Mural Karya Gus Bill di Brebes Ajak Peka Sosial
-Laporan Takwo Heriyanto
Minggu, 07/06/2015, 10:38:30 WIB

Ilustrasi

PanturaNews (Brebes) - Adalah seorang seniman perupa Gus Bill yang telah memulai merintis dan menggerakan aktifitas berkarya seni mural di Kota Brebes, Jawa Tengah. Sejak pertengahan tahun 2014 lalu, yang pada awal kemunculannya belum banyak masyarakat mengenal bahkan belum tahu dengan istilah seni mural.

Mural berasal dari bahasa latin yaitu "murus" yang artinya merespon dinding seperti relief atau lukisan pada dinding. Sejak zaman manusia purba mural menjadi semacam ritual keagamaan atau penggambaran peristiwa penting yang ditorehkan di dinding-dinding goa atau batu-batu besar yang ada di sekitar kehidupannya pada zaman tersebut bisa berbentuk motif, tribal, hewan atau tumbuh-tumbuhan.

Bahkan pada zaman mesir kuno pada artefak dinding kerajaannya telah tercipta mural yang sangat megah dan terkonsep rapih serta artistik bernilai seni tinggi tentunya yang masih bisa dinikmati sampai saat ini. di indonesia sendiri mural lahir sebagai bentuk propaganda penyemangat perlawanan terhadap penjajahan di zaman perjuangan bangsa Indonesia saat itu seperti kalimat "merdeka ataoe mati" yang banyak menempel di masa perjuangan kemerdekaan tersebut.

Di era reformasi pergerakan mahasiswa tahun 1997 pun mural telah di ikutsertakan sebagai bentuk protes atau semacam propaganda demo-demo dalam melawan rezim saat itu. Mural hadir kembali menggeliat berawal di kota jogyakarta oleh para sekumpulan seniman rupa ISI kemudian diikuti kota bandung di tahun 1999 lalu jakarta 2000an berlanjut di Solo, Magelang, Surabaya hingga pulau Bali.

Pada tahun 2005-an mural kembali populer setelah komunitas seniman ISI jogyakarta tersebut membuat mural secara aktif dan massal ditahun 2006 dengan mengusung tema "mbantul bangkit" pada saat terkena musibah bencana gempa bumi. mural kembali menunjukan taringnya di kota jogyakarta di tahun 2013 pada saat menyeruaknya isyu "jogya ora didol" akibat pembangunan modern yang tak seirama dengan nilai-nilai ketradisionalannya.

Kemudian di tahun 2014-pun pulau Bali bergejolak akibat isyu pembangunan hotel mewah di teluk benoa para senimanpun melakukan protes melalui karya muralnya dengan mengusung tema "tolak reklamasi". Selain membentuk wajah kota yang semakin artistik dan indah mural juga seharusnya dapat diselaraskan dan dilibatkan dengan pembangunan disetiap kota masing-masing bisa dalam bentuk visi misi daerah tersebut atau program kerja yang sifatnya memunculkan komunikasi sosial kemasyarakatan.

Saat ini di Kota Brebes mural di giatkan oleh seniman Gus Bill akibat kegelisahannya terhadap tidak adanya ruang gerak beraktifitas kegiatan seni rupa seperti halnya kota-kota lain yang telah membudaya dan menjadi aktifitas positif generasi muda di dalamnya. Di Kota Brebes kegiatan seni rupa itu tidak pernah muncul secara konsisten kepermukaan hingga tidak adanya penyaluran minat bakat generasi muda dalam bidang seni rupa. Juga keresahan melihat wajah Kota Brebes yang kotor akan coretan-coretan vandal secara acak tanpa tema yang jelas dan terarah bercampur dengan kesemrawutan poster dan brosur iklan yang mungkin lolos dari intaian pajak daerah.

Belum lagi poster atau pamflet musim pemilihan caleg yang ikut pula mengotori wajah kota bahkan sampai juga merusak lingkungan sekitarnya. Gus Bill memang telah lama memulai beragam aktifitas kesenian di wilayah pantura Tegal dan Brebes, khususnya seni rupa sejak pada tahun 2004 berawal di Kota Tegal, bahkan mempelopori kegiatan demo melukis model secara langsung bersama seniman lukis Tegal dan sekitarnya di halaman depan gedung wanita yang berfungsi juga sebagai kantor Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT).

