Mendiknas, Mohammad Nuh.
PanturaNews (Jakarta) - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menggelar Seminar Kebahasaan. Seminar dalam rangkaian kegiatan kebahasaan Majelis Bahasa Brunai Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim) digelar 20 hingga 25 Maret 2011 di Hotel Sahid Jaya, Jakarta.
Dalam sambutan pembukaan, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh mengemukakan, bahasa adalah kekayaan luar biasa yang bisa digunakan sebagai alat komunikasi, dan didalamnya ada cerminan karakter bangsa. Seminar bertema "Meningkatkan Peranan Bahasa Indonesia/Melayu dalam Penguatan Jati Diri Bangsa".
"Seminar ini adalah bagian untuk mempertahankan bahasa dan budaya agar tidak masuk pada wilayah keajalan (kemusnahan)," kata Mendiknas, Selasa 22 Maret 2011 malam.
Sementara Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendiknas, Agus Dharma mengatakan, ada kekhawatiran Bahasa Indonesia akan menghilang di tengah maraknya pengaruh penggunaan bahasa daerah dan bahasa asing.
"Kami khawatir jika tidak segera dikaji, dan dicari sumber-sumber untuk memperkaya kosakata, Bahasa Indonesia akan terpental," katanya seusai acara pembukaan.
Penekanan tema seminar pada jati diri bangsa, dimaksudkan untuk mencari upaya meningkatkan peranan bahasa Indonesia/Melayu dalam upaya memperkukuh jati diri bangsa. Jika tidak ditangani secara baik, jati diri bangsa akan bergeser dari akar budaya bangsa. Karakter bangsa dapat diwujudkan oleh cara berbahasa.
Dalam kesempatan tersebut, Agus juga menghimbau kepada para pejabat, petinggi negara dan tokoh masyarakat agar mengurangi atau bahkan menghilangkan sama sekali kebiasaan menggunakan bahasa asing dalam berbagai kesempatan. Karena dari segi ekonomi bahasa, itu sama sekali tidak menguntungkan.
"Kalau kita berbahasa Indonesia yang benar dan rapi, mencerminkan pikiran yang jernih. Kalau dicampur, ditekankan pun tidak menekankan, jadi untuk apa?," tandasnya.
Seminar diikuti 200 peserta yang terdiri atas guru, dosen, mahasiswa, peneliti, pakar bahasa, pakar bidang ilmu, peminat bahasa, dan aparat pemerintah. Adapun pemakalah yang tampil berasal dari Indonesia, Brunai Darussalam, dan Malaysia. (Humas Kemendiknas: Arif Budiman)