![]() |
|
|
PanturaNews (Kajen) - Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Pekalongan sejak empat tahun lalu hingga kini masih mengalami kerugian sekitar Rp 700.000.000. Hal itu disebabkan karena nilai penjualan tak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan.
Selain itu, diduga pengelolaan perusahaan daerah tersebut kurang professional, sehingga sejak berdirinya hingga kini belum memberikan kontribusi kepada Pemkab Pekalongan atau PAD. "Hutang kita sekitar Rp 700.000.000, karena sejak berdirinya memang kita masih terhutang cukup besar," ujar PJs Direktur PDAM Kabupaten Pekalongan, Mujiyanto MM, Jumat 16 Maret 2010 siang.
Mujiyanto mengatakan, untuk mengatasi hal tersebut pihaknya berupaya untuk menjaga dan membina sekitar 5926 pelanggan, dengan menambah sekitar 1800 pelanggan di tahun 2010. Dengan itu diharpkan dapat menurunkan nilai terhutang yang hingga kini masih cukup besar. "Kita akui memang PDAM belum mampu memberikan kontribusi terhadap PAD, karena kondisinya memang masih seperti itu," lanjut dia.
Ditambahkan, PDAM sejak bulan Januari 2010 lalu telah menaikkan tarif sekitar 15 persen dari harga semula, salah satu dari harga umum sekitar Rp 750 per 0 sampai 10 kubik menjadi Rp 940 harga terendah. Sedangkan harga tertinggi yakni niaga besar III 2400 menjadi 2700 hingga Rp 3340 per 30 kibik. "Untuk biaya admistrtasi Rp 1.500 per rekening dan Rp 3500 untuk pemeliharaan meter," terang Mujiyanto.