![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Di Hari Jadi ke-338 Kabupaten Brebes, roda pembangunan Kabupaten Brebes terus berjalan menuruti ritme waktu, tidak terhenti. Tangan-tangan trampil terkepal bekerja keras, dengan sentuhan pemikiran dan hati yang halus serta jernih. Itulah yang dilakukan masyarakat Brebes dalam ikhtiar membangun daerahnya agar tercapai masyarakat yang mandiri, adil dan sejahtera di bawah lindungan dan ridlo Allah SWT.
Lebih dari itu, dibawah tapuk kepemimpinan Hj Idza Priyanti SE dan Narjo SH selama kurun waktu empat tahun berjalan, mereka menggenjot roda pembangunan Brebes tanpa mengenal lelah. Berbagai langkah strategis dilakukan dalam progam utamanya, yaitu enam pilar pembangunan Kabupaten Brebes.
Alhasil, pengakuan pemerintah pusat dalam pemberian sertifikat Adipura misalnya, telah membuktikan kiprahnya. Adipura yang telah dinantikan masyarakat lebih dari 18 tahun, akhirnya tergapai walau baru sebatas sertifikat, belum Piala.
Tapi Idza Priyanti yakin, untuk penilaian tahun 2016, Piala Adipura bakal ada dalam genggaman masyarakat Brebes. “Alhamdulillah, setelah menanti 18 tahun, akhirnya Brebes mendapat sertifikat Adipura,” ungkap Bupati dengan bangga, Jumat 15 Januari 2016.
Brebes, lanjut Idza, pada penilaian Adipura hanya mampu meraih angka 74,72 sementara nilai yang harus didapatkan minimal 75 point, hanya kurang 0,3 point saja. Hal yang perlu dibenahi lagi, adalah tentang budaya masyarakat yang belum optimal kesadarannya dalam pengelolaan sampah. Juga pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang masih menggunakan sistem open dumping.
Salah satu kriteria penilaian yang menjadi focus utama adalah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah, yang minimalnya sudah menerapkan sistem Controlled Landfill (lahan urug terkontrol).
Komitmen Istri dari Kompol Drs H Warsidin MH ini, sangat tinggi untuk menggapai Piala Adipura. Bukti keseriusannya, ditunjukan dengan mengeluarkan instruksi agar setiap saat ada kegiatan kerja bakti serentak di seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Juga penggelontoran APBD untuk lingkungan hidup dan tata kota terus ditingkatkan.
“Saya tak bosan-bosannya memantau langsung kegiatan bersih lingkungan, jangan sampai Brebes kumuh,” tutur Idza.
Demikian juga telah diprogramkan gerakan Bersih Desa, yang menandakan bahwa perilaku hidup bersih dan sehat tidak hanya di perkotaan saja, tetapi sampai ke pelosok desa. Secara pisik, Kabupaten Brebes telah mengalami perubahan yang sangat signifikan. Jalan-jalan kampung yang dulunya becek, kini mulai mulus, meskipun belum seratus persen.
Diakui oleh Idza, memang ada beberapa jalan yang belum tertangani, karena memang luas wilayah dan keterbatasan anggaran. “Atas kesepakatan bersama dengan DPRD, dalam tahun anggaran 2016 sudah ada dana lebih dari 300 Milyar untuk perbaikan infrastruktur,” ungkap Idza.
Untuk pekerjaan infrastruktur, dia tak tak segan-segan berkeliling memantau dan menegur bila kedapatan pekerjaan yang tidak sesuai aturan. Dia melakukan pemantauan dari sebelum, saat dikerjakan hingga pasca pengerjaan, bahkan malam hari pun dilakoninya. Tidak jarang dia ikut angkat cangkul dan skop ikut memperbaiki jalan.
“Saya tidak ingin pengerjaan jalan dibuat main-main, apalagi asal-asalan,” ucapnya tegas.
Antisipasi bencana, tak luput dari pantauannya. Di tengah malam diiringi gerimis dan hujan, Idza mengecek keadaan sungai dan saluran air lainnya barangkali tersumbat. Air bah jangan sampai mampir ke rumah, pencegahan banjir lebih utama.
“Sangat naïf hanya karena sampah yang menyumbat saluran, menjadikan kampung kita kebanjiran,” ujarnya.
Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Brebes, trennya naik terus. Angka terakhir, tahun 2014 IPM Brebes mencapai 62,55. Capaian tersebut antara lain untuk Usia Harapan Hidup 67,90, Rata-rata Lama Sekolah 5,86, Rata-rata Harapan Lama Sekolah 11,03, dan Pengeluaran Perkapita 8784. Adalah kebanggaan tersendiri, lanjut Idza, karena IPM Kabupaten Brebes naik satu digit di Kabupaten/Kota se Jawa Tengah.
“Alhamdulillah yang semula pada posisi bontot, sekarang telah merangkak naik pada posisi ke-34 dari 35 Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah,” ungkap Idza gembira.
Dengan peningkatan IPM dapat terukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup masyarakat Brebes. Di bidang lain, Kabupaten Brebes juga meraih prestasi koperasi kategori Paramadhana Utama Koperasi 2015.
Menurut Idza, prestasi yang ditorehkan, pada hakekatnya atas kerja keras masyarakat yang bergerak dibidang Koperasi. Kabupaten Brebes mendapatkan penghargaan karena dipandang Koperasinya mampu bergerak dengan cepat dengan capaian 78,03 persen. Sebanyak 344 Koperasi di Brebes telah berdiri dan yang aktif mencapai 270 buah, sedangkan yang tidak aktif 74 buah. Penghargaan sebagai Kabupaten Peduli Hak Asasi Manusia (HAM) 2015 dari Kementerian Hukum dan HAM RI juga diraih Bupati Brebes.
Idza dipandang keberpihakannya kepada persoalan HAM. Oleh Kementerian, Kabupaten Brebes layak mendapatkan penghargaan karena telah memenuhi kriteria kepedulian terhadap hak hidup, hak mengembangkan diri, hak atas kesejahteraan, hak atas rasa aman dan hak perempuan.
“Untuk mendapatkan Kabupaten Brebes sebagai kabupaten peduli HAM minimal 76 point, Brebes Alhmadulillah mendapatkan nilai 80 point,” ungkapnya.
Termasuk hak-hak anak diperhatikan sehingga tidak terjadi tindak kekerasan kepada anak maupun perempuan. Komitmen Pemerintah Kabupaten Brebes terhadap perlindungan perempuan dan anak pun akhirnya mendapat apresisasi dari pemerintah pusat dalam bentuk penghargaan sebagai kabupaten layak anak (KLA). Penghargaan itu adalah kali keempat sejak tahun 2011.
”Penghargaan KLA kali keempat ini bekerja kerja keras tim yang hebat antar SKPD dengan sektor utama Badan Keluarga Berencana dan Perlindungan Perempuan (BKBPP), termasuk peran dan Pusat Pelayanan Tepadu (PPT) Tiara,” kata Bupati Brebes, Idza Priyanti.
Untuk memperoleh Kabupaten Layak Anak (KLA) ada 31 indikator yang harus dipenuhi. Antara lain, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak sebagai payung hukum dalam melaksanakan program perlindungan anak. Selain itu, membentuk 10 rintisian desa layak anak, 23 sekolah ramah anak.
Kemudian membentuk PPT perlindungan perempuan dan anak di 17 kecamatan dan membentuk gugus tugas kabupaten dan desa layak anak. Pembangunan Brebes tidak hanya pembangunan fisik belaka, tetapi juga psikis. Pembangunan yang berkarakter, sehingga Brebes menjadi cantik lahir dan batin. Dalam artian tidak hanya membangun secara jasmani maupun rohani.
Ada enam pilar pembangunan yang menjadi penyangga berjalannya pembangunan di Brebes yang terus ditegakan dan dikuateratkan. Keenam progam tersebut terkenal dengan nama enam pilar pembangunan Brebes. Pertama, memberikan santunan kematian bagi keluarga tidak mampu sebesar Rp 1 juta.
Kedua, menerima aspirasi masyarakat langsung di pendopo Kabupaten Brebes (Open House), Ketiga, memberikan dana operasional bagi RT dan RW, Keempat, meningkatkan kesejahteraan para guru ngaji, guru madin, imam mushola dan imam masjid, Hafidz-Hafidzah, Kelima, meningkatkan ekonomi kerakyatan. Dan keenam, memperbaiki sarana dan prasarana (infrastruktur).
Dari waktu waktu keenam pilar tersebut telah terealisasi sesuai dengan peruntukannya. Santunan kematian misalnya, untuk memperpendek proses klaim telah didekatkan pengurusannya ditingkat kecamatan.
“Masyarakat tidak perlu lagi datang ke Kabupaten hanya sekadar untuk mengurus dana santunan kematian,” kata Idza.
Begitupun dengan pelaksanaan Open House telah dilaksanakan ditingkat Kecamatan. Sehingga lebih focus mengungkapkan apa yang menjadi permasalahan di daerah kecamatan yang bersangkutan. Siapapun boleh datang dan menayakan kendala yang mencuat untuk dicarikan kendali.
“Bila ada hal-hal yang masih terbelenggu di dalam hati masyarakat, silakan tanyakan ke Saya saat open house, nanti kita cari solusinya bersama-sama,” ujarnya.
Pelaksanaan pembangunan, lanjutnya, tidak lepas dari peran serta Ketua RT dan RW yang menjadi ujung tombak di lapisan terbawah. Maka patutlah, kalau mereka juga perlu mendapatkan sekadar stimulant untuk sekadar medang ketika rapat dengan pemberian dana operasional.
Yang dimaksud dengan pembangunan Rohani, kata Idza, berupa peningkatan pembangunan bidang keagamaan. Dengan harapan terjadi peningkatan iman dan takwa. Berbagai peringatan hari besar islam dan agama lainnya terus digelar. Fakta tersebut ditandai dengan ratusan pondok pesantren yang tersebar di seluruh pelosok Brebes. Masjid dan Mushola juga terus berkembang. Hampir setiap bulan, Idza meletakan batu pertama dan meresmikan pembangunan tempat ibadah.
“Saya melihat, kalau Brebes itu sangat religius. Pantaslah kalau Brebes kita sebut Negeri Santri,” puji Bupati.
Untuk lebih menyemarakan kehidupan beragama, Idza menghimbau kepada PNS dan masyarakat umum untuk melaksanakan sholat lima waktu diawal waktu. “Akan dijamin kesejahteraan dan keberkahan bila kaumnya beriman dan bertakwa,” ungkap Idza.
Tentunya langkah Idza tidak berlebihan kalau kemudnian meningkatkan kesejahteraan para guru ngaji, guru madin, imam mushola dan imam masjid serta hafidz-hafidzah.
Ekonomi kerakyatan, tutur Idza, menjadi bagian tak terpisahkan untuk membangun Brebes. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang mayoritas pelakukanya adalah masayarakat ekonomi menengah ke bawah terus diupayakan peningkatannya. UMKM telah terbukti kokoh menghadapi krisis pada tahun 1998.
“Untuk menghadapi MEA pun, kami tetap mengandalkan UMKM,” terangnya.
Bagi dia, begitu banyak hal-hal perlu dikerjakan akan menjadi ringan kalau diupayakan bersama. Dari mulai bidang agama, pertanian, perdagangan, pendidikan, UMKM, Investasi, generasi muda, perempuan, dan lain-lain.
“Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih atas kerja keras dan cerdas seluruh SKPD, Masyarakat, Ulama serta Umara yang pada dasarnya merupakan pelaku utama pembangunan Brebes,” ujar Idza.
Masuknya investor ke Brebes, dengan terbukanya kran investasi merupakan jawaban pula agar Brebes maju. Puluhan pabrik berskala nasional dan internasional telah banyak berdiri di sepanjang pantura Brebes dan ada juga yang dalam proses pendirian.
“Yang jelas, Saya ingin menjadikan Brebes sebagai Kabupaten Pro Investasi,” kata Ibu empat anak ini.
Sesanti Brebes Mangesti Wicara Ebahing Praja, yang mengandung maksud rakyat bersama pemerintah Kabupaten bertekad untuk membangun daerahnya guna mewujudkan kesejahteraan bersama dalam rangka membangun Negara dan bangsa tetap menjadi spirit pembangunan Brebes.
Idza mengajak, momentum hari jadi ke-338, satu demi satu agar berhias diri, termasuk lingkungan kita, dengan menanamkan segala kebaikan. Berprinsiplah, apa yang kita lakukan semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT lewat tangan-tangan keikhlasan.
Bekerja dan terus bekerja karena prestasi ini juga tantangan bagi kita untuk lebih memajukan lagi Kabupaten Brebes. "Ayo kerja, bergerak membangun Brebes," ajaknya.