Ketika Seorang Politikus Menerbitkan Antologi Puisi Tunggal
GL-SL Gaharu & Lanang Setiawan
Rabu, 07/04/2010, 12:44:00 WIB

Penyair dan politikus, Zen Mehbob.

PanturaNews (Slawi) - Kepedulian terhadap korban bencana berbagai macam cara, salah satunya lewat cipta puisi. Penyair Zen Mehbob (40) misalnya, ketika di Padang dilanda bencana gempa bumi, ia menjadi sosok penyair yang memiliki kesalehan sosial, untuk mengulurkan tangannya sekadar meringankan penderitaan mereka dengan turut serta menggalang dana lewat antologi puisi.    

Ceritanya ketika para penyair di seatereo nusantara mendengar Padang dilanda gempa, mereka bersepakat menerbitkan antologi puisi. Jadilah dua buku Himpunan Puisi bertajuk “Padang 7,6 Skala Richter” dan “Suara-suara Adam” diterbitkan oleh Penerbit Bisnis 2030, Jakarta. Salah satu dari penyair didalamnya adalah Zen Mehbob asal Desa Pesayangan, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Menurut Zen, hasil dari penjualan dua buku tersebut seluruhnya disumbangkan bagi para korban bencana. “Sepersen pun, kami tidak mengambil royalty dari penjualan buku itu. Niatan awal kami memang untuk meringankan beban mereka sebagai bentuk rasa kepedulian dan prihatin mendalam atas bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita di Padang,” katanya. 

Estetika welas asih yang tertanam pada diri Zen, memang telah dibentuk sejak dia berusia remaja. Ia mengaku sangat terganggu jiwanya jika menjumpai sesamanya dilanda bencana.

Puisinya yang terkumpul dalam buku Himpunan Puisi Padang 7,6 Skala Richter berjudul “Demi Cinta”. Bahkan beberapa puisinya yang lain terdokumentasi pula di antologi “Suara-suara Adam”.

“Berpuisi itu melembutkan hati sebagaimana puasa melembutkan jiwa. Puisi adalah proses fermentasi hati, sepadan dengan pe-ragi-an. Gampangane bodin sing atos dadi tape sing empuk,” kata Zen yang sehari-harinya bekerja sebagai wakil rakyat di DPRD Kabupaten Tegal dengan jabatan Ketua Komisi II dan Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar.

Figur Zen Mehbob memang bukan sekadar sosok yang cuma tahu soal politik. Orang yang berpengaruh di lembaga legislatif itu memiliki talenta kemampuan berpuisi, tak kalah dengan para penyair Tegal yang sudah mapan. Ia mengaku menulis puisi sejak ‘nyantri’ di Gontor – Jatim sebelum dirinya terjun di dunia politik praktis. Pada saat itu ia getol menumpahkan gejolak jiwanya pada catatan harian. Ia menulis banyak hal tentang apa yang menjadi ganjalan dalam pikiran dan hatinya.

Sebagai seorang politikus, dunia syair sangat dibutuhkan karena dunia puisi mampu memberi kelembutan pada jiwa-jiwa yang meranggas.  Zen Mehbob menuturkan, meski dirinya sebagai politikus, namun ia akan menempatkan diri menjadi penyair yang baik. Artinya, ia sama sekali tidak akan menempatkan diri sebagai seorang penyair ketika posisinya sebagai politikus. Ia tahu unggah-ungguh sesuai dengan kondisi dan situasi yang dihadapi.

Zen yang terlanjur mendalami dunia kepenyairan, pada tahun 2010 ini berencana mengeluarkan sebuah antologi puisi tunggal. Antologi direncanakan berisi 80 judul puisi. “Sekarang baru terkumpul 50 buah puisi. Rencananya berjudul Dalam Cinta Yang Sebenarnya,” tutur Zen.