Saat itu DKT di bawah kepemimpinan Sisdiono Ahmad di era Walikota Adi Winarso-Maufur, berlanjut demo lukis bersama bencana tsunami di akhir tahun 2004 sampai awal 2005 ditempat yang sama gedung wanita Kota Tegal sekaligus pelelangan karya untuk disumbangkan kepada para korban tsunami Aceh tersebut serta di Mall Moro yang sekarang sudah tutup.

Setelah kegiatan tersebut di tahun 2005, juga pernah melakukan demo lukis selama 17 jam ikut meramaikan hari kemerdekaan 17 Agustus yang di dukung oleh Dewan Kesenian Brebes Lukman Suyatno, Atmo Tan Sidik dan Fattah El Zaman di Pendopo Kabupaten Brebes di era bupati Indra Kusuma-Faris Sulchaq.

Usai kegiatan tersebut masih ditahun yang sama Gus Bill membentuk kolaborasi kesenian bertajuk Luksimonsik (lukis,puisi,monolog,musik) dengan format ngamen seni sekaligus menyuarakan perdamaian dunia. Sebab, pada saat itu sedang berkecamuk perang di timur tengah dengan melakukan perfomance art di tiga mall Kota Tegal.

Jenuh dengan hal tersebut diakhir tahun 2005 menelurkan karya instalasi patung perdamaian di perempatan Maya Kota Tegal sejak pagi hingga sore hari, mematung dengan seluruh tubuh dibaluri cat putih memegang bendera merah putih menyuarakan perdamaian. Dalam perjalanan kesenian itu pula, Gus Bill mengendap berproses karya seni sastra dengan kembali mulai melanjutkan penulisan puisi-puisi tentang pengalaman kehidupan, keseharian, pergaulan, kegiatan religi, politik sosial. Dan apa yang di rasa dan dilihatnya hingga mencapai ribuan karya tulis puisi dan telah membentuk buku antologi puisi OJO DUMEH yang saat ini sedang kewalahan mengirimkan kepada para pemesan melalui jaringan sosial media.

Jika kita perhatikan seluruh karya-karya seni mural Gus Bill memiliki karakter atau ciri khas MATA HATI KAKI TANGAN (MAHA KATA) yang menurutnya bermakna sebagai penglihatan sebenarnya. Wajar dan apa adanya yaitu melalui mata hati sedangkan kaki tangan menyimbolkan aktifitas kehidupan manusia didunia. Sungguh karya yang memiliki arti luas dan mendalam tentunya. Bukan sekedar gambaran hampa dari sebuah karya seni rupa khususnya mural yang ternyata menyimpan begitu banyak pesan moral dan sosial kemasyarakatan yang dikandungnya.

Menurut Gus Bill karya seni mural sebagai karya seni ruang publik yang merakyat juga sebagai bentuk perlawanan seniman rupa terhadap seni galeri yang bersifat elitis yang hanya dapat di nikmati kalangan tertentu menengah ke atas saja. Tidak sampai kekalangan masyarakat luas kebawah, di ruang-ruang publik karya seni mural dapat langsung berinteraksi, berkomunikasi dan di apresiasi dengan masyarakat yang menjumpainya mulai dari pengendara mobil mewah sampai pejalan kaki kota bisa menikmatinya.

Namun, seni mural juga bisa menjadi semacam propaganda kebudayaan atau bahkan visi misi pemerintah setempat selain menciptakan keindahan wajah kota secara penuh inspiratif, kreatif dan menggugah. Seperti karya-karya seni mural Gus Bill yang banyak tersebar di tembok Kota Brebes yang banyak terselip pesan sosial bahkan menjewer telinga secara menggelitik, indah dan artistik. Di Kota Brebes sendiri dengan terbentuknya KOMUNITAS BREBES BERMURAL (MBB) yang di ketuai Gus Bill diharapkannya menjadi ruang kreatifitas yang dapat mewadahi minat bakat generasi muda Brebes dibidang seni rupa. Khususnya seni mural yang positif dari sekedar mencorat-coret vandal tanpa aturan yang dapat mengotori wajah kota juga bisa merugikan masyarakat lainnya dan Slogan Brebes Berhias-pun akan semakin bermakna dan berbudaya.