Keluarga Tentram, Benteng Kokoh Menangkal Narkoba
-Laporan Zaenal Muttaqin
Sabtu, 23/01/2016, 08:35:07 WIB

Ahmad Tohari (paling kanan) dan Atmo Tan Sidik (tengah) saat dialog bahaya penyalahgunaan Narkoba (Foto: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Bahaya penyalahgunaan narkoba benar-benar telah mengepung negeri ini, keselamatan bangsa juga telah menjadi taruhan yang nyata. Bahkan tingkat bahayanya lebih besar dari terorisme. Untuk membendung ancaman bahaya Narkoba, keluarga yang tenang dan tentram adalah benteng kokoh.

Hal itu disampaikan Budayawan kondang asal Banyumas, Ahmad Tohari saat menjadi pembicara dalam dialog Bahaya Penyalahgunaan Narkoba, Meretas Masalah: Buaya Vs Budaya yang digelar di Pendopo II Bupati Brebes di Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Sabtu 23 Januari 2016.

"Kita harus bahu membahu bertindak untuk membendung dan melawan acaman penyalahgunaan Narkoba ini," ujarnya saat pemaparan materinya di acara yang digelar oleh Badan Narkotika (BNK) Kabupaten Brebes ini.

Menurutnya, masyarakat tradisional terutama di pedesaan, sebenarnya sudah lama mengenal 'zat bius' yang dulu populer disebut candu, jadam, opium atau lainnya. Termasuk juga beberapa jenis tanaman yang punya daya psikotropika, seperti ganja, kecubung, bleketupuk, cekluk dan lainnya.

"Tetapi dahulu orang mengambil manfaatnya dengan cukup arif. Umpamanya untuk menghilangkan rasa sakit usai melahirkan, biasanya ibu melahirkan diberi rokok dengan sedikit jadam," tutur Tohari, penulis novel 'Ronggeng Dukuh Paruk' yang cukup terkenal ini.

Dikatakan, dahulu orang dapat membatasi sepanjang diperlukan manfaatnya dalam mengkonsumsi 'barang-barang haram' tersebut, sehingga dapat terhindar dari ketergantungan atau adiksi. Dahulu masyarakat dapat membatasi itu, karena masih terikat dengan nilai-nilai moral dan ketaatan pada ajaran agama juga tradisi atau kearifan lokal.

"Dahulu orang begitu patuh pada larangan melakukan apa yang disebut lima-M, yaitu maling (mencuri), main (berjudi), madon (berzina), minum (minuman keras) dan madat (menghisap candu)," terang Tohari.

Lebih lanjut Ahmad Tohari menjelaskan, bahwa sosiologi masyarakat masa lalu berada dalam kondisi yang relatif lebih tenang lahir dan batin. Sementara saat ini di era industrial karena dikejar-kejar oleh keinginan dan kebutuhan yang terus meningkat, karena selalu diiming-imingi dan dirayu serta diprovokasi untuk segera lari membeli produk-produk baru, sehingga menciptakan masyarakat yang gelisah atau 'kemrungsung' dan tertekan.

"Dari kondisi seperti itu seringkali dapat menjadikan orang lari dari dunia nyata dan masuk ke dunia narkoba yang penuh kenikmatan, meski palsu dan mengancam jiwa," tuturnya.

Membendung ancaman bahaya penyalahgunaan Narkoba yang begitu dahsyat itu, diingatkan agar masyarakat memperkokoh benteng keluarga. Yaitu dengan membangun kondisi di rumah agar anak-anak kita merasa tenang lahir batin, sehingga mereka tidak perlu 'lari' dari rumah.

"Termasuk para orang tua juga dapat memberi contoh dengan tidak merokok, karena merokok adalah pintu gerbang menuju penyalahgunaan narkoba," tegas Tohari.

Sementara itu Kepala BNK Brebes, Drs H Atmo Tan Sidik yang menjadi pembicara kedua dalam dialog itu menyatakan, bahwa kasih sayang dan spiritualitas dalam keluarga, sangat menentukan dalam upaya mencegah bahaya penyalahgunaan narkoba pada generasi muda.

"Pemberantasan narkoba dengan pendekatan spiritual dan budaya lokal yang arif, akan sangat besar manfaatnya," katanya.

Ditegaskan, pendekatan 'buaya' atau penindakan tegas baik hukuman yang berat dapat diterapkan pada para pengedar narkoba yang mereka benar-benar akan merusak generasi muda bangsa ini. Tetapi untuk para pengguna yang menjadi korban penyalahgunaan, dapat dicegah dan diobati dengan pendekatan budaya dan spiritualitas.

"Saya sangat setuju pemberantasan dengan cara 'buaya' itu untuk para pengedarnya," tegas Atmo, peraih anugerah kebudayaan dan maestro budaya seni tradisi dari Kemendikbud RI ini.

Dialog dimoderatori oleh Lukman Suyanto, dengan diikuti oleh para Kepala Sekolah SMP dan SMA se-Brebes bagian selatan meliputi Kecamatan Bumiayu, Kecamatan Sirampog, Kecamatan Tonjong, Kecamatan Paguyangan, Kecamatan Bantarkawung dan Kecamatan Salem.

Hadir dalam dialog yang dibuka oleh Camat Bumiayu, Urip Rosidik SIP mewakili BUpati Brebes, Hj Idza Priyanti SE yang berhalangan hadir itu, beberapa kepala BNK dan BNN dari Tegal, Pekalongan, Batang, Banyumas dan juga Kepala BNN Kabupaten Purbalingga, AKBP Edi Santoso.