Minggu, 02/01/2011, 09:00:00
Bosan Menjadi Politisi, Kembangkan Bisnis Kuliner
JAY-Riyanto Jayeng

H. Ahmad Ghautsun S.Sos dengan Rumah Makan Bamboos Media Restauran dan Pemancingan saat Grand Opening.

PanturaNews (Tegal) - Tidak ada orang yang berhenti makan, kecuali orang mati. Demikian semboyan usaha H. Ahmad Ghautsun S.Sos dalam mengembangkan bisnis kuliner yang mulai dirintisnya sejak April 2009 lalu.

Sekelumit semboyan yang nampaknya sepele itu, benar-benar menjadi motto hidup bagi lelaki yang akrab disapa Jigo. Dia yang dulu dikenal sebagai politisi handal di percaturan politik di Kota dan Kabupaten Tegal, benar-benar banting setir ke bisnis kuliner.

Keputusannya untuk membuka rumah makan mendapat dukungan dari teman sejawat, rekan politisi, keluarga dan khususnya dari istri tercinta yang setia mendampinginya.

Jigo benar-benar piawai dalam memanfaatkan waktu luang dan ilmunya. Lelaki yang memilih mundur dari keanggotaan DPRD Kota Tegal pada tahun 2006 silam karena alasan prinsip itu, kini tak canggung lagi berbicara tentang menu dan jenis masakan. Dari mulai jenis masakan Indonesia sampai masakan ala China dan ala Eropa semua dipelajari dan diterapkan dalam menu keseharian Rumah Makannya yang berdiri asri di Jalan Raya Kagok, Pangkah , Kabupaten Tegal.

Dalam waktu yang tidak lama, Rumah Makan yang diberi nama Media Resto Café Net menjadi booming. Tidak hanya di kalangan pecinta makanan, akan tetapi hampir semua kalangan masyarakat membicarakannya dan mencoba masakannya.

Popularitas Media Resto Café Net terdongkrak bukan hanya lantaran pengelolanya adalah mantan politisi, tapi lebih dari itu. Rumah Makan yang memiliki jarak tempuh cuma setengah kilometer dari pusat Kota Slawi, Kabupaten Tegal itu, juga menyediakan menu khusus yakni Ayam Suki. Yaitu, daging ayam kampung yang dibuat masakan dengan dominasi bumbu Tauco dan Jahe.

Menurut keterangan Jigo, Suki berdasarkan kamus bahasa Jepang, mempunyai makna Suka dan menurut kamus bahasa Arab mempunyai makna Rindu. Jigopun sangat berharap kepada semua konsumen yang telah mencicipi masakan Ayam Suki itu menjadi suka, ketagihan dan rindu untuk mengulangi menikmatinya. Selain itu, Media Resto Café Net juga dilengkapi dengan fasilitas hotspot dan warung internet. Intinya, pelayanan ala restaurant dan tempat ala café.

Keuletan Ayah dari anak semata wayang yang pernah mengenyam pendidikan computer di Negara Bunga Sakura itu benar-benar membuahkan hasil. Dalam waktu singkat, Media Resto Café Net mengembangkan sayap. Tepat akhir tahun, 31 Desember 2010 kemarin, Jigo melangkah pasti dengan menyulap halaman belakang rumahnya menjadi arena pemancingan, plus restaurant yang diberi nama Bamboos Media Restauran dan Pemancingan.

Sebuah tempat nyaman untuk bersantai dengan nuansa natural serba terbuat dari bambu. Lokasi strategis untuk menikmati hidangan, sambil bercengkrama bersama relasi kerja maupun keluarga.

Di tempat yang berkapasitas 400 orang ini, Jigo memberikan fasilitas dan harga khusus bagi konsumen yang ingin memanfaatkan Bamboos Media Restauran dan Pemancingan, untuk penyelenggaraan pesta pernikahan ataupun pesta lainnya dengan kapasitas 1500 orang. Sebagai mantan politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sudah barang tentu Jigo menjaga kwalitas masakan dengan tetap menjamin kehalalannya. Jigo sangat jitu dalam membaca peluang, seperti kata selorohnya yang dia lontarkan di sela-sela grand opening Bamboos Media Restauran dan Pemancingan, 31 Desember 2010 malam kemarin, ”Meskipun matahari berhenti, lapar harus tetap teratasi,”.

Grand Opening Bamboos Media Restauran dan Pemancingan yang digelar beberapa jam menjelang pergtantian tahun itupun bertambah meriah dengan penampilan grup band Eksodus yang membawakan beberapa lagu pop Indonesia dan barat lawas. Perhelatan sederhana yang cukup mengesankan itu juga di isi dengan pertunjukan sulap dari pesulap handal Kota Tegal Bendrat dan Deepsty.

Acara yang dihadiri seratus lebih tamu undangan itupun, dimerihkan dengan pembacaan puisi tegalan yang dibawakan oleh Apito Lahire dengan puisi berjudul ‘Jontrot’, Mi’roj Adhika dengan puisi berjudul ‘Kedanan’ dan Jay Jaladara dengan puisi berjudul ‘Asu’. Jay Jaladara juga didaulat untuk membacakan puisi karya Jigo yang berjudul ‘Kowen Donge Sapa’.

Acara ditutup selepas pukul 00.00 dengan pembacaan do’a, dan penyampaian harapan dari Jigo yang disampaikan oleh manajer pengelola usahanya.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita