Dana Pribadi Walikota Untuk Rumah Mbah Juminem
-Laporan SL Gaharu
Selasa, 17/03/2015, 08:16:54 WIB

Walikota Tegal memberikan bantuan uang pribadi untuk rehab rumah Mbah Juminem (Foto: BagHumas)

PanturaNews (Tegal) - Karena belum ada anggaran program Rumah Tinggal Layak Huni (RTLH), sehingga untuk rehab rumah Juminem yang kondisinya memprihatinkan dan tidak layak huni, Walikota Tegal, Hj. Siti Masitha Soeparno, merogoh dana pribadinya sebesar Rp 7 juta.

Bantuan Walikota Tegal secara langsung memberikan bantuan untuk pembangunan rumah milik Juminem (71), warga RT 003/002 Jalan Blanak Tegalsari, Tegal Barat, Kota Tegal, Jawa Tengah, Senin 16 Maret 2015 pagi.

“Mbah Juminem ini spesial case, kebetulan belum ada anggaran dari program RTLH, sehingga melihat urgensinya tempat tinggal Mbah Juminem harus mendapat perhatian. Ini bukan dari APBD, tetapi dari pribadi karena melihat urgensinya. Ini adalah bentuk perhatian kepada masyarakat,” ungkap Walikota usai menyerahkan langsung bantuan pribadinya kepada Juminem.

Tampak hadir Plt. Sekda Kota Tegal Dyah Kemala Sintha , SH, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Sugeng Suwaryo, S.Sos, Kepala Bapermas Perempuan dan KB Kota Tegal Dra. Titik Andarwati, Kepala Diskimtaru Kota Tegal Ir. Nur Effendi, Kepala DPU Kota Tegal Sugiyanto, ST, MT, Camat Tegal Barat Sri Widiyati, SH dan Lurah Tegalsari H. M.B. Budi Santosa, SH.

Pembangunan kembali rumah Juminem segera dilaksanakan usai bantuan diserahkan Walikota. Di depan rumah Juminem telah tersedia material berupa pasir, bata dan kayu kusen. Walikota tak segan-segan untuk masuk ke rumah Juminem yang berdinding bambu, beratap asbes, memiliki tempat tidur seadanya dan bau menyengat.

Kepala DPU Kota Tegal, Sugiyanto ST MT mengatakan sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB), pembangunan rumah Juminem berukuruan 3x3 meter persegi sebesar Rp 7 juta. Diatas tanah pemberian Almarhum Rimbi, warga Tegalsari, akan dibangun rumah sehat. Dengan fasilitas antara lain kamari tidur, dapur, jamban, pintu, jendela, lantainya tidak tanah tetapi keramik.

Sementara untuk listrik tetap menyalur dari tetangga, karena pertimbangan kemampuan Mbah Juminem dalam membayar listrik tiap bulan. Sedangkan untuk kebutuhan air, Mbah Juminem tetap membeli untuk konsumsi dan mandi.

“Pembangunan kembali rumah Mbah Juminem direncanakan selesai dalam waktu 6 hari,” kata Sugiyanto.