![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Sardi (25), salah satu dari lima Anak Buah Kapal (ABK) tewas asal Desa Jatirokeh, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang diduga menjadi korban perbudakan di Kapal Ikan Chi Hsiang Fishery Co berbendera Taiwan pada 29 April lalu, di Senegal, kini jenazahnya tiba di rumah duka, Minggu 7 Juni 2015 pagi.
Setelah proses serah terima dari petugas Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) RI dan BNP2TKI, korban penelantaran anak buah kapal oleh kapal Taiwan ini dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Setempat. Namun tampak orang tua Sardi, Kasmuri, 65, and Tarwi, 60, masih terlihat shok. Sekira pukul 06.00 WIB peti mati yang berisi jenazah Sardi turun dari ambulan yang membawanya dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.
Sanak saudara dan tetangga korban yang sudah menunggu sejak semalam larut dalam tangis duka, terutama saat melihat wajah korban. Setelah membuat liang lahat, jasad Sardi dikubur di komplek pemakaman keluarga. Iringan doa tahlil menggema di atas pusara makam Sardi. Hanya kedua orang tua Sardi yang tak tampak dalam rombongan orang-orang berdoa ini.
Adik korban, Nurjanah, 17, mengaku pihak keluarga sudah menerima dan senang atas kedatangan jenazah kakaknya itu. Namun, pihaknya meminta pihak PJTKI segera mengurus dana asuransi korban yang saat ini masih belum dicairkan.
“Nominalnya masih belum diketahui. Sementara pihak keluarga juga menuntut agar pihak PJTKI mendesak pihak agensi untuk memberikan dana konpensasi atas kematian Sardi yang tidak wajar,” kata Nurjanah, usai pemakaman kakaknya.
Petugas Kemenlu RI, Rifki, kepada keluarga mengucapkan turut berduka cita atas musibah yang terjadi kepada keluarga korban. Pihaknya telah berusaha memenuhi hak Sardi dengan mencairkan gaji, dan dana tali asih.
“Haknya Sardi berupa sisa gaji sudah dipenuhi sebesar Rp 29 juta, kemudian tali asih dari PJTKI PT Sumber Putera Abadi yang memberangkatkan sebesar Rp7,5 juta, dan tali asih dari BNP2TKI sebesar Rp2,5 juta,” terang Rifki.