Ketua DPP FTHSNI, Ani Agustina (FT: Riyanto Jayeng)
PanturaNews (Slawi) – Disayangkan, Ketua DPP Forum Tenaga Honorer Sekolah Negeri Indonesia (FTHSNI), Ani Agustina, yang notabene adalah orang berpendidikan tidak paham dengan tugas wartawan. Pasalnya, ia hendak mengintervensi ketika wartawan usai mewancarai Komisi XDPR RI, soal pengangkatan CPNS. Kejadian itu berlangsung saat dialog antara Komisi X DPR RI dengan FTHSNI seluruh Indonesia di Aula SMP Negeri 3 Adiwerna, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu 07 Februari 2010 siang.
Insiden itu bermula saat Ani Agustina meminta kepada wartawan agar tidak perlu mencantumkan kelompok guru swasta dalam pemberitaan dengan alasan forum dialog tersebut digelar oleh kelompok guru honorer negeri, bukan oleh kelompok honorer guru swasta. Padahal anggota DPR RI bukan hanya milik FTHSNI saja, namun milik semua masyarakat Indonesia.
“Ini forum kami, bukan forum guru honorer swasta dan yang memanggil anggota DPR kesini kami, maka jangan sampai dalam pemberitaan nanti menyebut salah satu kelompok guru honorer swasta apapun,” kata Ani dengan nada ketus.
Mendengar pernyataan sikap yang terkesan intervensi dan membuka kesenjangan diskriminasi itu, spontan salah seorang reporter Elshinta FM, Dede M Loui menanggapinya dengan kecewa.
“Lho ibu tidak bisa begitu dong, sebagai apa ibu mengintervensi pemberitan. Selaku anggota DPR, Rokhmani itu milik siapa saja. Dan kami berhak wawancara kepadanya dengan pertanyaan apapun, sebab kapasitas dia adalah wakil rakyat. Lagi pula kami tidak akan pernah mendukung terhadap segala upaya yang bersifat diskriminatif,” kata Dede.
Hal senada dikatakan, Castro, wartawan harian sore Wawasan, yang juga menyayangkan sikap ketua DPP FTHSNI, Ani Agustina. Menurutnya, tidak etis jika Ani melakukan intervensi terhadap pemberitaan, apalagi dia orang berpendidikan.
“Seharusnya, Ani Agustina bisa bersikap lebih bijak memandang persoalan ini dengan obyektif. Sekalipun Rokhmani hadir di sini atas undangan FTHSNI, namun tidak salah ketika kami menanyakan kepadanya mengenai komitmennya terhadap nasib guru honorer baik yang negeri maupun swasta. Rupanya, Ani Agustina tidak berkenan jika kami menyinggung soal guru honorer swasta, sayangnya, rasa tidak sukanya itu tidak ditunjukan dengan cara yang bijak,” kata Castro.
Menanggapi hal itu, Ketua DPC FTHSNI Kabupaten Tegal, Nur Aini mengatakan, Ani Agustina diakui sedikit temperamental apabila disebut nama salah satu kelompok guru swasta. “Rupanya, Ani Agustina kurang bisa mengendalikan egonya saat mendengar para wartawan mewawancarai anggota komisi X Rokhmani dengan materi diluar agenda forum. Kami hanya berharap masing-masing pihak bisa melalaikan insiden itu, sebab intinya hanya terjadi kesalah pahaman, ” ujar Aini.