![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti SE disela kegiatannya berkesempatan ‘nyruput’ nikmatnya jahe tumbuk Waeti. Jahe Tumbuk ini, biasa dijajakan Waeti di pertigaan jalan Pesawahan Desa Rengaspendawa, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Menurutnya, jahe mampu menambah kuatnya stamina, apalagi kalau di musim pancaroba seperti saat ini dan padatnya kegiatan Bupati. Semilir angin yang sepoi basah, mengiringi kesegaran badan apalagi ditambah dengan nyamikan jagung bakar.
“Rasanya pas banget yah….., seger dan asli,” tutur Idza Priyanti yang diampingi suaminya, Drs Kompol Warsidin, Senin 31 Agustus 2015.
Bupati menyakini, pada musim pancaroba atau musim ekstrem kalau tidak pandai menjaga kesehatan tentu bisa gampang terserang penyakit. Untuk itu, perlu langkah langkah preventif dengan berolah raga dan juga menjaga pola makanan yang sehat serta jamu tradisional.
Jahe menjadi minuman herbal yang juga menambah kebugaran tubuh. Nah. Ketika Bupati melintasi di sebuah warung yang menyajikan minuman jahe tumbuk yang mampu menjaga vitalitas dan kebugaran tubuh, di pertigaan Rengaspendawa dia beserta rombongan tak melewatkan minum jahe tumbuk waeti.
Warung jahe tumbuh waeti tak pernah sepi pembeli. Terlebih lagi, pada musim pancaroba seperti sekarang ini. Minuman jahe tumbuk itu sangat digemari berbagai kalangan. Bahkan Bupati Brebes pun tak lupa nyruput minuman tradisional tersebut.
Selain sensasi rasanya yang nikmat jika diminum, khasiatnya juga dianggap baik bagi kesehatan. Minuman jahe tumbuk bebas dari bahan kimia, karena bahan-bahan yang digunakan dan proses pembuatannya benar-benar alami, yakni hanya menggunakan bahan jahe dan gula merah.
Dinamakan jahe tumbuk karena proses pembuatannya dilakukan dengan cara menumbuk jahe utuh yang telah dibakar dan dibersihkan. Jahe ditumbuk dengan alu hingga hancur dan keluar sarinya. Tumbukan jahe kemudian dicampur dengan irisan gula merah, lalu diseduh air panas.
Air yang digunakan bukan air yang disimpan dalam termos, melainkan air mendidih yang selalu diletakan di atas bara api. Penggunaan air mendidih ini untuk merangsang keluarnya sari jahe.
Menurut penikmat minuman jahe tumbuk, minuman berbahan herbal ini amat cocok diminum saat hujan, karena bisa menjadi penghangat tubuh dan merenggangkan otot-otot syaraf yang kaku. Dalam sehari, Waeti mampu menghabiskan sedikitnya dua hingga empat kilogram jahe. Harga jualnya pun relatif murah, yakni Rp 5000 per gelas.