Bupati Brebes Patau UN di SMA Negeri 1 Bumiayu
-Laporan Takwo Heriyanto
Senin, 13/04/2015, 06:56:25 WIB

Bupati Brebes melihat siswa SMA N 1 Bumiayu mengerjakan soal UN (Foto: Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Bupati Brebes, Jawa Tengah, Hj Idza Priyanti SE memantau pelaksaan Ujian Nasional (UN ) di hari pertama, di SMA N 1 Bumiayu dan SMA BU NU Bumiayu, Senin 13 April 2015.

Di SMA N 1 Bumiayu Bupati ditemui Kepala Sekolah Drs Syamsul Maarif. Dia menyatakan tidak ada kendala dalam pelaksanaan UN meskipun Ciregol dalam kondisi longsor termasuk pendistribusian soal.

Di sekolah tersebut ada 1 siswa yang seminggu sebelum UN mengalami kecelakaan, tetapi tetap mengikuti. Selama mengikuti UN, siswa tersebut diperbolehkan 'ngemil' atau makan jajan.

"Ini karena menurut nasehat dokter siswa tersebut tidak boleh kekurangan asupan gizi," terangnya.

Pemilik Yayasan SMA BU NU Bumiayu H Faris Sulhaq yang juga mantan Wakil Bupati Brebes menyatakan tahun ini tidak bisa menyelenggaraan UN Online. Tetapi pada ujian tahun mendatang bertekad akan menyelenggarakan UN Online. Diantaranya dengan memenuhi komputer sesuai dengan yang dipersyaratkan.

"Kami tidak mau kalah dengan SMA N 2 Brebes yang tahun menyelenggarakan UN Online," ucapnya.

Ketua Panitia UN Kabupaten Brebes, Dedy Priyono mengatakan, untuk peserta yang mengikuti UN SMA berjumlah 4.586 siswa yang berasal dari sebanyak 32 sekolah. Kemudian, peserta MA sebanyak 1.650 siswa dari 36 sekolah, peserta SMK sebanyak 9.179 siswa dari 67 sekolah, dan peserta Kejar Paket C sebanyak 1.100 siswa dari 34 sekolah.

Sedangkan untuk peserta UN SMP/ MTs atau sederajat berjumlah 30.805 siswa, termasuk untuk peserta kejar paket B. Sementara peserta dari tingkatan SD ada sebanyak 32.507 siswa, termasuk peserta kejar paket A.

"Kalau ditotal jumlah peserta UN tahun ini ada sebanyak 79.821 siswa," jelasnya.

Menurut dia, UN yang akan dilaksanakan itu berbeda dengan sebelumnya. Sebab, hasil UN tahun ini tidak sebagai penentu kelulusan seorang siswa. UN dilaksanakan sebagai bentuk pembinaan, pemetaan, salah satu pertimbangan untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Pola yang diterapkan siswa juga bisa mengulang di tahun berikutnya untuk perbaikan nilai dan itu tidak mempengaruhi kelulusan.

"Bagi siswa yang tidak bisa mengikuti UN karena alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, seperti sakit dan dirawat di rumah sakit, siswa bisa mengikuti UN susulan yang dilaksanakan satu minggu setelah UN utama," terangnya.

Lebih lanjut dia menegaskan, para siswa atau orang tua siswa diminta tidak percaya terhadap isu-isu kebocoran soal atau beredarnya kunci jawaban. Sebab, pola pelaksanaan UN sangat ketat dengan sistem soal berkode. Artinya, soal yang dikerjakan siswa yang satu dengan yang lain berbeda dengan kode tertentu.

"Jangankan orang luar, antara siswanya sendiri tidak akan tahu kode soal berapa yang akan dikerjakan. Jadi, tidak mungkin beredar kunci jawaban dan ini jangan dipercaya. Sebab, dalam UN kali ini nilai yang ditekankan adalah kejujuran. Standar kelulusan yang menentukan juga sekolah," tandasnya.