Para hak pilih dengan antrinya dan penuh semangat naik sampan menuju ke lapangan Desa Panjunan untuk memberikan hak suaranya pada Pilkades (Foto: Ridwan)
PanturaNews (Pemalang) - Partisipasi warga desa pada Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) masih sangat kuat, sehinggga mereka rela melakukan apa saja untuk suksesnya pemilihan pemimpin desanya. Pada Pilkades serentak Tahap II di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang menyisahkan 89 desa dari total 169 desa itu, menorehkan beberapa catatan dengan berbagai keunikan dan kekhasan.
Umumnya warga yang akan mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) untuk memberikan hak suaranya, adalah dengan naik angkutan mobil atau colt yang sudah diboking oleh calon masing-masing, ataupun dengan cara mengunakan sepeda motor secara sendirian. Namun lain daerah, lain juga tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh setiap warganya.
Partisipasi warga desa untuk memberikan suaranya pada Pilkades, menurut Bagus Samudra, warga desa tetangga yang mengamati jalannya Pilkades, masih sangat kuat. “Partisipasi warga desa untuk memilih pemimpinnya masih sangat kuat, sehinggga mereka rela melakukan apa saja,” tuturnya, Selasa 18 Desember 2012.
Seperti yang terjadi di Desa Panjunan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, saat berlangsung Pilkades Serentak Tahap II, Munggu 16 Desember 2012 di lapangan desa setempat.
Mereka warga sebagian warga Desa Panjunan yang memiliki hak pilih dalam Pilkades itu, dengan antrinya naik ke perahu kecil atau rakit untuk menyeberang sungai, menuju ke lapangan untuk memberikan hak suaranya.
“Karena rumah kami berada di seberang sungai, maka kemarin kami terpaksa menyeberang untuk memeberikan suara,” kata salah satu warga.
Diketahui, sesuai Daftar Pemilih Tetap (DPT) tercatat ada 3023 hak pilih di Desa Panjunan yang wilayahnya untuk bagian utara terbelah oleh sungai yang membujur dari barat ke timur. Warga itulah yang dengan semangatnya berangkat dan pulang memberikan hak suaranya, dengan menggunakan sampan yang sudah disewa oleh panitia.
Menurut penuturan salah satu pemilik sampan, dia bersama temannya disewa secara borongan oleh panitia Pilkades Desa Panjunan. Adapun besarnya nominal sewa borongan tersebut, pihaknya tidak bersedia menjawabnya. Pada intinya dia beserta rekannya yang memang bukan warga Desa Panjunan yang secara pasti tidak mempunyai hak pilih, disewa oleh panitia untuk mengangkut para pemilih datang dan pulang hingga berakhirnya pelaksanaan Pilkades.