BNPB menetapkan status waspada pada Gunung Slamet (Foto: Dok.)
PanturaNews (Brebes) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan status waspada pada Gunung Slamet yang sebagian ada di wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Meski begitu aktivitas warga di beberapa desa yang letaknya dekat dengan gunung itu tetap normal.
"Aktivitas warga tetap normal dan belum ada pengumuman resmi untuk melakukan tindakan tertentu," ujar Kepala Desa (Kades) Dawuhan, Kecamatan Sirampog, Brebes, Iwan Budi S kepada PanturaNews.Com, Selasa 11 Maret 2014.
Menurutnya, mengetahui status waspada Gunung Slamet pertama dari pemberitaan di media dan tidak berpengaruh pada aktivitas warga. Pihaknya juga belum dapat menginformasikan pada warganya, karena belum mendapat arahan dari pihak terkait.
"Kami belum bisa memberi informasi lebih lanjut, termasuk tindakan yang harus kami lakukan," kata Iwan.
Dikatakan, salah satu dukuh di Desa Dawuhan yakni Dukuh Kaliwadas merupakan perdukuhan yang letaknya paling dekat dengan puncak Gunung Slamet, atau berjarak sekitar enam kilometer. "Warga di dukuh itu juga masih beraktivitas seperti biasa," ucap Iwan.
Sementara, Kades Igirklanceng, Agus Wuryanto yang desanya juga berada di dekat lereng Gunung Slamet mengatakan, pada Senin sore sekitar pukul 15.00 WIB sempat melihat semburan asap hitam dari puncak gunung. Semburan asap hitam itu mengarah ke selatan, sehingga tidak diketahui apakah semburan itu hanya asap atau semburan abu vulkanik.
"Desa kami ada di lereng barat, sementara semburan asap hitam ke arah selatan," katanya.
Seperti halnya Desa Dawuhan, warga Desa Igirklanceng juga masih tetap beraktivitas seperti biasa. Warga yang umumnya bercocok tanam sayuran, tetap bekerja di ladang-ladangnya.
"Petani tetap beraktivitas di ladang tidak terpengaruh dengan kondisi Gunung Slamet yang katanya status waspada," ungkap Agus.
Sementara itu pula, diperoleh informasi dari Ketua Relawan Gunung Slamet, Muhamad Sabar Budianto, bahwa status waspada Gunung Slamet telah ditetapkan sejak Senin 10 Maret 2014 pukul 21.00 WIB. Dengan penetapan status waspada, tertutup kegiatan pendakian dan juga aktivitas lainnya pada radius dua kilometer dari puncak gunung.
"Pendakian tidak diperbolehkan dan tidak perkenankan ada aktivitas pada radius dua kilometer," katanya.
Pihaknya juga telah diberitahu oleh Kepala Pos Pengamatan Gunung Slamet di Gambuhan, Sudrajat, tentang status waspada dan diminta untuk selalu memantau keadaan, serta melakukan pengawasan terutama di jalur pendakian di Dukuh Kaliwadas. Sebelumnya juga ada sekitar 60 pendaki dari Jakarta yang memberitahukan akan melakukan pendakian melalui jalur Kaliwadas.
"Tapi rencana pendakian itu dibatalkan karena adanya penetapan status waspada itu," kata Sabar.
Camat Sirampog, Munaedi SH membenarkan adanya penetapan status waspada pada Gunung Slamet. Pihaknya telah menerima informasi itu dari Pemkab Brebes dan telah menginformasikan pada masyarakat terutama di Desa Dawuhan, Desa Batursari, Desa Igirklanceng dan Desa Wanareja yang letak cukup dekat dengan puncak Gunung Slamet.
"Kami sudah kumpulkan para Kades dan memberikan pengarahan untuk tetap tenang tapi selalu waspada," katanya.
Menurutnya, pada Selasa 11 Maret 2014 ini juga dilakukan rapat kordinasi Pemkab dan pihak terkait menghadapi penetapan status waspda Gunung Slamet. Rakor digelar di Markas Kodim Brebes selain melibatkan Muspida juga mengundang Kades dari desa terdekat.
"Sore ini dilakukan rakor di Kodim Brebes untuk membahas masalah status waspada Gunung Slamet dan langkah-langkahnya," tandas Munaedi.