Petani Garam Brebes Gunakan Teknologi Ulir Filter
-Laporan Takwo Heriyanto
Selasa, 04/11/2014, 08:24:10 WIB

Bupati Brebes saat melakukan panen garam di Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes (Foto: Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Seiring program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (Pugar) oleh Kementerian Perikanan 2014, Pemerintah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (Jateng), berupaya memberikan peningkatan kualitas dan produksi garam melalui teknologi tepat guna, yakni dengan memaksimalkan penggunakan sistem Teknologi Ulir Filter (TUF) serta menerapkan pengolahan produksi dengan sistem geomembran.

Bupati Brebes, Hj. Idza Priyanti SE mengatakan, dengan memakai teknologi tersebut produksi garam yang dihasilkan dapat lebih banyak, serta kualitas garam menjadi lebih meningkat. Apalagi, peningkatan kualitas garam juga mulai mendapat respon positif dari pasar.

Bahkan, sejumlah perusahan nasional sudah mulai menerima hasil produksi garam asal Kabupaten Brebes. Tidak hanya itu saja, sebagai upaya pembinaan Pemkab Brebes menggandeng pihak perbankan juga mulai menyalurkan permodalan bagi petani tambak garam.

“Pemerintah terus melakukan pembinaan kepada petani tambak garam, kami juga pertemukan petani dengan perbankan agar bisa mendapat kemudahan dalam permodalan,”ujar Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti,SE saat melakukan panen garam di Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Selasa 4 November 2014.

Menurutnya, pembinaan salah satunya dengan pemanfaatan teknologi baru yang saat ini sudah mulai diterapkan oleh para petani garam. Langkah tersebut kini juga sudah mulai bisa dirasakan oleh petani atas hasil panen garam.

“Selain kualitasnya yang semakin baik, dengan pemanfaatan teknologi baru petani juga bisa memanen garam lebih cepat disbanding sebelumnya,” kata Idza Priyant didampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Brebes, Ir.Tandi.

Untuk pemasaran sendiri, lanjut Idza, saat ini juga telah ditandatangi kesepakatan dengan pihak PT Mutiara yang akan menampung hasil produksi garam asal Kabupaten Brebes. Terkait dengan harga sendiri, sebelumnya petani memang sempat dihadapkan dengan harga yang tidak menentu. Namun setelah diterapkannya teknologi pugar harga jual garam saat ini sudah mulai meningkat dan stabil.

Dia menambahkan, adanya alih teknologi telah berdampak pada peningkatan hasil produksi garam tiap hektarnya. Dimana, untuk satu hektar lahan tambak kini mampu memproduksi sekitar 120 ton garam. Jumlah itu dua kali lipat lebih tinggi disbanding produksi sebelumnya yang hanya berkisar 60 hingga 80 ton.

“Selain itu untuk harga yang sebelumnya hanya dijual senilai Rp 200/Kg kini sudah naik menjadi Rp 400 hingga 500/Kg,”terangnya.

Sanusi, penemu teknologi ulir filter yang ikut hadir dalam acara tersebut mengaku, untuk meningkatkan kualitas dan produksi garam petani bisa menggunakan media kristal atau batu alam. Namun karena harganya yang cukup mahal maka dicari media lain yang lebih murah yaitu plastik DPE.

Dengan media itu, air yang ada ditambak akan cepat tua dan produksi garam akan semakin cepat. Disamping itu, dengan menggunakan media plastik, hasil produksi garam akan lebih bersih karena tidak tercampur dengan tanah.