Upaya Revitalisasi Bahasa Tegalan
--None--
Rabu, 07/04/2010, 13:53:00 WIB

“Pahami dulu unen–unen jaman kuno –kadya bantheng loreng binoncengan– jika hendak hadiri di Tegal itu”. Saran seorang rekan. Bayangkan, bantheng galak yang diganggu, diinterupsi, akibatnya akan mengamuk, menerjang, menunjukan kegarangan, melakukan perlawanan. Tak salah!

Hal itu tersimak jelas dalam seminar sehari “Tegal Gugat” di Gedung Kesenian Tegal pada tanggal 21 Maret 2010. Budaya Tegalan melakukan gugat, itu intinya. “Lewat gerakan bahasa”.

Wong Tegal punya bahasa sendiri. Itu identitas. Itu jati diri. Hal itu harus dibangkitkan, dipertahankan. Semua itu semakin jelas dan gamblang ketika membaca tuntas Pengendara Badai, novel 286 halaman karya Lanang Setiawan (LS), wong Tegal berlatar belakang jurnalistik, teater dan sastra.

LS serius dengan upaya “pemberontakan kreatifnya”. Kenekatan orang Tegal diungkapkan dengan lugas oleh LS: “Jika sudah punya mau, apapun dilakukan, tak ada kamus orang Tegal menyerah” (hlm 85).

LS memang membuktikan itu. Untuk melengkapi data–data novelnya naluri wartawan mendapat peran maksimal. LS “berburu” yang mengesankan tak kenal lelah dan menerobos waktu. Narasumber, Koran–koran lokal yang telah “binasa”, seniman–seniman tua dan muda, ditulisnya secara unik dengan dialog bahasa Tegalan yang mengusik rasa.

Peristiwa demi peristiwa dirangkai dengan wajar dan tak jarang memperjelasnya dengan flashback. Halaman demi halaman menghela perhatian pembaca yang bisa terperangah oleh karakter orang Tegal yang blak–blakan, blakasuta, antara keakraban dan cacian mengental jadi satu. Antara lain, pada hlm 95 dan 116.

Ternyata LS juga terpikat sajak–sajak Chairil Anwar yang menurutnya mewakili karakter orang Tegal. Selain Chairil, tokoh kuno Tegal yang dikagumi LS adalah Bupati Tegal Martoloyo, yang berani membantah Raja Mataram, Amangkurat I pada tahun 1600–an. Sayang, Martoloyo menjadi korban politik adu domba VOC yang membantu Raja Mataram.

Masyarakat Tegal rupanya sangat respek pada Bupati Pantura yang berani “mbalelo” karena prinsip tertentu. Sampai kini masih ada keluarga–keluarga Mataraman yang berwawasan kuno tidak mau mengambil menantu orang Pantura. Epos perlawan Bupati Martoloyo memang mendapat tempat terhormat di Tegal, dan diabadikan untuk nama sebuah jalan di wilayah Kota Tegal.

Pengendara Badai, selain merekam fragmen kehidupan pengarangnya, meliputi suka duka keluarga, pahit getir pengalaman di lapangan, persahabatan para seniman, pendar–pendar hati lelaki dalam dunia seni, juga kaya informasi. Bisa disebut inventarisasi nama tokoh–tokoh seni Kota Tegal yang tak diketahui masyarakat luas. Tertulis di hlm 136: Jai, Hadi, Parto Tegal, Woerjanto, Ida Sri Maedah, Machroni MI, R Toenggono W. Atmodjo, Tsai Ching Sin, Liem Tek Giap, Sri Redjeki, Ki Bagdja dalang tua (dalang gletak).

Ada benang merah antara bahasa Tegalan dan Jeparan. Banyak persamaan antara keduanya adalah fakta, yang jelas kawasan pantai rohnya bahasa ombak, anginnya badai, alamnya terbentang–terbuka. Bahasa manusia bukankah cerminan dari bahasa alam. Kemungkinan lain adalah dua tokoh kuno yang diadu domba oleh penjajah (VOC) itu, saudara seperguruan atau tunggal guru antara Martoloyo (Tegal) dan Martopuro (Jepara).

Banyak kata–kata Tegalan yang sama dengan Jeparan. Dalam novel LS tertulis antara lain:

panas ngentak–ngentak = panas terik yang menyengat

pejaratan = pekuburan

lungkrah = lemas karena letih atau loyo.

gembor–gembor = berteriak–teriak

donge = jane, sebenarnya

neng = nang, ning dari ana ing, maksudnya ada di.

kamitenggengen = terkesima, terpana

teteg = tatag, mantap dan berani

por = banget

dugal = suka ngelawan dan nakal

dilabrag = didatangi, dengan marah–marah

Benarkah bahasa wetan yang dimaksud LS telah “menjajah” bahasa kawasan barat? Padahal kawasan Jepara sampai Rembang meskipun letaknya berada di sebelah wetan (timu) Tegal, tidak menjajah karena rohnya juga bahasa ombak, bahasa pantai. Tentu untuk membuktikannya di perlukan suatu riset tersendiri. Bagaimanapun, ini tantangan pula bagi LS dan para seniman lainnya. (Catatan dari Warung Sastra DIHA (WSD). Per aspera as sastra! Prima, Prima!)

(Diah Hadaning adalah mantan redaktur budaya SKM Swadesi, Jakarta. Selain sebagai penyair, dia juga penulis cerpen, esai dan novelis. Karya-karyanya banyak tersebar di media massa ibu kota. Ia juga getol menulis puisi geguritan. Wanita yang sudah berumur itu, lahir di Jepara hingga kini masih mengunjungi acara-acara kesenian dimanapun, termasuk melakukan pembacaan puisi. Dia tergolong penyair cukup mapan di jajaran para penyair nasional. Tinggal di Bogor, Jawa Barat)