Rabu, 16/11/2011, 20:40:46
Hadapi Musim Hujan, Wilayah Potensi Bencana Diidentifikasi
TK-Takwo Heriyanto

Ilustrasi

PanturaNews (Brebes) – Menghadapi musim hujan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes, Jawa Tengah, telah mengidentifikasi segala potensi terhadap kemungkinan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor yang ada diwilayahnya.

Demikian disampaikan Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes, Supriyono, Rabu 16 November 2011.

Menurutnya, potensi kemungkinan bencana banjir terjadi di daerah hilir, atau daerah pantura, sedangkan pada daerah hulu, potensi bencana yang mungkin terjadi, yaitu tanah longsor, gempa, dan banjir bandang. Hal itu karena daerah hulu, yang sebagian besar terletak di wilayah Brebes selatan, memiliki topografi miring.

"Untuk menghadapi musim hujan ini, pemerintah juga telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat di wilayah-wilayah rawan bencana. Selain itu, BPBD Brebes juga telah menyiapkan sejumlah sarana dan prasarana penanganan bencana, antara laun empat perahu karet, eskavator atau alat berat, tiga tenda evakuasi, dapur umum, tempat evakuasi, dan kendaraan untuk mobilitas pendukung," terangnya.

Sementara, berdasarkan data Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Brebes, terdapat sekitar 64 desa di Brebes rawan longsor, serta 84 desa rawan banjir. Desa-desa rawan longsor terdapat di wilayah Brebes selatan, yang bertekstur pegunungan, yaitu Kecamatan Bumiayu, Ketanggungan, Bantarkawung, Larangan, Banjarharjo, Salem, Tonjong, Sirampog, dan Paguyangan.

Desa rawan banjir terutama terdapat di wilayah Brebes utara, yang merupakan dataran rendah dan berdekatan dengan Laut Jawa. Daerah-daerah itu meliputi Kecamatan Brebes, Wanasari, Tanjung, Losari, Bulakamba, Jatibarang, serta sebagian Brebes selatan, yaitu sebagian Bumiayu, Ketanggungan, Bantarkawung, Banjarharjo, Paguyangan, dan Larangan.

Ketua Tim SAR Kabupaten Brebes, Adhe Dani Raharjo mengatakan menghadapi penghujan, Tim SAR Brebes akan menambah personil dari 30 orang menjadi 55 orang. Rencananya pada pertengahan November ini, sebanyak 25 personil tambahan akan mendapatkan pelatihan.

Bahkan, lanjut Adhe, Tim SAR juga tengah mengumpulkan data jumlah warga yang tinggal di daerah rawan bencana. Data itu dibutuhkan untuk membantu memperlancar evakuasi, apabila terjadi bencana. Dengan demikian, jumlah korban akibat bencana tersebut bisa ditekan.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita