![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) - Ratusan massa turun ke jalan bertepatan dengan upacara Hari Jadi Kota Tegal ke 435, di Alun-Alun depan Masjid Agung Kota Tegal, Jawa Tengah, Minggu 12 April 2015 mulai pukul 08:00 WIB. Massa secara serentak mendesak Hj. Siti Masitha Soeparno turun dari jabatanya sebagai Walikota Tegal.
Gabungan massa yang berjumlah sekitar 600 orang terdiri dari Gerakan Masyarakat dan Mahasiswa Peduli untuk Rakyat Tegal (Gempur), nelayan dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Persatuan Guru Swasta dan berbagai elemen masyarakat Kota Tegal.
Pada pukul 09:00 WIB, mahasiswa yang tergabung dalam Gempur serta warga Kelurahan Panggung, berosasi di depan gedung Bank BRI. Sementara massa dari nelayan dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Tegal, tertahan di jembatan Jalan Pancasila dengan kawalan petugas dari Polres Tegal Kota, dan bentangan kawat berduri.
Mereka mendesak untuk masuk ke pendopo Balaikota Tegal. Sempat terjadi keributan, karena polisi belum mengijinkan. Namun setelah Kapolres Tegal Kota, AKBP Barata Indrayana, masa diajak dialog. Setelah dialog, Kapolres mengijinkan massa masuk setelah warga yang sedang menikmati pesta ponggol dan sate kambing sudah keluar.
“Di Pendopo Balaikota banyak anak-anak dan ibu-ibu sehingga dikhawatirkan akan membahayakan. Karena itu pendemo boleh masuk setelah mereka bubar,” ujar Kapolres.
Setelah jam kemudian, massa diijinkan masuk. Karuan saja mereka marangsek dengan mengusung keranda, dan meneriakkan yel yel Turunkan Walikota Tegal Sekarang Juga.
Para pendemo yang bergabung, menggelar orasi di depan gerbang Balaikota Tegal. Secara bergantian masing-masing wakil dari beberapa organisasi meneriakkan orasinya dengan pengeras suara.
“Tidak menunggu besok atau kapan, turunkan walikota sekarang juga. Masyarakat Tegal sudah tidak mau dipimpin walikota perempuan yang arogan,” teriak mahasiswa.
Sementara warga yang mewakili kaum nelayan, juga berteriak agar walikota yang arogan turun sekarang juga. Selain itu, nelayan juga menuntut beras paceklik agar dibagikan kepada para nelayan.
“Setiap tahun nelayan menerima beras paceklik. Namun setelah Kota Tegal dipimpin Siti Masitha yang bukan orang Tegal, beras paceklik untuk masyarakat nelayan tidak ada,” ujar salah satu nelayan dalam orasinya.
Sedangkan pendemo yang mengatas namakan perwakilan dari Persatuan Guru Swasta, menyatakan mendukung penurunan walikota. Dia menyesalkan bebijakan walikota yang meniadakan tunjangan para guru swasta, padahal honor guru swasta sangat kecil.
“Turunkan Siti Masitha sekarang juga karena tidak memihak masyarakat kecil,” katanya dengan suara lantang.
Ditengah suasana memanas, seorang PNS yang melihan aksi demo, tiba-tiba marah-marang saat ada seorang wanita orasi diatas mobil. Menurut dia, yang orasi itu adalah seorang PNS yang juga meneriakkan turunkan walikota.
“Itu PNS dari Kecamatan Tegal Selatan, tidak benar itu,” katanya dengan ekpresi geram.
Mendengar kejadian itu, salah seorang pendemo, Wiwieko Widodo menghampiri dan mempertanyakan apa haknya marah-marah jika ada PNS ikut demo. Menurutnya, menyampaikan aspirasi adalah hak setiap warga, apa itu PNS, nelayan maupun tukang becak.
“Anda itu siapa? Apa alasanya marah jika ada PNS ikut Demo? Apa anda tidak tahu bahwa Korpri pun sudah menyatakan sikap menolak kepemimpinan Hj. Siti Masitha Soeparno sebagai Walikota Tegal,” jelasnya.
Sampai berita ini diturunkan, demo masih berlangsung. Di Jalan dibentangkan kain putih sepanjang belasan meter untuk menggalang tanda tangan dukungan dari warga yang lewat. Para pendemo mendesak petugas keamanan untuk masuk ke pendopo. Rencananya, para pendemo akan menduduki pendopo.