![]() |
|
|
Pemalang (PanturaNews) - Visi pembangunan Jawa Tengah tahun 2008–2013 adalah terwujudnya daerah yang semakin sejahtera. Hal itu merupakan pengejawantahan Gubernur Jateng, Bibit Waluyo dengan program “Bali Ndeso Mbangun Ndeso”.
Menurut Bupati Pemalang, HM Machroes SH melalui Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pemalang, Tri Setyowati Pujiastuti SIP,MSi bahwa salah satu visi pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian dalam pengembangannya di Pemalang dengan digalakkannya program pertanian organik. Terbukti produksi pangan di Jateng surplus 2,5 juta ton gabah kering giling (GKG) atau sekitar 1,581 juta ton.
“Jumlah itu setara beras dari total seluruhnya 9 juta ton, sehingga Jawa Tengah memiliki andil dan kontribusi yang cukup besar bagi produksi beras secara nasional sebesar 17 persen. Sedangkan di Kabupaten Pemalang, swasembada pangan tahun 2009 meningkat hingga 2,19 persen untuk padi serta 5,6 persen untuk jagung,” tutur Tri Setyowati yang akrap disapa Ety di kantornya, Rabu 24 Maret 2010 kemarin.
Disinggung mengenai pertanian organik, Ety mengatakan, disamping hasil pertanian secara konvensional, saat ini di Kabupaten Pemalang sedang menggalakkan pertanian organik. “Kita sedang menggalakkan Pemalang go organik,“ tandasnya.
Dijelaskan Ety, pertanian organic adalah produk pertanian yang dapat dihasilkan melalui pengembangan pertanian yang menerapkan teknik budidaya yang mengandalkan bahan-bahan alamiah, tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis, termasuk penggunaan lahan yang bebas dari pencemaran bahan kimia.
Perkembangan pertanian organik memiliki urgen yang tinggi dan berdampak positif terhadap perkembangan sektor pertanian, terutama bagi peningkatan kesejahteraan petani karena hasil pertanian organik memiliki harga jual yang relatif lebih tinggi dibanding produksi konvensional. “Untuk itulah saat sekarang kami getol mensosialisakan pertanian organik. Sudah ada daerah-daerah yang melakukan pertanian secara organik seperti di Sodong, Wisnu, Babakan, Loning, Sumberharjo, Limbangan,” ujar Ety.
Sementara Ketua Gapoktan Terangkat (Terang dan Ketat) Desa Babakan Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, Kusnadi yang didampingi Kepala Desa Babakan, Kustoni mengatakan setelah melaksanakan pertanian organik dengan menanam padi ‘Mentik Wangi’ hasilnya lebih menguntungkan.
“Menanam padi IR 64 dan Ciherang dengan menggunakan pupuk non organik menghasilkan 84,8 ton dengan harga jual beras mencapai 11 juta rupiah. Sedang Mentik Wangi menggunakan pupuk organik hanya 74,4 ton mencapai 16,37 juta rupiah,” kata Kusnadi.
Secara terpisah, Ketua Lembaga Pengembangan Potensi Daerah (LPPD) Pemalang, Drs Ulil Albab mengatakan pengalihan pertanian konvensional ke pertanian organik tidaklah mudah. Pengalihan itu harus ditangani secara khusus dan intens, sehingga antara petani dan pemerintah bisa lebih sinergis. “Kalau kita sudah menggunakan pertanian organik, maka secara kesehatan masyarakatnya tidak tercemar bahan kimia dalam tubuhnya dan lahan kita yang sudah tercemar akan bisa teratasi,” ujarnya.