Selasa, 07/02/2012, 12:27:57
Himpunan Mahasiswa Islam, Apa Adanya
Oleh: Didi Kusaeri
--None--

(Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Ke 65 Tahun: Sebagai Refleksi Perjalanan HMI Mengabdi untuk Umat dan Bangsa )

Beliau bernama Bapak Lafran Pane. Ketika itu bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947 dan bertempat di ruang kuliah STI Jogyakarta (Sekarang UII Jogyakarta), bersama 14 mahasiswa lainnya mendirikan sebuah organisasi mahasiswa islam yang kemudian diberi nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Pada awal berdirinya organisasi ini bertujuan yakni yang pertama; Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Seiring waktu berjalan, tekad serta pengabdian terhadap umat dan bangsa, sekarang usia HMI telah memasuki 65 tahun, usia yang tentunya sudah cukup tua. Tentunya melewati berbagai fase-fase pergolakan serta perjuangan dan dinamika bangsa, hal tersebut tidaklah sedikit apa yang telah diperbuat oleh HMI selami ini. Dengan usia yang sekarang, mau kemanakah HMI hari ini?

HMI Sebagai Solusi Umat dan Bangsa

Founding Fathers bangsa kita mencita-citakan sebuah negara yang berkeadilan dan berkesejahteraan bagi segenap warga negara Indonesia. Hal itu kemudian menjadikan spirit perjuangan HMI sebagaimana yang tertuang dalam tujuan HMI, yakni Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT (Pasal 4 AD HMI).

Sebagai organisasi misi yang diartiakan sebuah organisasi yang membawa tugas, serta amanah untuk mewujudkan tujuan HMI, tentunya HMI akan menghadapi kondisi bangsa yang sekarang berada pada titik nadir, didalam setiap segi kehidupan, mulai dari segi politik, segi hukum, segi ekonomi, sampai segi sosial dan budaya.

Sementara diusianya yang telah menginjak ke 65 tahun, HMI dihadapkan juga dengan problem organisasi yang ada. Hal tersebut dapat terlihat dari kondisi tradisi intelektualitas yang semakin menurun. Hal ini terindikasi dengan gagalnya HMI mencetak pemikir-pemikir yang mumpuni, pasca pendahulunya seperti Bapak M. Dahlan Ranuwihardjo di era 50-an, Bapak Nurcholis Madjid yang dikenal dengan sebutan Cak Nur di era 70-an, sampai tokoh politik Bapak Akbar Tanjung.

Kemudian kader HMI juga seakan mendekat kepada kekuasan atau tren banyaknya kader HMI pula yang terlibat langsung dengan partai politik, inilah yang kemudian menciderai nilai-nilai independensi yang selama ini dibangun. Yang lebih dikenal dengan sebutan Independensi Etis yakni sikap yang selalu berpihak kepada kebenaran dan Independensi Organisatoris, yakni sikap dan perilaku yang senantiansa selalu berpartisipasi aktif dalam membangun bangsa dan negara, tentunya harus juga selalu tunduk dan patuh terhadap ketentuan organisasi. Serta menurunnya semangat perjuangan HMI, kepekaan dan pandangan HMI akan tatanan masyarakat yang ideal, yakni masyarakat yang adil dan makmur yang dicita-citakan bersama semakin membias.

Ini lebih disebabkan oleh beberapa hal yakni antara lain, kinerja pengurus HMI mulai dari tingkatan PB HMI, Badko HMI, Cabang, sampai tingkatan Komisariat-komisariat, kurang memperhatikan mekanisme organisasi yang tertuang dalam konstitusi HMI, serta pengawalan perkaderan yang semakin memudar.

Kemudian minimnya diskusi ataupun berbagai kajian ilmiah yang menunjang wawasan tentang ke-Islaman, ke-Indonesiaan, ke-Mahasiswaan. Ini yang membuat tradisi intelektual kalangan HMI menurun. Kader HMI juga sering menunjukan sikap pragmatis ketika dihadapkan dengan dinamika yang ditawarkan oleh kekuasaan. Serta budaya hidup mahasiwa yang semakin tidak seimbang yang mengakibatkan terjebak pada budaya hedonis dan materialis. Terakhir, banyaknya mahassiwa yang terjebak pada polemik bahkan konflik yang terjadi dalam internal HMI maupun terhadap pihak lain.

Adapun hal-hal yang perlu dilakukan oleh HMI sekarang yakni, yang pertama haruslah memperbaiki kinerja pengurus dari mulai tingkatan PB HMI sampai tingkatan Komisariat-komisariat, dengan harus menjalankan ketentuan-ketentuan organisasi serta visioner terhadap proses perkaderan. Kedua, kader HMI haruslah tidak puas terhadap kondisi yang ada dan selalu mencari kebenaran dengan selalu aktif di berbagai forum diskusi, kajian ilmiah ataupun mengikuti kegiatan tentor club study yang ada.

Ketiga, HMI harus kembali pada Khittah organisasi, yakni melaksanakn peran serta fungsi organisasi demi tercapainya tujuan HMI. Tentunya kesemua itu haruslah berpedoman pada Al Qur'an dan As Sunnah.

Dengan peringatan Milad HMI yang ke 65 Tahun, diharapkan output yang dihasilkan melalui proses yang dilaksanakan oleh HMI mulai dari Bassic Training (LK I), Intermediete Training (LK II), Advance Training (LK III) serta training-trainig non formal lainya menghasilkan kader yang berkualitas (disebut kualitas 5 Insan cita). Yakni Kualitas insan akademis, Kualitan insan pencipta, Kualitas insan pengabdi, Kualitas insan yang bernafaskan Islam, serta Kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat yang adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Semoga HMI tetap berguna bagi umat dan bangsa. Yakin Usaha Sampai, Bahagia HMI.

(Didi Kusaeri adalah Ketua Umum HMI Cabang Tegal Periode 2008-2009)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita