![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) – Selain batik ternyata Kota Tegal juga punya tenun tradisional berkelas internasional. Diantaranya tenun yang dihasilkan oleh pertenunan ‘Sampurna’ di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Tegal. Pertenunan yang didirikan tahun 1938 oleh Salim Afiff dan kini dilanjutkan oleh cucunya yakni Husesn Afiff, tetap eksis dan tak hilang dimakan jaman, karena pemasarannya khusus negara-negera timur tengah. Selain menghasilkan sarung, pertenunan Sampurna juga menghasilkan modifikasi bahan baju dengan motif unik yang mirip-mirip sarung. Semunya dikerjakan secara tradisional menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).
Hal itu membuat ketertarikan pabuyuban pecinta batik Indonesia ‘Sekar Jagad’ yang dalam roodshow-nya sengaja datang ke Kota Tegal, untuk melihat batik dan tenun Tegal. Pasalnya, tenun yang dihasilkan oleh pertenunan Sampurna itu mempunyai nilai budaya yang sangat tinggi, karena selain motifnya unik, kain yang digunakan juga lemes. Karena benang untuk bahan baku sengaja didatangkan dari luar negeri (import) seperti dari Polandia, Korea, India dan China. Hal itu diungkapkan Husen Afiff pemilik Pertenunan Sampurna kepada Ketua Paguyuban Pecinta Batik Indonesia ‘Sekar Jagad’ Ir Dra Larasati Suliantoro Sulaiman, Kamis 25 Maret 2010.
“Semuanya produk dikerjakan secara tradisional menggunakan ATBM, sedangkan untuk bahan baku seperti benang dan pewarna masih impor,” kata Husen Afiff.
Husen Afiff menambahkan, perusahaan miliknya bukan hanya memproduksi sarung, namun juga bahan baju dan selendang berkualitas yang dikerjakan secara tradisional. Untuk pemasaran diserahkan kepada pihak ketiga (eksportir) dengan sasaran negara timur tengah, kecuali ada pesanan dari dalam negeri. Tak pelak, dari 300 potong bahan baju, sarung dan selendang yang dipamerkan, sepertignya laku terjual. “Mereka tertarik dengan bahan baju dan selendang, karena dikerjakan secara tradisional dengan hasil yang cukup bagus dan motif yang unik,” ujar Husen Afiff.
Meski termasuk generasi ketiga namun Husen Afiff tetap mempertahankan usaha kakeknya itu dengan cara tradisional, karena menyerap tenaga yang cukup banyak. “Jelas kalau menggunakan mesin, bukan tradisional lagi dan tentutnya tenaga kerja yang diserap hanya sedikit, kasihan mereka,” imbuhnya.
Sementara menurut pengrajin batik asal Kelurahan Kalinyamat Wetan, Muniroh (35) mengaku belakangan ini batik Tegal banyak diminati. Terutama setelah diberlakukan semua pejabat (PNS) Kota Tegal diharuskan memakai baju batik, tentu saja omzetnya naik mencapai 50 persen. Pesananpun dating bukan hanya dari Kota Tegal, namun sudah merambah ke luar kota seeprti Jakarta. “Kalau ada pesanan dari Jakarta, omzet naik menjadi 100 persen, saya malah kadang kewalahan, untungnya ada kelompok pengrajin,” ujar Muniroh.
Setelah UNESCO mengakui bahwa batik adalah milik Bangsa Indonesia, pengrajin batik di seluruh nusantara mulai menggeliat. Hal itu juga terjadi pada pengrajin batik Kota Tegal. Mereka sekarang tidak kesulitan untuk memasarkan batiknya, karena yang memakai baju batik sudah banyak. Sayangnya meski telah bangkit dari keterpurukan, namun tidak diimbangi dengan regenarasi. Dikuatirkan pengrajin batik Kota Tegal makin berkurang dan lama-lama menjadi habis.