harga obat-obatan pertanian mahal, gagal panen, diserbu bawang import dan diserang hama.
Aksi pemerintah seperti polisi India dalam film (terlambat datang) untuk memberikan solusi atas permasalahan para petani. Pemkab Brebes tidak serius mengurus bawang, karena sampai dengan saat ini belum ada Laboratorium bawang merah yang mampu memformulakan teknik pertanian ideal bagi warga Brebes sehingga pola pengolahan tanah, suplay air yang cukup, pengobatan yang ramah lingkungan, mengimplemtasikan manajemen modern sehingga bisa untung dalam setiap musim tanam. Tidak ada Tenaga Ahli yang menguasai ilmu bawang merah yang menjadi pejabat dan bidang khusus pada dinas terkait yang khusus mengurusi bawang merah.
Pasar dan Gudang Bawang Mangkrak
Mangkraknya pasar bawang Klampok dan gudang-gudang bawang. bisa menjadi indicator lemahnya peran pemerintah daerah terhadap petani. Mangkraknya asset daerah itu membutikan begitu keterpihakan para birokrat terhadap petani sangat sedikit/lemah. Tak salah bagi para petani bawang jika mereka menggunakan teknik dan ilmu para bapak/mbah meraka dalam bertani, walaupun mereka juga tahu bahwa bapak/mbah meraka tidak mengenyam ilmu kampus pertanian.
Jadi tak salah mereka jika dalam membasmi hama mereka mengunakan shampoo rambut, sabun mandi, telor ayam hingga formalin dan semen putih untuk bahan bangunan dipakai obat bawang. Ini adalah masalah nyata yang dihadapi petani bawang Brebes hingga sekarang.
Pejabat terkait dengan pertanian lebih bekerja pada sisi Administratif, namun kurang menyentuh dan Bebrayan dengan para petani. Akibanya pejabat terkait dengan pertanian kurang care/peduli dan menguasai permasalahan dasar pertanian bawang. Sehingga mereka tidak tahu persis akan melakukan apa, jika petani menghadapi permasalahan di lapangan. Tidak adanya exspert/ahli dalam birokrasi yang menguasai seluk beluk bawang merah, menjadi masalah besar.
Solusi
Berdasar pada hasil study banding penulis pada tahun 2012 ke Wat Yanasangvararam Agricultural and development Center, Thailand, disana ada laboratoium untuk penelitian dan pengembangan pertanian organic yang diinisiatori Raja Thailand. Pertanian di Thailand pada awalnya juga sangat tradisional dan menggunakan kimiawi, namun Raja mengambil langkah menyekolahkan warganya untuk belajar pertanian di berbagai negara di belahan dunia.
Hasil belajar ilmu dan teknologi pertanian kerajaan Thailand, menyiapkan lahan kurang lebih 20 hektar untuk warganya yang telah belajar pertanian. Hasil penelitian yang dilaksankan di laboratorium pertanian, tidak serta merta diterima dengan baik oleh para petani di Tahiland. Ketika mendapat penolakan, petani dengan kegigihan pemerintah dalam memberikan ilmu kepada kelompok tani secara terus menerus, lama kelamaan membuahkan hasil.
Pertanian Thailand yang dulu menggunakan kimiawi menjadi organic. Bahwa konsep pertanian di Thailand pada prinsipnya belajar dari alam yaitu “hutan”. Kata mereka tanaman di hutan tidak ada yang di pupuk secara kimia, bahwa di hutan tidak ada yang disemprot obat kimia, tapi tanaman di hutan sehat dan subur.
Bahwa dengan keseimbangan alami, maka pertanian pun bisa tanpa obat-obatan kimia. Perlu semua element untuk terjadinya sebuah Mind Set para petani bawang Brebes yang kita cintai. Pemerintah perlu mengoptimalkan warga Brebes yang belajar ilmu kimia, ilmu tanah, ahli pengairan dan ahli perdagangan dalam rangka kepedulian dan sukses pertanian bawang merah Brebes.
Orang yang ahli bawang di dinas perlu ditingkatkan kemapuan dan kapasitasnya. Sehingga bisa menjadi konselor bagi para petani, ketika mereka menghadapi permasalahan terkait pertanian. Karena berlakunya Mayarakat Ekonomi Asean (MEA), mau tidak mau akan berdampak secara nyata terhadap para petani. Jika petani tidak mendapat ilmu pertanian yang benar, maka produk pertanian kita tidak bisa dijual secara bebas di negara lain. Dan akibatnya petani kita akan mendapat keuntungan besar.
Maka penulis berharap Pemerintah Kabupaten Brebes, mampu merespon dinamika pertanian global demi kesejahteraan petani Brebes. Jika tidak maka kita akan dijadikan obeject penjualan pupuk kimia, obat-obatan, bibit import dan lebih parah lagi kita menjadi sasaran bawang import.
Karena perdagangan bebas itu sudah tidak bisa dibendung lagi, penyiapan Laboratorium Bawang Merah menjadi urgen untuk Brebes sebagai sarana penelitian dan pengembangan petani bawang, baik dari sisi teknik pengolahan tanah, teknik penanaman, teknik pengobatan, management pertanian dan juga pemasaran dan pengolahan pasca panen.
Banyak warga Brebes yang potensial di bidang pertanian. Beri meraka bea siswa untuk belajar lebih dalam lagi ilmu pertanian secara umum dan khususnya bawang merah. Diperlukan bidang yang khusus mengurus bawang merah yang di isi oleh para exspert/ahli tentang bawang yang mampu menjadi pusat problem solving ketika petani mengalami masalah pertanian.
Dinas terkait jangan hanya mengurus berkas administrative di kantor, tapi harus mengurus petani secara nyata. Wujudkan harapan Presiden Jokowi dengan Kerja, Kerja dan Kerja,.bukan kerja, kerja, kerja apa. Jangan kapok tanam bawang merah sedulur tani, ingat bawang merah ingat Brebes, mudah-mudahan Brebes barokah, amien.
(Kustoro WHY adalah petani bawang merah, Ketua Departemen Hubungan Masyarakat dan Antar Lembaga DPP Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), tinggal di Brebes)