Mashadi Raih Penghargaan Kalpataru dari Presiden
-Laporan Takwo Heriyanto
Minggu, 07/06/2015, 08:57:54 WIB

Mashadi (tengah) didampingi Bupati Brebes usai menerima Kalpataru dari Presiden (Foto: Dok)

PanturaNews (Brebes) - Aktivis peduli lingkungan asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Mashadi, meraih penghargaan Kalpataru dari Presiden RI Joko Widodo, Jumat 5 Juni 2015 di Istana Negera. Hal itu setelah dari 129 orang nominator di seluruh Indonesia diseleksi melalui dewan kalpataru, yang terdiri dari para pakar dan ahli lingkungan hidup terbaik Indonesia.

Dari ratusan orang nominator tersebut, hanya 22 nominasi yang layak untuk di verivikasi lapangan. Selanjutnya, dari hasil verivikasi lapangan diputuskan terdapat 11 orang untuk diajukan ke Menteri LHK. Dengan keputusan Menteri LHK No 63 tahun 2015 tanggal 3 Juni 2015, tentang penerima penghargaan kalpataru tahun 2015 untuk 4 kategori. Diantaranya, 3 orang perintis lingkungan, 3 orang pengabdi lingkungan, 3 orang penyelamat lingkungan dan 2 orang pembina lingkungan.

Meski berlatar belakang pendidikan perdagangan, menjadi petani adalah pilihan hidup yang Mashadi jalani. Dia lebih memilih mandi lumpur dan mandi keringat diterik matahari yang menggosongkan tubuhnya. Dengan kegigihannya mandi lumpur, dia berhasil menyelamatkan pesisir pantai utara Brebes, sehingga akhirnya diganjar dengan hadiah Kalpataru dari Presiden RI.

“Yang saya lakukan semata-mata untuk menyelamatkan bumi tempat kita hidup,” tutur Mashadi usai menerima penghargaan tersebut dari Presiden yang didampingi Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti SE.

Sejak tahun 2005, dia berhasil melakukan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove, pengelolaan pesisir, pemberdayaan masyarakat pesisir dan penguatan kelembagaan kelompok, Kampanye penyadaran masyarakat, pembelajaran dan pendidikan lingkungan bagi pelajar dan perlindungan kawasan hutan mangrove.

“Alhamdulillah, Saya bersama kelompok binaan berhasil menanam 2.260.000 batang mangrove seluas 200 hektare,” tutur suami dari Muryati.

Selain itu, pria kelahiran Brebes 1 April 1971 ini juga melakukan pemberdayaan masyarakat lokal, pemanfaatan potensi lokal, pemanfaatan lahan kritis, kampanye penyadaran masyarakat dan pembelajaran lingkungan, perlindungan kawasan hutan mangrove dengan membentuk satuan tugas penjaga segara (Satgas Gara) dan pertanian berkelanjutan.

Mashadi dipandang layak menerima Kalpataru karena telah konsisten bergerak di lingkungan sejak Tahun 2005 samapi sekarang. Juga mampu melakukan kreativitas dan inovasi kegiatan dengan memanfaatkan potensi Sumber Daya Alam lokal dan Sumber Daya Manusia sekitar Lokasi Kegiatan dan komunitas Masyarakat lainnya.

Disamping itu, mampu berkolaborasi dengan segenap elemen masyarakat dari berbagai kalangan dalam mengerakan kegiatannya seperti, pemerintah, kelompok basis, LSM Nasional maupun Internasional, Perguruan Tinggi, Pelajar, Masyarakat Seniman dan budayawan sekitar lokasi kegiatan. Juga menggerakan kegiatan ekonomi Masyarakat lokal sekitar kegiatan rehabilitasi Mangrove.

Manfaat yang didapat dari penyelamatan pesisir dengan mangrove, berdampak positif pada terjaganya wilayah pesisir dari abrasi yang selalu mengancam sebagian wilayah Budi daya perikanan di pantura Brebes. Banyak membantu program program pemerintah di bidang pemberdayaan masyarakat pada umumnya dan program lingkungan hidup dan penghijauan pantai pada khususnya. Terbentuknya sabuk hijau pantai Coastal green belt di sebagian wilayah pesisir Kabupaten Brebes.

Meningkatnya kesadaran masyarakat khususnya kelompok dampingan terhadap ekosistem pesisir dan dampak global warming dan climate change. Pemanfaatan potensi lokal yang terabaikan untuk peningkatan ekonomi masyarakat pesisir. Membantu mendatangkan program dari NGO,s dalam dan Luar negri serta donasi dari berbagai perusahaan nasional melalui CSR. Banyak membantu peneliti dari dalam negeri, Perguruan Tinggi dan luar negeri yang membutuhkan dampingan selama kegiatan penelitian dan survey di kawasan pesisir

Adapun dampak yang diperoleh dari kreativitas Mashadi menjadikan kondisi air tambak yang semakin membaik, dengan dibuktikan meningkatnya biota laut yang hidup di sekitar hutan mangrove, interusi air laut di lahan persawahan dapat di tahan dan di tekan. Sementara kwalitas udara yang ada di sekitar tanaman mangrove yang di rehabilitasi lebih bersih dan sejuk.

Kegiatan rehabilitasi mangrove yang lebih dari 2 Juta batang mampu melindungi tambak tambak petani dari gempuran ombak serta dalam kurun waktu 5 tahun terakhir mampu menangkap sedimen di beberapa titik muara sungai lebih dari 40 Ha. Sementara keaneka ragaman hayati di hutan yang di rehabilitasi semakin nampak bertambah dengan tumbuhnya tanaman tanaman pesisir yang sebelumnya belum ada dan berkurang kini secara alami mulai tumbuh dan berkembang biak, termasuk satwa reptil dan burung.

Mashadi melihat, abrasi yang menggerus daratan pantai dukuh Pandansari Desa Kaliwlingi sejak tahun 1985–2010 berkisar 850 Ha. Efek domino bagi masyarakat berupa hilangnya mata pencaharian, pengangguran, kemiskinan, urbanisasi.

Diapun dengan gigih melakukan rehabilitasi sejak tahun 2007 telah tertanam lebih dari 2 juta batang. Dari langkah kreatifnya 25 Hektar tambak yang terancam dapat terlindungi. Ekosistem pesisir juga berangsur membaik terbukti banyak biota laut yang dapat di manfaatkan masyarakat sebagai mata pencaharian. Sementara sawah yang terkena interusi air laut dapat di tekan dan diolah kembali.

“Dari 22 Ha terdampak, dapat dikelola 16 Ha,” terang Ayah dari Muhammad Bangkit Gunung Surya Samudra (18), Nok Ayu Nur Asih (16), Nugroho Mukti Syaelendra (11)

Menurutnya, dampak abrasi juga berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat dan kemampuan meningkatkan SDM melalui pendidikan yang lebih layak. Anak-anak Desa Kaliwlingi yang terbatas untuk melanjutkan pendidikan ketingkat SMU dan Perguruan Tinggi. Dengan kekompakan masyarakat sudah berdiri SMP negeri 8 Brebes dan sekarang tengah di rintis SMK Bahari di Desa Kaliwlingi.

Tahun 2005, lanjutnya, akses jalan dan sarana kesehatan sangat susah di jangkau karena jarak dan sarana jalan yang jelek. Sehingga resiko tidak terlayani dan tidak tertangani sangat besar. Mashadi tanpa henti mendorong dibangunnya POLINDES di lahan Milik Kelompok binaannya.

Dampak tidak langsung dari kondisi lingkungan dan rehabilitasi mangrove, berupa dilibatkannya kelompok masyarakat dalam penanaman dan pemeliharaan. Area tambak dapat di rehabilitasi dan mata pencaharian masyarakat nelayan dan petani sawah mulai ada harapan. Peningkatan jumlah tangkapan, jarak dan waktu tangkapan nelayan juga makin dekat dan cepat.

Sementara untuk melestarikan budaya lokal di setiap even dan kunjungan tamu tertentu selalu mengedepankan sambutan dengan budaya lokal berupa sintren, calung dan kesenian daerah lainnya.

Dampak positif lain, paparnya, bisa memujudkan ketahanan air, kedaulatan pangan, ketahanan energi, pengembangan genetik, tehnologi tepat guna. Dengan penanaman yang di lakukan Mashadi mampu menahan dan menambah sedimentasi yang selanjutnya di tanami tanaman untuk sabuk hijau, sehingga laju interusi dapat di hambat dan ditekan.

Untuk memanfaatkan lahan sawah yang terkena interusi air laut, berhasil di uji cobakan dengan jenis padi TADAS (Tahan dampak air asin). Sedang untuk pertanian yang berkelanjutan, berupa sekolah lapang pertanian organik (SLPO) dengan di lakukan penanaman padi tehnologi SRI.

Mashadi mengaku kalau keberhasilannya meraih Kalpataru bukan semata-mata gerak tangan dan pikirnya pribadinya semata. Namun atas kerja sama yang apik dengan berbagai pihak seperti Pemerintah Kabupaten Brebes, masyarakat sekitar, pelajar dan mahasiswa, perusahaan melalui program CSR, NGOs dalam dan Luar negeri, dan lain-lain.

“Alhamdulillah, dengan dengan sedimen dan tanaman mangrove banyak habitat fauna dan flora yang hilang kembali tumbuh dan berkembang seperti Soneratia, acantus, burung migran dan kura kura,” pungkasnya.

Selain menerima Kalpataru, Mashadi juga pernah meraih prestasi dan penghargaan berupa penghargaan Adi Bhakti Mina Bahari bidang pengelolaan persisir kategori perorangan, dari Kementrian Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Tahun 2011. Apresiasi gerakan 1 milyard Pohon OBIT ( one bilion Indonesian Tress ) Dari gubenur jawa tengah Tahun 2012 dan Penghargaan Dompet Dhuafa Award Kategori pejuang lingkungan tahun 2014.

Mashadi dengan prestasi nasionalnya, hidup sederhana di Jalan Kandri No 8 Rt 04 Rw 03 Desa Pagejugan Brebes. Hidupnya di abdikan untuk berbagai kegiatan sosial dan pertanian. Pernah dirinya mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Pagejugan terpaksa kalah dan meneruskan hidup sebagai petani.

Secara aktif Mashadi bergerak di berbagai kegiatan antara lain: